Keputusan Pendiri Bankless Menjual Ethereum Jadi Sorotan, Data On-Chain Ungkap Temuannya

Keputusan Pendiri Bankless Menjual Ethereum Jadi Sorotan, Data On-Chain Ungkap Temuannya

Pendiri Bankless Jual Ethereum, Data On-Chain Dinilai Mendukung Keputusannya

Pendiri bersama Bankless, David Hoffman, memutuskan untuk menjual kepemilikan Ethereum (ETH) miliknya. Ia berpendapat bahwa narasi “ETH sebagai uang” (ETH is money) telah mencapai puncaknya dan tidak lagi menawarkan potensi pertumbuhan yang besar.

Menurut Hoffman, tesis tersebut sejak awal merupakan taruhan yang cukup berisiko karena mengharuskan seluruh lapisan ekosistem Ethereum mampu mengungguli para pesaingnya. Namun, menurutnya, target tersebut tidak tercapai.

Meski telah melepas ETH, Hoffman menegaskan bahwa ia masih optimistis terhadap perkembangan jaringan Ethereum. Namun, ia tidak lagi melihat adanya faktor yang dapat mendorong kenaikan valuasi ETH secara signifikan. Menurutnya, nilai ekonomi yang tercipta di ekosistem Ethereum kini lebih banyak mengalir ke solusi Layer-2 (L2) dan berbagai aplikasi, bukan langsung ke token ETH.

Keputusan tersebut memicu perdebatan di kalangan komunitas kripto. Sebagai salah satu pendukung Ethereum paling vokal dalam beberapa tahun terakhir, langkah Hoffman mengejutkan banyak investor. Sebagian pihak menilai narasi ETH memang mulai kehilangan daya tarik, sementara yang lain tetap melihat ETH sebagai aset yang masih memiliki potensi besar di era Web3.

Aktivitas Jaringan Ethereum Terus Menurun

Data on-chain dari Santiment menunjukkan jumlah alamat aktif harian di jaringan Ethereum terus menurun sejak awal Februari. Setelah sempat mencapai lebih dari 1,5 juta alamat pada Januari, jumlahnya kini turun menjadi sekitar 544.000 alamat.

Penurunan aktivitas tersebut sejalan dengan pelemahan harga ETH yang turun dari level di atas US$3.400 pada Desember lalu menjadi sekitar US$1.975 saat ini.

Hoffman berpendapat bahwa nilai aset blockchain Layer-1 pada akhirnya ditentukan oleh aktivitas jaringan, biaya transaksi, dan pendapatan yang dihasilkan. Ketika pengguna semakin sedikit bertransaksi di jaringan utama, potensi pertumbuhan nilai token juga ikut berkurang.

Ia menyoroti keberhasilan blockchain lain seperti Solana, NEAR, BNB Chain, dan TRON yang dinilai mampu mempertahankan kekuatan token mereka karena memiliki pangsa pendapatan dan aktivitas jaringan yang lebih besar. Menurutnya, Ethereum telah kehilangan sebagian keunggulan tersebut selama 2024 dan 2025.

Agar sentimen pasar kembali membaik, jumlah alamat aktif Ethereum perlu kembali meningkat hingga di atas satu juta alamat dalam rata-rata 30 hari. Selama kondisi tersebut belum tercapai, data on-chain masih mencerminkan tekanan bearish terhadap ETH.

Pasokan ETH di Bursa Kembali Meningkat

Sinyal lain datang dari jumlah ETH yang tersimpan di bursa kripto. Pada akhir Januari hingga April, saldo ETH di berbagai bursa turun dari sekitar 8,5 juta ETH menjadi 7 juta ETH. Penurunan ini sebelumnya dianggap sebagai tanda akumulasi oleh investor.

Namun, tren tersebut berubah pada Mei. Pasokan ETH di bursa kembali naik menjadi sekitar 7,5 juta ETH dan bertahan di level tersebut. Dalam analisis on-chain, peningkatan jumlah aset yang masuk ke bursa sering diartikan sebagai indikasi bahwa investor sedang bersiap untuk menjual.

Meski peningkatannya tidak terlalu besar, perubahan arah ini dinilai penting karena terjadi bersamaan dengan penurunan aktivitas jaringan dan pelemahan harga ETH.

Menurut Hoffman, kondisi tersebut sejalan dengan pandangannya bahwa Ethereum secara struktural lebih banyak mendistribusikan nilai ke berbagai aplikasi dan jaringan Layer-2 dibandingkan mengonsolidasikannya ke token ETH.

Analisis Harga ETH: Support Penting di US$1.920

Dari sisi teknikal, ETH masih bergerak dalam pola tren menurun sejak akhir April. Saat ini harga berada di kisaran US$1.978 dan mendekati area support penting di sekitar US$1.920.

Jika level tersebut mampu bertahan, ETH berpotensi mengalami pemantulan harga (rebound) dalam jangka pendek. Namun, jika support tersebut ditembus, harga berisiko turun lebih lanjut menuju area US$1.750, yang merupakan salah satu titik terendah sebelumnya.

Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari sudah mendekati area oversold atau jenuh jual. Secara historis, kondisi ini sering memicu reli jangka pendek pada ETH, meskipun belum tentu mengubah tren utama yang masih cenderung bearish.

Untuk membalikkan sentimen menjadi bullish, ETH perlu kembali menembus dan ditutup di atas level US$2.140. Jika berhasil, peluang kenaikan menuju area US$2.382 akan kembali terbuka.

Untuk saat ini, kombinasi antara melemahnya aktivitas jaringan, meningkatnya pasokan ETH di bursa, dan pandangan bearish dari David Hoffman menjadi faktor yang terus membebani pergerakan harga Ethereum. Selama belum ada perubahan signifikan pada indikator-indikator tersebut, tekanan terhadap ETH diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.