Rupiah Melemah ke Level Rp17.630 per Dolar AS pada 18 Mei 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp17.630 per dolar AS, memperpanjang tren depresiasi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di tengah kuatnya sentimen global dan tingginya permintaan dolar AS di pasar internasional.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah turun 33 poin atau sekitar 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.597 per dolar AS. Pelemahan ini sekaligus membuat rupiah bergerak mendekati level terendah sepanjang tahun 2026.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi sejumlah faktor eksternal, mulai dari penguatan indeks dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed), hingga meningkatnya tensi geopolitik global yang membuat investor cenderung mencari aset aman atau safe haven.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tren melemah sepanjang perdagangan hari ini. Menurut dia, mata uang domestik diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS.
“Rupiah masih berada dalam tekanan kuat akibat sentimen global dan arus keluar dana asing dari pasar emerging market,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Senin (18/5/2026).
Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia dan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pelaku pasar menilai intervensi di pasar valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) masih menjadi instrumen utama bank sentral untuk meredam volatilitas rupiah.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah juga sempat menyentuh level Rp17.612 per dolar AS. Berdasarkan data Google Finance, nilai tukar rupiah bahkan sempat bergerak lebih dalam sebelum akhirnya stabil di kisaran Rp17.579 per dolar AS pada perdagangan pagi hari.
Level pelemahan rupiah saat ini mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha karena dapat berdampak langsung terhadap biaya impor, harga bahan baku, hingga potensi kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
Di sisi lain, pelemahan rupiah ternyata tidak sepenuhnya berdampak negatif. Sejumlah sektor berbasis ekspor justru diperkirakan menikmati keuntungan dari kondisi tersebut.
Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global karena harga produk menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri.
“Harusnya bagus buat eksportir karena barang Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional,” ujar Ariston.
Menurut dia, sektor perkebunan dan pertambangan menjadi pihak yang paling diuntungkan, terutama komoditas yang diperdagangkan menggunakan dolar AS seperti crude palm oil (CPO), batu bara, nikel, dan produk mineral lainnya.
Perusahaan eksportir yang menerima pendapatan dalam dolar AS tetapi memiliki biaya operasional dalam rupiah berpotensi menikmati peningkatan margin keuntungan. Kondisi ini dinilai dapat membantu menjaga kinerja emiten berbasis ekspor di tengah tekanan ekonomi global.
Selain itu, sektor pariwisata juga dinilai berpotensi mendapat manfaat karena wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar ketika berkunjung ke Indonesia. Pelemahan rupiah membuat biaya perjalanan dan konsumsi di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi turis mancanegara.
Namun situasi berbeda dirasakan industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi sektor manufaktur nasional.
“Saat ini sekitar 70 persen bahan baku manufaktur masih berasal dari impor. Jadi setiap pelemahan rupiah akan langsung menaikkan biaya input produksi,” kata Shinta.
Ia menjelaskan sektor yang paling rentan terdampak antara lain industri petrokimia, plastik, farmasi, elektronik, makanan dan minuman, hingga manufaktur berbasis energi.
Kenaikan biaya impor dinilai dapat mempersempit margin keuntungan perusahaan, terutama bagi industri yang belum mampu melakukan penyesuaian harga jual di pasar domestik. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka tekanan terhadap arus kas perusahaan akan semakin besar.
Sejumlah ekonom juga mengingatkan potensi kenaikan inflasi impor atau imported inflation akibat pelemahan rupiah. Barang-barang yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri berisiko mengalami kenaikan harga sehingga dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Tekanan terhadap dunia usaha juga mulai menimbulkan kekhawatiran terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memaksa perusahaan melakukan efisiensi operasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengatakan pelaku usaha saat ini sudah mulai berhitung ulang terhadap biaya produksi dan pengeluaran operasional perusahaan.
“Jika pelemahan nilai tukar ini berlangsung lama, omzet pelaku usaha bisa semakin tertekan dan perusahaan berpotensi melakukan rasionalisasi pekerja,” ujar Sarman.
Menurut dia, dunia usaha sebenarnya sudah mulai meningkatkan kewaspadaan sejak rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS beberapa waktu lalu. Namun pelemahan yang terus berlanjut kini dianggap menjadi sinyal serius bagi sektor riil nasional.
Kadin juga meminta pemerintah segera memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan. Salah satunya melalui percepatan implementasi Satgas Mitigasi PHK yang sebelumnya telah dibentuk pemerintah.
Selain itu, pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Sejumlah analis memperkirakan bank sentral masih memiliki ruang untuk melakukan intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun pasar obligasi guna menahan gejolak nilai tukar.
Investor juga menyoroti arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan. Jika bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, maka tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga ditopang pertumbuhan konsumsi domestik, kinerja ekspor komoditas, serta stabilitas sektor perbankan nasional. Namun mereka mengingatkan bahwa volatilitas global tetap menjadi risiko utama yang perlu diantisipasi pemerintah dan pelaku usaha sepanjang 2026.
0 Comments