Kisah Perawat Bangun Usaha Sampingan, Raup Omzet Rp 22 Miliar
Bisnis Sampingan Perawat Anestesi Raup Rp 22,3 Miliar, Hanya Dikelola Sehari dalam Sepekan
Bisnis sampingan milik seorang perawat anestesi asal Oklahoma, Amerika Serikat, Mike O’Dell (50), berhasil mencatat penjualan daring sebesar US$1,25 juta atau sekitar Rp22,3 miliar (asumsi kurs Rp17.918 per dolar AS) sepanjang 2024. Menariknya, O’Dell hanya menghabiskan sekitar satu hari dalam sepekan untuk mengelola usahanya.
Melansir CNBC Make It, Jumat (7/8/2026), O’Dell masih bekerja penuh waktu sebagai perawat anestesi selama sekitar 40 jam per minggu. Dalam pekerjaannya, ia harus berada di ruang operasi dengan jadwal yang padat dan tidak bisa meninggalkan posnya begitu saja, bahkan untuk makan siang, minum, atau pergi ke kamar kecil tanpa ada rekan yang menggantikannya.
Sebaliknya, ketika mengurus bisnis sampingannya bernama Legit Kits, ritme kerjanya jauh lebih fleksibel. Ia bisa memulai hari dengan menikmati kopi di teras rumah, mengantar anaknya ke sekolah, berolahraga di pusat kebugaran, baru kemudian mengerjakan berbagai keputusan penting terkait bisnis.
“Saya bisa sarapan, saya bisa pergi ke gym. Saya yang mengatur jadwal sendiri,” kata O’Dell.
Meski hanya bekerja satu hari dalam seminggu untuk bisnisnya, O’Dell tetap memantau perkembangan perusahaan melalui komunikasi rutin dengan timnya. Ia menilai sistem kerja yang telah dibangun memungkinkan perusahaan tetap berjalan tanpa harus bergantung pada kehadirannya setiap hari.
Berawal dari Hobi Menjahit Selimut Star Wars
Kesuksesan Legit Kits bermula dari hobi yang tidak disengaja. Pada 2020, O’Dell membuat dua selimut bertema Star Wars untuk kedua putranya. Untuk menghasilkan desain yang rumit, ia menggambar pola sendiri dan menjahit kain pada lembaran kertas berukuran sekitar 152 x 198 sentimeter menggunakan teknik foundation paper piecing.
Teknik tersebut merupakan metode quilting yang menggunakan pola kertas sebagai panduan sehingga menghasilkan potongan kain yang lebih presisi. Menurut O’Dell, metode ini membuat proses quilting menjadi lebih mudah sekaligus mampu menghasilkan desain yang jauh lebih kompleks dibanding teknik konvensional.
Melihat antusiasme komunitas quilting terhadap pola buatannya, ia mulai menjual kit lengkap yang berisi pola, kain yang telah dipotong, serta panduan pembuatan selimut. Produk tersebut mendapat sambutan positif dari para penggemar quilting di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Permintaan yang terus meningkat mendorong O’Dell mendirikan Legit Kits sebagai bisnis resmi pada 2020.
Sengaja Dibangun agar Tetap Berjalan Tanpa Pendirinya
Berbeda dengan banyak pemilik usaha kecil yang terlibat langsung dalam operasional harian, O’Dell justru sejak awal merancang Legit Kits agar dapat berjalan tanpa dirinya.
Ia memilih tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai perawat anestesi yang menghasilkan sekitar US$240.000 atau sekitar Rp4,2 miliar per tahun. Pendapatan tetap tersebut memberinya rasa aman sehingga ia tidak perlu mengambil keputusan bisnis secara terburu-buru hanya demi memenuhi kebutuhan pribadi.
Untuk menjalankan perusahaan, O’Dell merekrut dua desainer grafis yang bertugas membuat ilustrasi dan pola quilting, sementara karyawan lainnya menangani pemotongan kain, pengemasan, pengiriman pesanan, hingga layanan pelanggan.
Saat ini Legit Kits memiliki tujuh karyawan tetap dan empat desainer lepas. Seluruh tim tersebut menangani sebagian besar operasional perusahaan sehingga O’Dell hanya fokus pada pengembangan produk, pemasaran, pemilihan kombinasi warna, serta strategi bisnis.
Menurut dokumen yang ditinjau CNBC Make It, penjualan daring Legit Kits mencapai sekitar US$1,25 juta atau Rp22,3 miliar sepanjang 2024. Selain itu, perusahaan juga memperoleh sekitar US$150.000 atau Rp2,68 miliar dari penjualan melalui jaringan toko Joann Fabrics and Crafts sebelum perusahaan ritel tersebut mengalami kebangkrutan.
Meski kehilangan salah satu mitra ritelnya, O’Dell mengatakan penjualan langsung melalui situs resmi dan komunitas quilting tetap menjadi penopang utama bisnisnya.
Mulai Menikmati Keuntungan
Legit Kits mulai menghasilkan laba pada 2023. Sementara pada 2024 perusahaan mencatat kondisi impas setelah memperhitungkan biaya relokasi ke gudang baru seluas sekitar 418 meter persegi yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan dan distribusi.
