Bitcoin Sempat Menembus US$82.000, SOL dan DOGE Menguat di Tengah Peringatan Michael Burry

Bitcoin Sempat Menembus US$82.000, SOL dan DOGE Menguat di Tengah Peringatan Michael Burry

Kripto utama tetap bertahan pada perdagangan Selasa meski pasar global mulai menghadapi tekanan yang lebih besar terhadap aset berisiko.

Bitcoin diperdagangkan sedikit di atas level US$81.000 pada sesi Asia setelah sempat menyentuh US$82.000 semalam. Di antara aset kripto utama, Solana (SOL) dan DOGE menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan hingga 2% dalam sehari. BNB juga naik 1,7% ke level US$662, sementara XRP menguat 0,9% ke US$1,46. Di sisi lain, Ether (ETH) justru turun sekitar 0,8%.

Investor Michael Burry, yang terkenal karena berhasil memprediksi krisis keuangan 2008 dan diangkat dalam film The Big Short, memperingatkan bahwa saham teknologi Amerika Serikat saat ini kemungkinan sudah terlalu mahal.

Dalam postingan terbarunya di Substack, Burry mengatakan indeks Nasdaq 100 diperdagangkan pada valuasi yang sangat tinggi dan menggambarkan kondisi pasar saat ini seperti “lokasi kecelakaan besar beberapa menit sebelum terjadi.”

Ia menyoroti kenaikan Philadelphia Semiconductor Index yang melonjak 70% sejak akhir Maret sebagai tanda bahwa euforia investasi kecerdasan buatan (AI) mulai terlalu panas. Burry juga menyarankan investor untuk mulai mengambil keuntungan dan mengurangi eksposur terhadap saham-saham AI.

Menurutnya, Wall Street kemungkinan melebih-lebihkan potensi pendapatan perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi hingga lebih dari 50%.

Sementara itu, harga minyak terus naik. Minyak Brent melonjak hampir 1% hingga menembus US$105 per barel setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meragukan kemungkinan tercapainya gencatan senjata dengan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi global.

Pasar keuangan global pun mulai bergerak lebih hati-hati. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,42%, sementara dolar AS menguat karena investor beralih ke aset safe haven.

Bursa saham Asia ikut melemah dari level tertingginya. Indeks Kospi Korea Selatan sempat turun hingga 5,1% setelah muncul usulan kebijakan pajak terhadap keuntungan AI yang memicu ketidakpastian di pasar. Indeks MSCI Asia Pacific juga bergerak fluktuatif, sementara futures saham Eropa dan Amerika Serikat sama-sama menunjukkan pelemahan.

Meski pasar tradisional mengalami tekanan, Bitcoin sejauh ini masih mampu bertahan stabil. Namun, pelaku pasar kini menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Jika inflasi AS kembali lebih tinggi dari perkiraan, ditambah tensi geopolitik dan peringatan bearish dari Michael Burry, aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto berpotensi mengalami tekanan jual lebih besar. Sebaliknya, jika data inflasi lebih rendah dari ekspektasi, pasar kripto dan aset berisiko lainnya bisa mendapat sentimen positif dalam jangka pendek.