Solana Kembali Pimpin Perdagangan Saham Tokenisasi, Kuasai 31% Volume Mingguan
Solana kembali menjadi jaringan blockchain dengan volume perdagangan saham tokenisasi terbesar setelah kehilangan dominasinya kepada BNB Chain dan Robinhood selama beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Blockworks, Solana menguasai 31% volume perdagangan mingguan saham tokenisasi di seluruh jaringan, mengungguli BNB Chain dan Robinhood.
Pencapaian ini menjadi yang pertama bagi Solana dalam 14 pekan terakhir, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu ekosistem utama untuk perdagangan aset keuangan berbasis blockchain.
Di sisi lain, persaingan antarpenyedia saham tokenisasi di jaringan Solana semakin ketat. xStocks dan Backpack bersaing untuk menarik minat pengguna keuangan terdesentralisasi (DeFi), sementara aktivitas perdagangan komoditas digital mengalami penurunan signifikan.
Solana Ungguli BNB Chain dan Robinhood dalam Perdagangan Saham Tokenisasi
Data Blockworks menunjukkan Solana menguasai 31% volume perdagangan mingguan saham tokenisasi di seluruh jaringan. BNB Chain berada di posisi berikutnya dengan pangsa 26%, disusul Robinhood sebesar 25%.
Sementara itu, Base mulai menunjukkan perkembangan sebagai pesaing baru. Jaringan tersebut mencatat pertumbuhan pangsa pasar secara konsisten dari pekan ke pekan hingga mencapai 18%.
Kembalinya aktivitas perdagangan saham tokenisasi ke Solana terjadi ketika tren perdagangan memecoin dan saham yang sempat ramai di jaringan lain mulai mereda.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan di ekosistem kripto dapat berpindah mengikuti tren pasar, likuiditas, dan ketersediaan produk yang diminati pengguna.
Token Saham SPCX Jadi Salah Satu Aset Teraktif di Solana
Di dalam ekosistem DeFi Solana, token saham SPCX menjadi salah satu aset saham tokenisasi yang paling aktif diperdagangkan.
Pada sesi perdagangan sehari sebelumnya, token SPCX yang diterbitkan Backpack mencatat volume transaksi sebesar US$19,4 juta. Sementara itu, varian SPCX dari xStocks membukukan volume sebesar US$5,26 juta.
Meski Backpack mencatat volume perdagangan yang lebih tinggi untuk token tersebut pada sesi itu, data on-chain menunjukkan xStocks masih memiliki posisi yang kuat berdasarkan jumlah aset yang beredar dan integrasinya dengan berbagai layanan DeFi.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa volume perdagangan harian tidak selalu mencerminkan dominasi suatu penerbit dalam keseluruhan ekosistem.
xStocks dan Backpack Bersaing Merebut Pasar Saham Tokenisasi
Persaingan antara xStocks dan Backpack menjadi salah satu perkembangan utama dalam pasar saham tokenisasi di Solana.
Pada pekan sebelumnya, kedua penerbit tersebut masing-masing menguasai sekitar 48% dari total volume perdagangan saham tokenisasi di jaringan Solana. Sementara itu, pesaing lain, termasuk Ondo dan Securitize, masih berupaya memperluas pangsa pasar.
xStocks dan Backpack memiliki keunggulan dalam hal likuiditas on-chain dan pengenalan merek di kalangan pengguna kripto.
Sebaliknya, model operasional Ondo dan Securitize memiliki sejumlah keterbatasan dalam hal akses dan integrasi. Saham Ondo menggunakan sistem request for quote (RFQ), yaitu mekanisme permintaan penawaran harga, sedangkan perdagangan saham Securitize dibatasi bagi pengguna yang masuk dalam daftar yang diizinkan.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemudahan penggunaan aset dalam berbagai protokol DeFi.
xStocks Kuasai Mayoritas Pasokan Saham Tokenisasi Solana
Meskipun volume perdagangan xStocks dan Backpack relatif berimbang, xStocks memiliki jangkauan yang lebih luas dalam ekosistem DeFi Solana.
Data Blockworks menunjukkan lebih dari 77% pasokan saham tokenisasi di Solana diterbitkan oleh xStocks. Sebaliknya, saham tokenisasi dari Backpack hanya mewakili sekitar 5% dari total pasokan tersebut.
xStocks dan Superstate juga menjadi penerbit yang asetnya tercatat dalam sejumlah pasar pinjaman DeFi, termasuk Kamino dan Jupiter Lend.
Integrasi ini memungkinkan aset digunakan untuk berbagai aktivitas keuangan selain perdagangan, bergantung pada ketentuan masing-masing protokol. Utilitas tambahan tersebut dapat menjadi faktor penting dalam mempertahankan minat pengguna terhadap saham tokenisasi.
Volume Perdagangan Komoditas di Solana Turun 72%
Di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan saham tokenisasi, sektor komoditas berbasis blockchain di Solana justru mengalami penurunan.
Sebelumnya, volume perdagangan komoditas mingguan di jaringan tersebut sempat mencapai rekor US$92,5 juta. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas perdagangan memecoin yang dipasangkan dengan aset komoditas, termasuk emas.
Namun, ketika minat terhadap memecoin mulai mereda, volume perdagangan komoditas ikut menurun. Data yang dikutip menunjukkan volumenya turun sekitar 72% dari puncak tersebut menjadi US$25 juta per pekan.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa sebagian aktivitas perdagangan komoditas di Solana sebelumnya sangat dipengaruhi oleh tren spekulatif.
Meski demikian, penurunan volume tidak serta-merta berarti seluruh minat terhadap aset komoditas digital telah menghilang. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kondisi pasar, likuiditas, dan kemampuan produk tersebut mempertahankan permintaan di luar tren sesaat.
Prospek Solana di Pasar Aset Tokenisasi
Kembalinya Solana sebagai jaringan dengan volume perdagangan saham tokenisasi terbesar menunjukkan bahwa ekosistem blockchain tersebut masih memiliki daya tarik bagi aktivitas perdagangan aset digital.
Persaingan antara xStocks dan Backpack juga memperlihatkan bahwa likuiditas, distribusi aset, dan integrasi dengan protokol DeFi menjadi faktor penting dalam perebutan pasar.
Namun, dominasi berdasarkan volume mingguan belum tentu menjamin keunggulan jangka panjang. Perubahan tren, munculnya pesaing baru, serta perkembangan regulasi dapat memengaruhi pertumbuhan pasar saham tokenisasi.
Bagi investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa tingginya volume perdagangan tidak otomatis menjamin keamanan atau keuntungan investasi. Saham tokenisasi dapat memiliki risiko tambahan, termasuk risiko penerbit, likuiditas, struktur hak atas aset dasar, dan ketentuan hukum yang berlaku.
Karena itu, memahami mekanisme produk dan hak yang melekat pada setiap token tetap penting sebelum mengambil keputusan investasi.
0 Comments