IHSG Naik, Investor Asing Mulai Kembali Beli Saham

IHSG Bangkit Setelah Tertinggal dari Obligasi: Faktor-Faktor Pendukung dan Tren Terkini
Jakarta, 28 Agustus 2025 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan signifikan sepanjang Agustus 2025, setelah sempat kalah dari kinerja obligasi di awal tahun. Secara year-to-date, IHSG hanya mencatat kenaikan sekitar 4,5 persen hingga akhir Juli. Namun, dalam dua bulan terakhir reli besar membuat posisinya jauh membaik.
Reli Semester II: Pemulihan dan Rekor Terbaru
-
Juli 2025: IHSG melonjak 8,04 persen secara bulanan, menjadi salah satu lonjakan tertinggi dalam dua tahun terakhir. Penguatan ini ditopang oleh saham konglomerat dengan bisnis terdiversifikasi, sementara sektor perbankan justru sempat tertekan karena aksi jual asing.
-
Agustus 2025: IHSG mencapai level 7.952,09, naik 0,20 persen pada perdagangan 28 Agustus, dan sempat menyentuh rekor intraday 8.017,07 pada 15 Agustus. Angka tersebut menjadi level tertinggi IHSG sepanjang sejarah.
Year-to-Date Kini Membaik dan Melampaui Obligasi
Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, menilai bahwa setelah tertinggal pada semester I, IHSG kini mencatat pengembalian sekitar 12 persen year-to-date. Angka ini melampaui return indeks obligasi yang berada di kisaran 8 persen pada tahun 2025.
Faktor-Faktor Pemacu Penguatan
-
Likuiditas dan Pelonggaran Moneter
Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan hingga 100 basis poin sepanjang tahun berjalan. Penurunan ini membuat imbal hasil obligasi turun, sehingga dana investor kembali mengalir ke saham yang menawarkan potensi imbal hasil lebih besar. -
Valuasi Saham yang Menarik
Pada awal semester II, IHSG diperdagangkan pada price to earning ratio (PER) sekitar 9,9 kali, mendekati level undervalued dalam lima tahun terakhir. Hal ini menjadi daya tarik bagi investor asing untuk kembali masuk ke pasar domestik. -
Saham Konglomerat sebagai Motor Reli
Beberapa saham konglomerat mencatat kinerja luar biasa, seperti Barito Pacific (BRPT) yang naik lebih dari 58 persen, Petrosea (PTRO) 35 persen, Solusi Tunas Pratama (WIFI) 38 persen, dan CUAN sekitar 21 persen. Saham-saham ini mampu mengangkat IHSG ketika sektor perbankan masih cenderung melemah. -
Peningkatan Likuiditas Pasar
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia naik menjadi sekitar Rp14.247 triliun. Jumlah investor pasar modal kini sudah menembus 17,6 juta, dengan 7,49 juta di antaranya adalah investor saham. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak hingga 21 triliun rupiah. -
Dukungan Regulasi dan Infrastruktur Pasar
Program edukasi investor, digitalisasi perdagangan, dan koordinasi pemerintah dengan otoritas pasar modal memperkuat daya tarik Bursa Efek Indonesia di mata investor domestik maupun global.
Kondisi IHSG Terkini
-
Penutupan IHSG per 28 Agustus: 7.952,09 (+0,20 persen). Sepuluh sektor menguat, terutama industri (+2,58 persen) dan teknologi (+1,86 persen). Hanya sektor infrastruktur yang melemah (-0,79 persen).
-
Prediksi jangka pendek: IHSG diperkirakan bergerak terbatas di kisaran 7.850–7.970, dengan support di 7.800 dan resistance di 7.970.
Momentum Penting Pasca-Gejolak Awal Tahun
IHSG sempat anjlok tajam pada Maret 2025, bahkan turun lebih dari 7 persen dalam satu hari akibat ketidakpastian politik dan aksi protes besar-besaran. Namun, stabilisasi cepat dari pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK berhasil memulihkan kepercayaan pasar. Kini, IHSG tidak hanya pulih tetapi juga berhasil menorehkan rekor baru.
0 Comments