Saham MARA Naik Setelah Penambang Bitcoin Jalin Kerja Sama Pusat Data AI

Saham MARA Naik Setelah Penambang Bitcoin Jalin Kerja Sama Pusat Data AI

MARA Holdings, salah satu perusahaan penambang Bitcoin terbesar yang tercatat di bursa Amerika Serikat, mengumumkan kerja sama dengan Starwood Property Trust untuk mengembangkan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan atau AI. Kabar ini langsung mendorong harga saham MARA naik pada perdagangan setelah jam bursa.

Melalui kerja sama ini, MARA akan mengubah sebagian lokasi penambangan Bitcoin miliknya di AS menjadi kampus data center berskala besar (hyperscale). Lokasi yang sudah terikat dengan pihak ketiga tidak termasuk dalam rencana ini. Setiap proyek akan dikembangkan satu per satu, tergantung kondisi lokasi.

Data center tersebut nantinya bisa digunakan tidak hanya untuk menambang Bitcoin, tetapi juga untuk kebutuhan komputasi perusahaan besar dan AI. CEO MARA, Fred Thiel, menyebut strategi ini bertujuan mengubah kepastian pasokan listrik menjadi kepastian kapasitas komputasi.

Pada perdagangan reguler Kamis waktu AS, saham MARA ditutup di level US$8,45, turun 1,4%. Namun di perdagangan setelah jam bursa, sahamnya melonjak ke US$9,62 atau naik hampir 14%, bahkan sempat menyentuh US$9,90, berdasarkan data dari Google Finance.

MARA menyatakan fokus pada lokasi dengan biaya listrik rendah dan akses jaringan listrik yang kuat. Faktor ini penting untuk mendukung operasional penambangan Bitcoin sekaligus beban kerja AI yang sangat boros energi.

Dengan menggabungkan infrastruktur listrik milik MARA dan keahlian Starwood dalam pengembangan, operasional, serta pendanaan, kedua perusahaan ingin membangun infrastruktur digital yang fleksibel. Kapasitas komputasi nantinya bisa dialihkan antara mining Bitcoin dan AI, tergantung harga dan permintaan pasar.

Menurut Ram Kumar dari OpenLedger, langkah ini penting secara strategi karena bisa mengurangi ketergantungan MARA pada harga Bitcoin dan membuka sumber pendapatan baru dari komputasi. Meski begitu, tanpa kontrak resmi dengan klien AI atau perusahaan besar, pergerakan saham MARA masih akan sangat dipengaruhi oleh harga Bitcoin.

Pandangan serupa disampaikan oleh Siwon Huh dari Four Pillars. Ia menilai potensi jangka panjangnya cukup besar, tetapi dampak jangka pendek masih terbatas karena MARA belum mengamankan pelanggan AI.

Ia juga menyoroti bahwa pesaing seperti Core Scientific dan TeraWulf sudah lebih dulu mendapatkan kontrak AI atau perjanjian hosting jangka panjang, sementara MARA masih berada di tahap kemitraan.

Dalam kerja sama ini, MARA dapat memiliki porsi kepemilikan antara 10% hingga 50% di setiap joint venture. Sementara itu, Starwood akan bertindak sebagai pengelola utama, termasuk pengembangan proyek, pendanaan, dan pencarian penyewa data center.

Analis menilai, titik balik utama bagi MARA adalah jika berhasil menandatangani kontrak sewa jangka panjang dengan klien AI berskala besar. Selain itu, kejelasan pembagian daya listrik antara mining Bitcoin dan komputasi AI juga sangat penting agar investor bisa menilai potensi pendapatan perusahaan ke depan.