The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Modal Asing di Indonesia Terancam Keluar

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Modal Asing di Indonesia Terancam Keluar

Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4%. Kebijakan ini berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia, terutama nilai tukar Rupiah dan arus modal asing.

Kenaikan suku bunga The Fed membuat aset berbasis Dolar AS berpotensi menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian investor asing mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan Suku Bunga The Fed Pengaruhi Modal Asing

Kepala Makroekonomi Indef, Rizal Taufikurrahman, mengatakan kenaikan Fed Funds Rate akan memengaruhi perhitungan investor asing dalam menempatkan dana di Indonesia.

Menurutnya, ketika imbal hasil aset di AS meningkat, investor akan kembali menghitung tingkat keuntungan dan risiko dari aset yang menggunakan Rupiah.

“Bagi investor, kenaikan Fed Rate mengubah kalkulasi risk-return aset Indonesia. Investor asing akan menuntut yield dan premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Rupiah,” kata Rizal saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (17/9/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat arus modal asing menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan Rupiah, kondisi fiskal, serta prospek ekonomi Indonesia.

Kenaikan suku bunga AS juga berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Investor dapat memilih mengalihkan sebagian dana ke aset berdenominasi Dolar AS karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.

Capital Outflow Bisa Tekan Rupiah

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia, Teuku Riefky, juga menilai kenaikan suku bunga The Fed berpotensi meningkatkan capital outflow dari Indonesia.

“Naiknya suku bunga The Fed memicu naiknya capital outflow yang akan mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah,” ujar Teuku Riefky.

Meski demikian, ia memperkirakan dampaknya terhadap arus modal asing dan perekonomian Indonesia dapat bersifat sementara.

Teuku Riefky juga menilai kenaikan suku bunga AS tidak secara langsung membuat suku bunga kredit di Indonesia meningkat.

BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga

Tekanan terhadap Rupiah juga menjadi perhatian bagi pasar keuangan domestik. Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, memperkirakan Dolar AS masih berpotensi menguat terhadap Rupiah.

Menurut Ariston, Bank Indonesia (BI) dapat mempertimbangkan penyesuaian suku bunga apabila pelemahan Rupiah semakin tajam.

“Kalau Rupiah masuk lagi ke atas Rp18.000, BI mungkin akan berpikir lagi untuk menaikkan suku bunga acuannya,” kata Ariston.

Jika BI menaikkan suku bunga, kebijakan tersebut dapat berdampak pada peningkatan suku bunga kredit dan obligasi. Kondisi itu pada akhirnya berpotensi menambah tekanan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

“Investor asing mungkin bisa lebih memilih memarkirkan uangnya ke aset-aset AS karena tingkat imbal hasilnya naik,” sambungnya.

The Fed Naikkan Suku Bunga untuk Tekan Inflasi

Kenaikan suku bunga sebesar 25 bps tersebut menjadi kenaikan pertama The Fed dalam tiga tahun terakhir. Keputusan itu telah diantisipasi oleh pasar dan disetujui secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC).

Dengan keputusan tersebut, federal funds rate berada di kisaran 3,75%-4%.

Dalam pernyataannya setelah rapat, FOMC menyebut inflasi AS masih berada pada level tinggi.

“Inflasi masih tinggi,” tulis komite tersebut, dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026).

The Fed menegaskan kebijakan moneter tersebut diarahkan untuk membawa inflasi kembali menuju target jangka panjang sebesar 2%.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

“Inflasi terlalu tinggi, terlalu lama,” ujar Warsh.

Ia menambahkan, The Fed perlu memastikan inflasi bergerak turun menuju target secara konsisten dan dalam kecepatan yang memadai.

“Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi,” katanya.

Dampak The Fed terhadap Indonesia

Kenaikan suku bunga The Fed dapat memberikan sejumlah dampak terhadap pasar Indonesia. Salah satunya adalah potensi meningkatnya tekanan terhadap Rupiah apabila terjadi perpindahan dana dari aset domestik ke aset AS.

Namun, besarnya capital outflow tidak hanya ditentukan oleh kebijakan The Fed. Kondisi ekonomi Indonesia, stabilitas Rupiah, tingkat imbal hasil aset domestik, kebijakan Bank Indonesia, serta sentimen investor global juga dapat memengaruhi arah arus modal.

Dengan demikian, kenaikan suku bunga AS menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar Indonesia, terutama dalam melihat pergerakan Rupiah dan aliran modal asing.