Harga Pangan 20 Agustus 2026: Mayoritas Komoditas Turun, Cabai Rawit Naik

Harga Pangan 20 Agustus 2026: Mayoritas Komoditas Turun, Cabai Rawit Naik

Harga Pangan 20 Agustus 2026: Mayoritas Turun, Cabai Rawit Merah Justru Naik

Harga sejumlah bahan pangan di Indonesia mengalami penurunan pada Kamis, 20 Agustus 2026. Penurunan terlihat pada beberapa komoditas utama, mulai dari cabai, daging, hingga telur ayam.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dipantau pada Kamis (20/8/2026), harga cabai merah besar turun cukup signifikan dibandingkan harga sebelumnya. Komoditas tersebut kini berada di level Rp44.950 per kilogram (kg), dari sebelumnya Rp49.250 per kg.

Harga cabai merah keriting juga tercatat menurun menjadi Rp48.550 per kg. Namun, tidak semua jenis cabai mengalami penurunan. Harga cabai rawit merah justru bergerak naik menjadi Rp69.450 per kg dari sebelumnya Rp67.350 per kg.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasokan pangan masih menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi harga di tingkat konsumen. Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan produksi, distribusi, cuaca, serta permintaan masyarakat.

Harga Cabai dan Bawang

Untuk kelompok cabai dan bawang, harga yang tercatat pada Kamis (20/8/2026) adalah sebagai berikut:

  • Cabai rawit merah: Rp69.450 per kg
  • Cabai rawit hijau: Rp51.400 per kg
  • Cabai merah besar: Rp44.950 per kg
  • Cabai merah keriting: Rp48.550 per kg
  • Bawang merah: Rp40.050 per kg
  • Bawang putih: Rp40.800 per kg

Harga cabai rawit merah menjadi salah satu perhatian karena bergerak berlawanan dengan sejumlah komoditas hortikultura lainnya. Dengan harga Rp69.450 per kg, cabai rawit merah juga masih menjadi salah satu komoditas yang relatif mahal dibandingkan jenis cabai merah besar.

Sementara itu, bawang merah tercatat berada di level Rp40.050 per kg dan bawang putih Rp40.800 per kg.

Perbedaan arah pergerakan harga antarjenis komoditas dapat terjadi karena masing-masing memiliki kondisi produksi dan distribusi yang berbeda. Ketersediaan stok di sentra produksi serta kelancaran distribusi ke berbagai daerah juga dapat memengaruhi harga yang diterima konsumen.

Harga Daging dan Telur

Tidak hanya komoditas hortikultura, harga bahan pangan sumber protein juga mayoritas berada dalam kondisi yang relatif terkendali.

Data PIHPS menunjukkan harga daging sapi kualitas I berada di level Rp147.150 per kg, sedangkan daging sapi kualitas II dipasarkan sekitar Rp142.450 per kg.

Sementara itu, harga daging ayam ras segar tercatat sebesar Rp38.300 per kg. Harga telur ayam ras segar juga berada di level Rp27.800 per kg.

Rincian harga bahan pangan protein tersebut antara lain:

  • Daging sapi kualitas I: Rp147.150 per kg
  • Daging sapi kualitas II: Rp142.450 per kg
  • Daging ayam ras segar: Rp38.300 per kg
  • Telur ayam ras segar: Rp27.800 per kg

Pergerakan harga daging ayam dan telur menjadi penting karena kedua komoditas tersebut merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat. Stabilitas harga komoditas tersebut turut berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga.

Harga Pangan Dipengaruhi Kondisi Pasokan

Pergerakan harga pangan tidak terlepas dari kondisi produksi dan distribusi. Untuk komoditas hortikultura, perubahan pasokan dari sentra produksi dapat dengan cepat memengaruhi harga di pasar.

Cabai, misalnya, merupakan salah satu komoditas yang memiliki tingkat volatilitas cukup tinggi. Ketika pasokan meningkat akibat panen, harga dapat mengalami penurunan. Sebaliknya, gangguan produksi maupun distribusi dapat mendorong harga naik.

Kondisi cuaca juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Curah hujan, kekeringan, hingga potensi fenomena El Nino dapat memengaruhi produktivitas tanaman pangan dan hortikultura.

Karena itu, meskipun harga pangan pada saat ini cenderung turun, pemerintah dan otoritas terkait tetap perlu mengantisipasi potensi perubahan harga pada periode berikutnya.

