Rupiah Diperkirakan Semakin Lemah Karena Konflik AS–Iran
Nilai tukar rupiah diperkirakan ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 3 Maret 2026, dengan pergerakan di kisaran Rp16.860 hingga Rp16.910 per dolar AS. Tekanan utama terhadap mata uang Garuda masih berasal dari meningkatnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang terus memicu ketidakpastian global dan mendorong penguatan dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pergerakan rupiah cenderung fluktuatif sepanjang hari, namun tekanan eksternal membuat rupiah berpotensi ditutup di zona merah.
“Mata uang rupiah bergerak fluktuatif, namun pada akhirnya ditutup melemah di rentang Rp16.860 sampai Rp16.910,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, Senin (2/3/2026), rupiah tercatat melemah 81 poin, setelah sempat tertekan hingga 90 poin dan ditutup di level Rp16.868 per dolar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan aset safe haven, terutama dolar AS, di tengah kekhawatiran investor global.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama Tekanan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah semakin besar setelah konflik antara Iran dan Israel kembali memanas. Situasi diperburuk oleh tewasnya salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran, yang meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional. Pasar global khawatir eskalasi ini dapat mengganggu pasokan energi dunia, terutama melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar seperlima pengiriman minyak mentah global.
Pada Minggu (1/3/2026), pasukan Israel dilaporkan melancarkan gelombang serangan terbaru ke Teheran, menggunakan rudal dan pesawat tempur yang menargetkan infrastruktur komando militer serta sistem pertahanan udara. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, meningkatkan risiko konflik terbuka berskala besar.
Ketegangan tersebut juga berdampak langsung pada sektor pelayaran global. Sejumlah sumber dan pejabat perkapalan menyebutkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker minyak terkena dampak serangan rudal di perairan Teluk, menyebabkan kerusakan serius dan menewaskan seorang pelaut. Kondisi ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan harga minyak dunia, yang pada akhirnya turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Negosiasi Nuklir Buntu, Risiko Militer Masih Tinggi
Di sisi lain, putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa berakhir tanpa kemajuan berarti. Kegagalan diplomasi ini diikuti dengan peningkatan pengerahan militer AS di kawasan Timur Tengah, yang memperkuat spekulasi pasar bahwa opsi militer masih terbuka.
Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Ia menyebut tidak puas dengan sikap Teheran dalam perundingan dan mengisyaratkan kemungkinan perubahan kebijakan yang lebih agresif.
“Donald Trump menegaskan bahwa Iran lupa mengucapkan kata-kata emas, yakni ‘tidak ada senjata nuklir’, serta terdengar samar apakah perubahan rezim menjadi opsi yang mungkin,” kata Ibrahim.
Pernyataan tersebut semakin memperburuk sentimen risiko global dan mendorong investor untuk menarik dana dari aset berisiko di pasar negara berkembang.
Faktor Domestik: PMI Menguat, Tapi Tak Cukup Menahan Rupiah
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati perkembangan data ekonomi dalam negeri. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat menguat ke level 53,8 pada Februari 2026, naik dari 52,6 pada Januari 2026. Data ini dirilis oleh S&P Global dan menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih berada dalam fase ekspansi yang solid.
S&P Global mencatat bahwa ekspansi kali ini merupakan yang terbesar sejak Maret 2024, mencerminkan perbaikan signifikan dalam kondisi operasional industri manufaktur nasional.
“Kenaikan PMI manufaktur terutama didorong oleh percepatan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru meningkat selama tujuh bulan berturut-turut, dengan laju pertumbuhan terkuat sejak November 2025,” jelas Ibrahim.
Meski data domestik tergolong positif, tekanan eksternal yang sangat kuat membuat sentimen pasar tetap berhati-hati. Investor global cenderung menunggu kepastian perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk ke aset berdenominasi rupiah.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta arah dolar AS. Selama ketidakpastian global masih tinggi, tekanan terhadap rupiah diprediksi belum akan sepenuhnya mereda.
0 Comments