Pemenang Proyek Sampah Jadi Listrik Segera Diumumkan, Nilai Investasi Rp10 Triliun

Pemenang Proyek Sampah Jadi Listrik Segera Diumumkan, Nilai Investasi Rp10 Triliun

Program nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik memasuki fase krusial. Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) bersiap mengumumkan pemenang tender proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) tahap pertama yang akan dibangun di empat kota, yakni Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta.

Tahap awal ini dipandang sebagai fondasi penting bagi ambisi Indonesia dalam menyelesaikan persoalan kedaruratan sampah perkotaan sekaligus memperkuat bauran energi nasional melalui pemanfaatan limbah sebagai sumber listrik terbarukan.

Pengumuman Pemenang Dijadwalkan Maret 2026

Direktur Investasi PT Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa penetapan pemenang tender dilakukan dengan mengacu secara ketat pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

“Pemenang adalah perusahaan yang memenuhi seluruh kriteria dalam Perpres tersebut, mulai dari kemampuan teknikal yang sangat baik, kekuatan finansial dan ekonomi, hingga kemampuan mengelola risiko secara komprehensif,” ujar Fadli, dikutip dari Antara, Jumat (27/2/2026).

Ia menambahkan, Roesan Roeslani, selaku CEO BPI Danantara, dijadwalkan akan mengumumkan secara resmi pemenang proyek WtE tahap pertama pada Maret 2026. Pengumuman ini dinantikan pelaku industri karena akan menjadi tolok ukur model bisnis dan teknologi WtE yang akan direplikasi secara nasional.

Solusi Sampah dan Ketahanan Energi

Proyek sampah jadi listrik dirancang tidak hanya untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) yang kian kritis di kota-kota besar, tetapi juga untuk menghasilkan energi listrik berbasis limbah secara berkelanjutan. Pemerintah menilai pendekatan ini dapat menekan emisi gas rumah kaca dari sampah, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, serta menciptakan ekosistem ekonomi sirkular.

Keempat kota tahap awal dipilih karena memiliki volume timbulan sampah tinggi, keterbatasan lahan TPA, serta kesiapan infrastruktur dan dukungan pemerintah daerah.

Perusahaan Asing Berebut Proyek Strategis

Minat investor global terhadap proyek WtE Indonesia tergolong tinggi. Sebanyak 24 perusahaan internasional tercatat mengikuti proses seleksi dan tender tahap pertama. Mayoritas berasal dari China, disusul Jepang dan Prancis.

“Total ada 24 perusahaan internasional yang ikut, terdiri dari 20 perusahaan China, tiga perusahaan Jepang, dan satu perusahaan dari Prancis,” jelas Fadli.

Untuk setiap kota, hanya satu perusahaan yang akan ditetapkan sebagai pemenang. Perusahaan tersebut wajib membentuk konsorsium dengan perusahaan domestik dan melibatkan mitra lokal, termasuk BUMD atau pelaku usaha daerah, guna memastikan transfer pengetahuan dan keberlanjutan operasional.

Teknologi Jadi Penentu Utama

Proses penilaian tender mencakup berbagai aspek, mulai dari rekam jejak perusahaan, kemampuan teknis, kualitas desain dan konstruksi fasilitas, teknologi pengolahan sampah, sistem operasional, analisis dampak lingkungan (AMDAL), dampak sosial-ekonomi, kekuatan finansial, hingga tingkat keterlibatan mitra lokal.

Namun demikian, aspek teknologi menjadi komponen dengan bobot penilaian tertinggi. Hal ini mencakup efisiensi konversi sampah menjadi listrik, pengendalian emisi, pengelolaan residu abu, serta keandalan operasional jangka panjang. Pemerintah menilai pemilihan teknologi yang tepat sangat krusial karena Indonesia belum memiliki teknologi WtE yang sepenuhnya mandiri dan masih bergantung pada pengalaman negara lain.

Investasi Besar dan Kewajiban Transfer Teknologi

Pada tahap pertama, nilai investasi diperkirakan mencapai USD 150–170 juta per lokasi. Dengan empat kota, total investasi minimal menembus USD 600 juta atau setara sekitar Rp 100 triliun, menggunakan asumsi kurs Rp 16.778 per dolar AS.

Skema pembiayaan dirancang dengan komposisi 70 persen investasi asing langsung (FDI) dan 30 persen ekuitas dari Danantara. Selain investasi finansial, pemenang tender diwajibkan melakukan transfer teknologi secara nyata, termasuk pelatihan intensif bagi tenaga kerja lokal.

“Tenaga kerja yang dilatih juga akan dikirim untuk belajar langsung ke negara asal perusahaan tersebut, agar penguasaan teknologi bisa benar-benar berpindah ke Indonesia,” kata Fadli.

Target Nasional 33 Lokasi WtE

Ke depan, Danantara menargetkan pembangunan fasilitas sampah jadi listrik di 33 lokasi di seluruh Indonesia. Setelah penyelesaian tender empat kota tahap awal, proses lelang untuk sembilan kota berikutnya direncanakan dimulai pada April 2026 atau setelah Lebaran.

Pemerintah berharap proyek ini menjadi titik balik pengelolaan sampah nasional—bukan lagi sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber energi dan nilai ekonomi baru yang berkelanjutan.