Rupiah Melemah ke Rp17.903 per Dolar AS, Investor Menanti Data Inflasi AS

Rupiah Melemah ke Rp17.903 per Dolar AS, Investor Menanti Data Inflasi AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi sikap investor yang menunggu rilis data inflasi AS serta mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip data perdagangan, rupiah melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp17.903 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.900 per dolar AS.

Di sisi lain, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru menguat ke level Rp17.898 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.930 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara (BWS), Rully Nova, mengatakan pergerakan rupiah yang cenderung terbatas dipengaruhi sikap pelaku pasar yang menanti data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS.

“Rupiah hari ini yang datar-datar saja dipengaruhi oleh global antisipasi data inflasi CPI AS nanti malam (Rabu, 14/10), dan sikap dovish dari pejabat The Fed terkait kenaikan suku bunga tahun depan,” kata Rully, dikutip dari Antara.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Data inflasi AS menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan investor karena dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed. Inflasi diperkirakan meningkat akibat kenaikan biaya energi.

Apabila inflasi tetap tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga pada level yang ketat lebih lama. Kondisi tersebut dapat mendukung dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebaliknya, jika inflasi menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat dan berpotensi memberikan ruang bagi mata uang lainnya untuk menguat.

Estimasi pasar uang menunjukkan peluang sebesar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini.

Sementara itu, Presiden The Fed New York, John Williams, berpandangan bahwa suku bunga sebaiknya kembali dinaikkan satu kali pada tahun ini. Namun, ia menilai kenaikan tambahan tidak diperlukan setelahnya karena inflasi diperkirakan turun signifikan pada tahun depan.

Perbedaan pandangan mengenai arah suku bunga tersebut membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan di pasar keuangan.

Pergerakan Obligasi Pemerintah Memengaruhi Rupiah

Dari dalam negeri, penguatan harga obligasi pemerintah bertenor pendek turut membantu menjaga stabilitas rupiah. Namun, kenaikan imbal hasil atau yield obligasi tenor panjang masih menjadi salah satu faktor penekan.

Rully menjelaskan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah tenor dua tahun turun 8,4 basis poin menjadi 6,70%. Sementara itu, yield obligasi tenor tiga tahun turun 5,7 basis poin menjadi 6,86%, dan tenor satu tahun terkoreksi 3,2 basis poin menjadi 6,65%.

Sebaliknya, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 0,4 basis poin menjadi 7,19%. Adapun yield obligasi tenor 40 tahun meningkat 4,9 basis poin menjadi 7,26%.

Perbedaan arah pergerakan yield tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memiliki pandangan yang beragam terhadap risiko dan prospek ekonomi.

Kenaikan yield obligasi jangka panjang dapat mencerminkan meningkatnya premi risiko atau perubahan ekspektasi investor terhadap inflasi dan kondisi ekonomi ke depan. Meski demikian, pergerakan tersebut tidak selalu berdampak langsung terhadap nilai tukar dalam arah yang sama.

Prospek Rupiah Masih Dipengaruhi Sentimen Global

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan inflasi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, serta kondisi pasar obligasi pemerintah Indonesia.

Data inflasi AS akan menjadi perhatian utama karena dapat mengubah perkiraan investor terhadap kebijakan moneter bank sentral tersebut. Sementara itu, kondisi pasar keuangan domestik juga akan menentukan daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Investor perlu mencermati perkembangan kedua faktor tersebut untuk menilai arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Dengan penutupan di level Rp17.903 per dolar AS, rupiah mencatat pelemahan terbatas pada perdagangan Rabu. Meski demikian, penguatan kurs JISDOR BI menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar dapat berbeda bergantung pada acuan dan mekanisme penetapan kurs yang digunakan.