Minyak Dunia Terkoreksi, Hasil Pembicaraan AS–Iran Masih Jadi Tanda Tanya
Harga minyak dunia tercatat melemah tipis pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait rencana perdamaian serta isu strategis pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip CNBC pada Jumat (8/5/2026), harga minyak Brent turun sekitar 1% menjadi USD 100,06 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,28% ke level USD 94,81 per barel. Meski penurunannya tergolong terbatas, pasar energi global terlihat sensitif terhadap setiap perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran.
Volatilitas dipicu harapan dan penolakan Iran
Pada awal sesi perdagangan, harga minyak sempat anjlok hingga sekitar 5% setelah muncul optimisme bahwa AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan di kawasan Teluk. Namun, sentimen tersebut dengan cepat berbalik arah setelah pejabat senior Iran memberikan sinyal penolakan terhadap proposal yang diajukan AS.
Anggota Dewan Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa AS seharusnya memberikan kompensasi atas kerusakan yang terjadi akibat konflik dan tekanan sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima skenario yang dianggap tidak realistis, termasuk pembukaan Selat Hormuz di bawah tekanan sepihak.
“Iran tidak akan mengizinkan AS untuk mengusulkan rencana yang tidak realistis membuka kembali Hormuz,” ujar Rezaei, seperti dikutip PressTV.
Sikap Iran: negosiasi harus setara
Dari sisi diplomasi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa pemerintah Iran masih meninjau proposal dari AS dan akan memberikan tanggapan melalui mediator di Pakistan.
Dalam pernyataan yang juga dibagikan melalui media sosial, Baqaei menegaskan bahwa proses negosiasi harus dilakukan secara adil dan tanpa tekanan.
“Negosiasi membutuhkan upaya tulus untuk terlibat dalam diskusi dengan tujuan menyelesaikan perselisihan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa, “Negosiasi bukanlah dikte, penipuan, pemerasan, atau paksaan,” sebuah pernyataan yang mencerminkan ketegangan diplomatik yang masih tinggi antara kedua negara.
Pernyataan AS dan dinamika militer
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury dapat dihentikan apabila Iran menyetujui kesepakatan yang telah diajukan. Namun ia juga mengakui bahwa hal tersebut masih menjadi asumsi besar mengingat kompleksitas hubungan kedua negara.
Trump juga menyinggung kemungkinan langkah militer AS yang berdampak pada jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk Oman. Dalam pernyataannya di media sosial, ia menyebut bahwa tekanan terhadap pelabuhan Iran dapat membuka kembali akses Selat Hormuz untuk semua pihak, termasuk Iran sendiri.
Selat Hormuz kembali jadi fokus pasar energi
Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia, kembali menjadi pusat perhatian pasar energi global. Jalur ini menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar internasional, sehingga setiap potensi gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada harga minyak dunia.
Secara historis, ketegangan di sekitar Selat Hormuz sering memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan global. Meski saat ini harga justru melemah, volatilitas tinggi menunjukkan bahwa pasar masih sangat bergantung pada arah perkembangan diplomasi AS–Iran.
Prospek harga minyak masih tidak pasti
Analis pasar menilai bahwa pergerakan harga minyak dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh hasil negosiasi kedua negara serta perkembangan situasi keamanan di kawasan Teluk. Di satu sisi, potensi kesepakatan damai dapat menekan harga minyak lebih lanjut karena meredakan risiko pasokan. Namun di sisi lain, kegagalan diplomasi berpotensi memicu kembali lonjakan harga akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Selain faktor politik, pasar juga masih mempertimbangkan dinamika permintaan global, kebijakan produksi negara-negara produsen besar, serta kondisi ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil.
Dengan kombinasi faktor tersebut, harga minyak diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, mengikuti setiap perkembangan terbaru dari hubungan AS dan Iran.
0 Comments