Update Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp 83.850 per Kg
Harga sejumlah komoditas pangan nasional kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Lonjakan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah yang menembus Rp83.850 per kilogram (kg), sementara cabai merah besar mencapai Rp74.450 per kg. Di saat bersamaan, harga telur ayam ras juga terus merangkak naik hingga menyentuh Rp29.250 per kg.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia dan dikutip dari Antara, Jumat pekan ini, kenaikan harga cabai terjadi hampir merata di berbagai wilayah. Selain cabai rawit merah dan cabai merah besar, harga cabai merah keriting juga tercatat tinggi di level Rp73.000 per kg, sedangkan cabai rawit hijau berada di posisi Rp59.000 per kg.
Kenaikan harga cabai disebut dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dari sejumlah sentra produksi akibat faktor cuaca ekstrem yang masih terjadi di beberapa daerah. Curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir mengganggu produktivitas panen dan distribusi hasil pertanian ke pasar tradisional maupun modern.
Tidak hanya cabai, harga bawang juga masih bertahan tinggi. Bawang merah tercatat dijual Rp50.700 per kg dan bawang putih mencapai Rp39.000 per kg. Sementara itu, harga beras di berbagai kualitas juga masih berada di level tinggi.
Untuk beras kualitas bawah I tercatat Rp14.400 per kg dan kualitas bawah II sebesar Rp15.350 per kg. Kemudian beras kualitas medium I berada di level Rp16.400 per kg dan medium II Rp16.300 per kg.
Selanjutnya, harga beras kualitas super I tercatat Rp17.800 per kg dan kualitas super II mencapai Rp16.750 per kg. Tingginya harga beras terjadi di tengah masih berlangsungnya penyesuaian distribusi pascapanen raya di sejumlah wilayah sentra produksi.
Di sektor protein hewani, harga daging ayam ras segar tercatat Rp39.500 per kg. Sementara itu, harga daging sapi kualitas I berada di level Rp146.700 per kg dan daging sapi kualitas II sebesar Rp138.800 per kg.
Untuk komoditas gula, harga gula pasir premium tercatat Rp19.850 per kg dan gula pasir lokal mencapai Rp18.600 per kg. Sedangkan minyak goreng curah berada di level Rp20.700 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I Rp23.300 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II sebesar Rp22.250 per liter.
Kenaikan harga pangan ini terjadi menjelang periode libur panjang pertengahan tahun yang biasanya turut meningkatkan konsumsi rumah tangga. Sejumlah pedagang mengaku permintaan masyarakat mulai meningkat terutama untuk kebutuhan bahan pokok harian seperti cabai, telur, ayam, dan beras.
Ekonom menilai tekanan harga pangan berpotensi memberi dampak terhadap inflasi nasional apabila berlangsung dalam jangka panjang. Komoditas pangan bergejolak atau volatile food masih menjadi salah satu faktor utama pembentuk inflasi di Indonesia, terutama saat distribusi terganggu dan pasokan menurun.
Di sisi lain, kenaikan harga pangan domestik juga sejalan dengan tren global. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) sebelumnya melaporkan harga pangan dunia kembali naik pada April 2026, menandai kenaikan selama tiga bulan berturut-turut.
Mengutip Anadolu Agency, indeks harga pangan FAO rata-rata berada di level 130,7 pada April 2026 atau naik 1,6 persen dibandingkan Maret dan meningkat 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan harga global terutama dipicu kenaikan harga minyak nabati, sereal, dan beras di tengah meningkatnya biaya energi serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Krisis di kawasan tersebut turut mengganggu rantai pasok dan meningkatkan biaya logistik internasional.
Indeks harga minyak nabati FAO bahkan melonjak 5,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan didorong oleh harga minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari yang meningkat akibat tingginya permintaan global dan penguatan sektor biofuel.
Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengatakan sistem pertanian global masih menunjukkan ketahanan meskipun tekanan geopolitik dan energi terus berlangsung. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa volatilitas harga pangan dunia masih akan tinggi apabila konflik di Timur Tengah terus memanas dan biaya energi tetap mahal.
“Minyak nabati mengalami kenaikan harga lebih kuat sebagian besar karena harga minyak yang lebih tinggi dan permintaan biofuel yang meningkat,” ujar Torero.
Pemerintah Indonesia sendiri terus memantau perkembangan harga pangan di pasar. Sejumlah langkah stabilisasi seperti operasi pasar, penguatan distribusi antardaerah, serta peningkatan cadangan pangan diperkirakan akan terus dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan lonjakan inflasi pangan dalam beberapa bulan ke depan.
0 Comments