BI Waspadai Risiko Inflasi Pangan

Bank Indonesia (BI) juga masih mewaspadai risiko inflasi yang berasal dari kelompok pangan, meskipun tekanan inflasi secara umum berada dalam kondisi yang terkendali.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34% yoy.

Penurunan inflasi tersebut antara lain didukung oleh perkembangan harga kelompok volatile food atau komponen pangan bergejolak.

Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan inflasi volatile food pada Juli 2026 melambat menjadi 2,52% yoy. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan sejumlah komoditas hortikultura, termasuk cabai dan bawang merah.

“Inflasi volatile food melambat menjadi 2,52% year-on-year dipengaruhi oleh panen komoditas hortikultura, aneka cabai, dan bawang merah,” kata Destry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang disiarkan secara daring, Rabu (19/8/2026).

Kondisi pasokan yang lebih baik membantu menahan tekanan harga pangan dan pada akhirnya turut menjaga inflasi umum tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia.

Inflasi Inti dan Harga yang Diatur Pemerintah

Selain volatile food, BI mencatat inflasi inti pada Juli 2026 tetap terkendali di level 2,76% yoy.

Sementara itu, inflasi administered prices atau kelompok harga yang diatur pemerintah tercatat sebesar 3,58% yoy. Perkembangan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Inflasi yang masih berada dalam sasaran menjadi salah satu indikator penting bagi daya beli masyarakat. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat secara signifikan, pengeluaran rumah tangga dapat ikut bertambah sehingga ruang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lainnya menjadi lebih terbatas.

Sebaliknya, stabilitas harga pangan dapat membantu menjaga daya beli, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki porsi pengeluaran makanan cukup besar dalam total konsumsi rumah tangga.

BI Perkuat Pengendalian Harga Pangan

Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Koordinasi tersebut penting karena persoalan harga pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga distribusi antarwilayah.

BI juga terus mendorong implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

“Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera atau GPIPS guna menahan inflasi pangan,” ujar Destry.

Melalui koordinasi tersebut, pemerintah dan BI berupaya memastikan ketersediaan pasokan pangan tetap terjaga, terutama ketika terdapat risiko gangguan produksi akibat faktor cuaca.

Risiko Cuaca Tetap Menjadi Perhatian

Meskipun harga sejumlah komoditas mengalami penurunan, risiko gangguan cuaca tetap menjadi perhatian ke depan.

Fenomena cuaca ekstrem dapat memengaruhi produktivitas pertanian sekaligus mengganggu jalur distribusi. Apabila produksi menurun sementara permintaan masyarakat tetap tinggi, tekanan terhadap harga dapat kembali meningkat.

Untuk itu, langkah antisipasi perlu dilakukan tidak hanya ketika harga sudah mengalami kenaikan. Pemerintah perlu menjaga kecukupan pasokan, memperlancar distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi, serta memastikan koordinasi antarwilayah berjalan dengan baik.

Dengan kondisi tersebut, penurunan harga sejumlah bahan pangan pada 20 Agustus 2026 menjadi perkembangan positif bagi konsumen. Namun, pergerakan harga cabai rawit merah yang masih meningkat menunjukkan bahwa tekanan pada komoditas tertentu tetap perlu diperhatikan.

Rincian Harga Pangan 20 Agustus 2026

Komoditas

Harga

Cabai rawit merah

Rp69.450/kg

Cabai rawit hijau

Rp51.400/kg

Cabai merah besar

Rp44.950/kg

Cabai merah keriting

Rp48.550/kg

Bawang merah

Rp40.050/kg

Bawang putih

Rp40.800/kg

Daging sapi kualitas I

Rp147.150/kg

Daging sapi kualitas II

Rp142.450/kg

Daging ayam ras segar

Rp38.300/kg

Telur ayam ras segar

Rp27.800/kg

Secara keseluruhan, perkembangan harga pangan pada Kamis (20/8/2026) menunjukkan kondisi yang cukup beragam. Mayoritas komoditas yang dipantau mengalami penurunan atau berada dalam kondisi relatif stabil, tetapi cabai rawit merah masih mencatat kenaikan.

Ke depan, perkembangan pasokan hortikultura, kondisi cuaca, kelancaran distribusi, serta kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga pangan. Stabilitas komoditas pangan juga akan tetap menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan inflasi dan daya beli masyarakat.