Harga Pangan Hari Ini, 12 Januari 2026: Cabai Rawit Merah dan Beras Sama-sama Turun
Harga Sejumlah Pangan Turun di Awal Pekan, Cabai dan Bawang Merah Ikut Melemah
Mengawali pekan kedua Januari 2026, pergerakan harga pangan nasional menunjukkan tren penurunan pada sejumlah komoditas utama. Harga cabai rawit merah tercatat mengalami penurunan cukup signifikan sebesar Rp3.980 menjadi Rp49.984 per kilogram (kg). Sementara itu, harga bawang merah juga melemah Rp1.688 menjadi Rp42.219 per kg pada Senin (12/1/2026).
Penurunan harga tersebut menjadi angin segar bagi konsumen, terutama setelah fluktuasi harga pangan yang cukup tinggi sepanjang akhir 2025. Namun, bagaimana dengan harga pangan lainnya, termasuk beras yang menjadi komoditas pokok mayoritas masyarakat Indonesia?
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang dikutip dari Antara pada Senin pukul 09.25 WIB, sebagian besar harga pangan di tingkat konsumen secara nasional memang bergerak turun, meski beberapa komoditas masih mengalami kenaikan terbatas.
Harga Beras Kompak Melemah
Harga beras di berbagai kategori tercatat mengalami penurunan tipis. Beras premium berada di level Rp15.384 per kg atau turun Rp152 dibandingkan hari sebelumnya. Beras medium dijual seharga Rp13.609 per kg, turun Rp145. Adapun beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berada di Rp12.408 per kg, melemah Rp69.
Sementara itu, beras khusus lokal juga tercatat turun Rp219 menjadi Rp15.569 per kg. Penurunan harga beras ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah menjaga pasokan melalui distribusi cadangan beras pemerintah (CBP) serta penguatan stok di awal tahun.
Jagung Naik, Kedelai dan Bawang Putih Turun
Di sisi lain, harga jagung tingkat peternak justru mengalami kenaikan sebesar Rp235 menjadi Rp6.814 per kg. Kenaikan ini diduga berkaitan dengan permintaan dari sektor peternakan yang masih cukup tinggi, terutama untuk pakan ternak.
Sebaliknya, kedelai biji kering impor mengalami penurunan harga Rp110 menjadi Rp10.772 per kg. Harga bawang putih bonggol juga melemah Rp618 ke posisi Rp38.107 per kg.
Untuk komoditas cabai lainnya, cabai merah keriting tercatat turun Rp3.031 menjadi Rp37.908 per kg, sedangkan cabai merah besar mengalami koreksi lebih dalam sebesar Rp5.125 menjadi Rp33.907 per kg.
Harga Protein Hewani Bervariasi
Harga daging sapi murni justru naik tipis Rp459 menjadi Rp136.221 per kg. Sementara itu, daging ayam ras turun Rp784 menjadi Rp38.536 per kg dan telur ayam ras melemah Rp410 menjadi Rp30.755 per kg.
Penurunan harga ayam dan telur dinilai mencerminkan pasokan yang relatif mencukupi di tingkat peternak, meskipun permintaan belum sepenuhnya pulih pasca libur panjang akhir tahun.
Adapun harga gula konsumsi tercatat Rp17.977 per kg atau turun Rp82 dari hari sebelumnya.
Minyak Goreng Ikut Melemah
Harga minyak goreng juga menunjukkan tren penurunan. Minyak goreng kemasan berada di level Rp20.666 per liter, turun Rp293. Minyak goreng curah turun Rp417 menjadi Rp17.205 per liter. Sementara Minyakita tercatat turun Rp319 menjadi Rp17.349 per liter.
Penurunan harga minyak goreng ini dinilai sejalan dengan kelancaran distribusi serta pengawasan pemerintah terhadap pasokan dan harga di pasar tradisional.
Harga Pangan Lainnya
Untuk komoditas tepung terigu, harga tepung terigu curah turun Rp265 menjadi Rp9.469 per kg. Sebaliknya, tepung terigu kemasan justru naik tipis Rp12 menjadi Rp12.948 per kg.
Harga ikan juga bergerak variatif. Ikan kembung tercatat Rp44.537 per kg atau naik Rp17. Ikan tongkol turun Rp658 menjadi Rp36.204 per kg, sementara ikan bandeng melemah Rp304 menjadi Rp35.892 per kg.
Harga garam konsumsi berada di Rp11.252 per kg, turun Rp272 dari hari sebelumnya. Selain itu, harga daging kerbau beku impor tercatat Rp106.698 per kg, turun Rp2.303. Sedangkan daging kerbau segar lokal turun Rp2.014 menjadi Rp138.947 per kg.
Waspada Cuaca Ekstrem, Harga Pangan Berpotensi Naik Jelang Ramadan 2026
Meski saat ini tren harga pangan relatif terkendali, risiko kenaikan harga tetap membayangi dalam beberapa bulan ke depan. Cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga Maret 2026 berpotensi mengganggu produksi pertanian nasional, khususnya komoditas hortikultura dan padi.
Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, menilai cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko gagal panen yang berujung pada penurunan stok pangan.
“Setiap momen hari raya, permintaan pangan cenderung meningkat. Tahun lalu, kenaikan permintaan rata-rata mencapai 7 persen dan sering kali diikuti lonjakan harga yang memicu inflasi,” ujar Said saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (7/1/2026).
Ia menekankan pentingnya langkah antisipatif pemerintah menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Curah hujan tinggi berpotensi meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman, terutama pada sektor hortikultura dan padi yang menjadi penopang utama pangan nasional.
Selain itu, produksi hortikultura yang masih terkonsentrasi di wilayah tertentu membuat pasokan nasional rentan terganggu jika daerah sentra produksi terdampak cuaca ekstrem. Kondisi ini berisiko menimbulkan kelangkaan pasok dan mendorong kenaikan harga, khususnya menjelang Ramadan 2026 saat permintaan pangan meningkat tajam.
Dengan demikian, stabilitas harga pangan ke depan akan sangat bergantung pada pengelolaan stok, kelancaran distribusi, serta kesiapan pemerintah dan pelaku usaha dalam menghadapi tantangan iklim dan lonjakan permintaan musiman.
0 Comments