Arthur Hayes Ungkap Alasan Harga Bitcoin Masih Tertahan Meski Pencetakan Uang Terus Berlanjut
Arthur Hayes Ungkap Alasan Bitcoin Masih Tertahan Meski Likuiditas Global Terus Bertambah
Arthur Hayes meyakini bahwa pergerakan harga Bitcoin yang masih lesu bukan disebabkan oleh hilangnya likuiditas di pasar. Menurutnya, ledakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) kini menjadi magnet utama yang menyerap hampir seluruh aliran modal baru yang sebelumnya berpotensi masuk ke aset kripto.
Dalam wawancara bersama Bonnie Blockchain pada 26 Juni, Hayes menjelaskan alasan mengapa Bitcoin masih tertinggal meskipun jumlah uang beredar (M2) global terus meningkat.
Ke Mana Aliran Dana Pergi?
Hayes menilai lonjakan investasi di sektor AI menjadi faktor terbesar yang menghambat reli Bitcoin.
Menurutnya, peningkatan M2 dolar AS sebagian besar diimbangi oleh derasnya investasi ke perusahaan-perusahaan AI beserta rantai pasoknya. Alih-alih membeli Bitcoin, investor lebih memilih menanamkan modal pada produsen semikonduktor, perusahaan perangkat keras AI, dan berbagai bisnis yang mendukung ekosistem kecerdasan buatan.
Ia membandingkan fenomena ini dengan masa ketika investor ramai-ramai membeli saham para pemasok Apple setiap kali perusahaan tersebut memasuki siklus pertumbuhan baru. Kini, menurut Hayes, AI telah menjadi tema investasi paling dominan di pasar.
Mengapa Keuntungan dari AI Belum Mengalir ke Kripto?
Banyak pelaku pasar memperkirakan keuntungan dari saham-saham AI pada akhirnya akan diputar ke Bitcoin. Namun, Hayes memiliki pandangan berbeda.
Ia mengatakan bahwa investor yang meraup keuntungan besar dari AI justru lebih banyak mengalokasikan dananya ke aset dunia nyata, seperti rumah, mobil mewah, jam tangan premium, perjalanan eksklusif, hingga pesawat pribadi. Sebagian lainnya memilih melakukan diversifikasi dengan membeli lebih banyak saham teknologi yang tercatat di Nasdaq daripada masuk ke pasar kripto.
Hayes juga menyoroti bahwa kinerja harga Bitcoin belakangan ini membuat daya tariknya sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi mulai berkurang di mata sebagian investor. Akibatnya, mereka lebih memilih menambah eksposur ke saham-saham teknologi dibandingkan membeli BTC.
Karena itu, Hayes tidak memperkirakan akan ada aliran modal besar dari sektor AI ke pasar kripto sebelum narasi investasi AI mulai kehilangan momentumnya.
Jika AI Terkoreksi, Kripto Belum Tentu Diuntungkan
Hayes juga menepis anggapan bahwa koreksi pada saham-saham AI otomatis akan menguntungkan Bitcoin.
Sebaliknya, ia memperkirakan Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan justru akan ikut melemah pada fase awal penurunan tersebut. Dalam kondisi pasar yang penuh tekanan, investor biasanya menjual aset yang paling likuid terlebih dahulu untuk memenuhi margin call dan memperoleh dana tunai dengan cepat.
Karena pasar kripto beroperasi selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, aset digital sering kali menjadi pilihan pertama untuk dilikuidasi.
Apa yang Terjadi Setelah Gelombang Aksi Jual?
Meski memperkirakan pasar kripto akan ikut terkoreksi pada tahap awal, Hayes tidak yakin korelasi tersebut akan berlangsung lama.
Setelah tekanan jual mereda, pasar akan mulai membedakan aset yang memiliki fundamental kuat dengan aset yang lebih lemah. Menurut Hayes, ketika euforia investasi AI mulai memudar, investor kemungkinan akan kembali melirik Bitcoin dan aset kripto lainnya sebagai peluang investasi berikutnya.
0 Comments