O’Dell sendiri mulai mengenal dunia menjahit sekitar dua dekade lalu ketika membuat kostum Braveheart untuk perayaan Halloween. Dari sekadar proyek iseng, keterampilan tersebut berkembang menjadi hobi serius hingga akhirnya berubah menjadi bisnis bernilai jutaan dolar.
Tahun ini, ia berencana mulai mengambil gaji sebesar US$50.000 atau sekitar Rp895,8 juta sebagai CEO sekaligus direktur kreatif Legit Kits.
“Rasa lelah yang saya rasakan di rumah sakit memberi saya energi untuk melakukan hal lain demi diri saya sendiri,” ujar O’Dell.
Ia juga mengaku bisnis sampingan tersebut menjadi penyeimbang kehidupan profesionalnya.
“Pekerjaan sampingan ini bisa meredakan ketegangan saat semua orang sedang kesal di tempat kerja,” katanya.
Industri Quilting Masih Menawarkan Peluang
Meski terdengar sebagai pasar yang sangat spesifik, industri quilting di Amerika Serikat memiliki nilai ekonomi yang besar. Berdasarkan data Craft Industry Alliance, nilai industri quilting diperkirakan mendekati US$5 miliar atau sekitar Rp89,5 triliun per tahun.
Komunitas quilting di AS dikenal memiliki pelanggan yang loyal, dengan banyak penggemar rela mengeluarkan ratusan hingga ribuan dolar setiap tahun untuk membeli kain, pola, peralatan, hingga mengikuti kelas dan pameran.
Namun, O’Dell menyadari pasar tersebut relatif terbatas jika hanya mengandalkan pelanggan berpengalaman. Karena itu, Legit Kits mulai mengembangkan strategi untuk menjangkau pemula.
Perusahaan kini gencar beriklan di media sosial dengan konten edukasi mengenai quilting serta meluncurkan produk versi “mini” yang dijual seharga US$99 atau sekitar Rp1,7 juta. Produk ini menawarkan ukuran lebih kecil sehingga lebih mudah diselesaikan oleh pelanggan yang baru mencoba hobi tersebut.
Menurut O’Dell, strategi menghadirkan produk yang lebih sederhana diharapkan dapat memperluas basis pelanggan sekaligus membuat quilting terasa lebih mudah diakses.
Ketidakpastian Ekonomi Masih Menjadi Tantangan
Di sisi lain, pertumbuhan Legit Kits masih dibayangi ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat. O’Dell mengatakan masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan hobi ketika kondisi ekonomi memburuk.
Selain itu, perubahan kebijakan perdagangan juga menjadi perhatian serius. Legit Kits menggunakan kain yang diproduksi di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Vietnam.
Pada awal April lalu, pemerintahan Presiden Donald Trump sempat mengumumkan tarif impor yang tinggi terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32% dan Vietnam sebesar 46%. Meski kebijakan tersebut kemudian mengalami perubahan dan tarif impor Indonesia kini berada di level 10%, ketidakpastian kebijakan dinilai tetap menyulitkan pelaku usaha dalam menyusun rencana bisnis jangka panjang.
“Ketidakpastian ini sangat membuat saya tertekan,” ujar O’Dell.
Ia mengaku belum berani menambah jumlah karyawan sampai memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai dampak tarif terhadap biaya produksi dan harga bahan baku.
Meski demikian, O’Dell tetap optimistis bisnisnya dapat terus berkembang. Menurutnya, pekerjaan tetap sebagai perawat menjadi bantalan keuangan yang sangat penting sehingga ia tidak perlu mengambil risiko besar hanya demi mengejar pertumbuhan bisnis dalam waktu singkat.
“Optimisme itu penting belakangan ini. Semoga optimisme saya tidak salah,” katanya.
Belum Berencana Meninggalkan Profesi Perawat
Walaupun Legit Kits telah menghasilkan jutaan dolar dalam penjualan, O’Dell belum berniat meninggalkan profesinya sebagai perawat anestesi.
Ia memperkirakan perusahaan masih membutuhkan sekitar lima tahun lagi hingga pendapatannya cukup besar untuk melampaui penghasilannya sebagai tenaga medis. Menurutnya, sebelum mengambil keputusan tersebut, Legit Kits harus mampu mencatat pendapatan tahunan hingga puluhan juta dolar.
Selain mempertimbangkan aspek bisnis, O’Dell juga ingin memastikan kondisi keuangan keluarganya tetap aman, termasuk mempersiapkan biaya pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.
“Penghasilan tahunan Legit Kits harus mencapai delapan digit sebelum menjadi pekerjaan tetap saya. Saya juga ingin anak-anak saya bisa kuliah,” tuturnya.
Kisah O’Dell menunjukkan bahwa membangun bisnis sampingan tidak selalu harus dimulai dengan meninggalkan pekerjaan utama. Dengan sistem operasional yang tepat, tim yang kuat, serta kemampuan mendelegasikan pekerjaan, sebuah usaha dapat berkembang menjadi bisnis bernilai jutaan dolar tanpa harus menyita seluruh waktu pemiliknya.
0 Comments