Kredit Mobil Listrik BCA Finance Tumbuh 15%, Minat EV Makin Tinggi
Pembiayaan EV BCA Finance Melonjak, Porsinya Tembus 15% di 2026
PT BCA Finance mencatat pertumbuhan signifikan pada pembiayaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sepanjang 2026. Porsi pembiayaan EV kini telah mencapai sekitar 15% dari total pembiayaan kendaraan, atau meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 7%.
Presiden Direktur BCA Finance, Petrus Karim, mengatakan pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik saat ini jauh lebih cepat dibandingkan kendaraan bermotor konvensional yang menggunakan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
Menurut Petrus, peningkatan tersebut tidak terlepas dari semakin banyaknya pilihan kendaraan listrik yang tersedia di pasar Indonesia. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dari sisi merek, model, harga, hingga jenis kendaraan.
“Kalau tahun sebelumnya kita baru mulai untuk EV, kita baru ada sekitar 7%. Tahun ini sudah 15%-an kurang lebih begitu,” ujar Petrus dalam konferensi pers BCA Expo, Rabu (19/8/2026).
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik mulai menjadi bagian penting dalam portofolio pembiayaan perusahaan. Pergeseran ini juga mencerminkan perubahan preferensi konsumen Indonesia yang semakin terbuka terhadap kendaraan dengan teknologi elektrifikasi.
Pembiayaan EV Tumbuh Lebih Cepat dari Mobil Konvensional
Petrus menjelaskan, pertumbuhan pembiayaan EV saat ini lebih kencang dibandingkan pembiayaan kendaraan berbasis BBM. Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan pasar otomotif nasional yang mulai mengalami perubahan komposisi.
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan adalah semakin beragamnya produk EV. Jika beberapa tahun lalu konsumen hanya memiliki pilihan terbatas, kini pasar Indonesia telah diisi berbagai merek dan model, termasuk kendaraan listrik dari produsen China maupun merek global lainnya.
Data industri juga memperlihatkan tren serupa. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan battery electric vehicle (BEV) secara wholesale mencapai sekitar 12,6 ribu unit pada Juni 2026. Angka tersebut meningkat 36% dibandingkan Mei dan melonjak 84% dibandingkan Juni 2025.
Pada Juni 2026, BYD menjadi salah satu kontributor terbesar dengan sekitar 3,4 ribu unit, diikuti Jaecoo sekitar 3 ribu unit, Geely 1,9 ribu unit, dan Wuling 1,3 ribu unit. Empat merek tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 77% penjualan wholesale BEV pada bulan tersebut.
Pertumbuhan ini semakin memperlihatkan bahwa kendaraan listrik bukan lagi sekadar segmen tambahan dalam industri otomotif, tetapi mulai menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru.
GAIKINDO sebelumnya mencatat pangsa BEV dalam pasar mobil nasional meningkat dari hanya 0,1% pada 2021 menjadi 12,9% pada akhir 2025. Pada Maret 2026, pangsa tersebut kembali meningkat menjadi sekitar 15,6%. Pada saat yang sama, kontribusi mobil ICE turun menjadi sekitar 75%.
Pilihan Model EV Semakin Banyak
Pertumbuhan pasar EV juga didukung oleh semakin agresifnya produsen memperkenalkan model baru. Kondisi ini membuat konsumen tidak lagi hanya melihat EV sebagai kendaraan premium dengan harga tinggi.
Pada April 2026, misalnya, penjualan wholesale mobil listrik mencapai 14.815 unit, naik 42,53% dibandingkan Maret yang mencapai 10.394 unit. Sejumlah model dari produsen China mendominasi daftar kendaraan listrik terlaris, termasuk Jaecoo J5, BYD M6, BYD Sealion 07, Geely EX2, dan Denza D9.
Semakin banyaknya model juga membuat perusahaan pembiayaan memiliki pasar yang lebih luas. Konsumen yang sebelumnya kesulitan menemukan EV sesuai kebutuhan kini dapat memilih dari berbagai kategori, mulai dari city car, SUV, MPV hingga kendaraan listrik premium.
Bagi perusahaan pembiayaan, kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperluas portofolio sekaligus menangkap perubahan pola konsumsi masyarakat.
BCA Juga Dorong Pembiayaan Berkelanjutan
Tren tersebut sejalan dengan strategi pembiayaan berkelanjutan di lingkungan BCA. BCA mencatat pembiayaan kendaraan listrik pada 2025 mencapai sekitar Rp3,609 triliun, meningkat sekitar 53,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Artinya, pertumbuhan EV tidak hanya terlihat pada sisi penjualan kendaraan, tetapi juga mulai tercermin dalam industri pembiayaan.
BCA juga memasukkan pembiayaan kendaraan listrik sebagai bagian dari pembiayaan kegiatan usaha berwawasan lingkungan. Langkah ini sejalan dengan kebutuhan untuk mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Bagi konsumen, ketersediaan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting karena harga kendaraan listrik masih menjadi pertimbangan utama ketika menentukan pembelian.
BCA Finance Siapkan Skema Pembiayaan Kendaraan
Di sisi lain, pembiayaan kendaraan tetap menjadi salah satu bisnis utama BCA Finance. Perusahaan menawarkan pembiayaan kendaraan roda empat atau lebih, baik untuk kendaraan baru maupun bekas, dengan sejumlah pilihan tenor.
Dalam informasi produk yang tersedia saat ini, BCA Finance menawarkan tenor reguler 1-4 tahun, skema Fix and Cap hingga 5-6 tahun, serta produk Mini For Max yang dapat memberikan angsuran lebih ringan melalui pengaturan nilai sisa pokok pembiayaan.
Semakin besarnya porsi EV dalam portofolio pembiayaan menunjukkan bahwa perusahaan pembiayaan juga harus beradaptasi dengan karakteristik kendaraan listrik, termasuk harga kendaraan, nilai jual kembali, perkembangan teknologi baterai, serta risiko perubahan teknologi yang relatif cepat.
Industri Pembiayaan EV Ikut Mengalami Pertumbuhan
Lonjakan pembiayaan EV di BCA Finance juga terjadi di tengah pertumbuhan industri pembiayaan kendaraan listrik secara nasional.
Berdasarkan data yang dikutip dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan kendaraan listrik di industri multifinance telah mencapai sekitar Rp24,6 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 34,7% secara tahunan. (InvestorTrust)
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap EV mulai memberikan dampak yang lebih luas terhadap industri keuangan.
Dengan meningkatnya jumlah konsumen EV, perusahaan pembiayaan memiliki peluang untuk memperluas portofolio, sementara produsen kendaraan mendapatkan alternatif pembiayaan yang dapat membantu konsumen membeli kendaraan listrik.
Namun, pertumbuhan tersebut juga membutuhkan manajemen risiko yang lebih matang. Perusahaan pembiayaan harus mempertimbangkan perkembangan teknologi baterai, harga kendaraan, nilai residu, ketersediaan suku cadang, hingga kemampuan konsumen dalam membayar cicilan.
Program Motor Listrik Nasional Jadi Perhatian
Selain perkembangan mobil listrik, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan Program Motor Listrik Nasional (Molinas).
Program Molinas resmi diluncurkan pada 13 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kendaraan listrik nasional. Pemerintah menempatkan pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menekankan pentingnya konversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik. Pemerintah melihat elektrifikasi kendaraan sebagai salah satu cara untuk mengurangi konsumsi BBM impor sekaligus menghemat devisa.
Program tersebut berpotensi membuka pasar baru bagi industri otomotif, produsen komponen, perusahaan teknologi, hingga sektor pembiayaan.
Namun, BCA Finance belum menentukan strategi khusus terkait Molinas.
BCA Finance Masih Mengkaji Molinas
Petrus mengatakan BCA Finance masih mempelajari kebijakan Molinas sebelum menentukan langkah lebih lanjut.
“Untuk Molinas, kami belum bisa berkomentar apa-apa karena ini masih minggu baru. Kami masih mempelajari. Yang pasti, BCA sebagai bank yang cukup besar pasti akan mendukung program-program pemerintah,” ujarnya.
Menurut Petrus, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada perusahaan pembiayaan. Produsen kendaraan juga memegang peranan penting dalam memastikan ketersediaan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Ini tidak hanya tergantung kita, tetapi tergantung produsen. Ada sisi produsen kendaraannya,” kata Petrus.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan hanyalah salah satu bagian dari ekosistem kendaraan listrik. Agar adopsi EV semakin luas, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, produsen, lembaga pembiayaan, perbankan, perusahaan teknologi, hingga penyedia infrastruktur pengisian daya.
Tantangan Infrastruktur dan Harga Masih Jadi Perhatian
Meski pertumbuhan EV cukup pesat, industri kendaraan listrik Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah infrastruktur pengisian daya. Pertumbuhan jumlah kendaraan listrik harus diikuti dengan peningkatan ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik sehingga konsumen tidak khawatir mengenai jarak tempuh.
Selain itu, harga kendaraan juga tetap menjadi faktor penting. Meskipun harga EV semakin kompetitif, sebagian konsumen masih mempertimbangkan harga awal pembelian yang relatif tinggi dibandingkan beberapa model kendaraan ICE.
Di sisi lain, perkembangan teknologi baterai yang cepat juga dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap nilai kendaraan dalam jangka panjang.
Karena itu, perusahaan pembiayaan perlu memastikan skema kredit yang ditawarkan tetap menarik sekaligus mampu mengantisipasi risiko nilai kendaraan di masa depan.
Prospek Pembiayaan EV Semakin Menjanjikan
Dengan pangsa pembiayaan EV BCA Finance yang telah meningkat dari sekitar 7% menjadi 15%, kendaraan listrik semakin jelas menjadi salah satu segmen penting bagi industri pembiayaan.
Pertumbuhan penjualan BEV nasional, bertambahnya pilihan model, masuknya lebih banyak produsen, serta dukungan pemerintah terhadap ekosistem kendaraan listrik menjadi faktor yang berpotensi menjaga tren tersebut.
BCA Finance sendiri melihat pertumbuhan EV sebagai bagian dari perubahan struktural industri otomotif. Jika tren penjualan dan adopsi kendaraan listrik terus meningkat, porsi EV dalam portofolio pembiayaan perusahaan berpeluang kembali bertambah.
Di sisi lain, peluncuran Molinas dapat menjadi katalis tambahan apabila program tersebut mampu memperkuat sisi produksi, memperluas pilihan kendaraan, meningkatkan infrastruktur, dan membuat pembiayaan kendaraan listrik semakin mudah dijangkau masyarakat.
Dengan demikian, kenaikan porsi pembiayaan EV BCA Finance menjadi 15% bukan hanya menunjukkan peningkatan minat terhadap kendaraan listrik, tetapi juga menjadi gambaran bahwa pergeseran dari kendaraan ICE menuju kendaraan elektrifikasi mulai semakin terasa di pasar otomotif dan sektor pembiayaan Indonesia.
0 Comments