Bitcoin Terancam Crash Jelang Pemilu AS 2026, Analis Ungkap Pola Penurunan hingga 72%
Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Analis kripto Ali Martinez mengungkap pola historis yang menunjukkan Bitcoin mengalami penurunan tajam di sekitar periode pemilu pada sejumlah siklus sebelumnya.
Dalam unggahannya pada 24 Oktober 2026, Martinez mencatat penurunan Bitcoin sebesar 72% pada 2010, 65% pada 2014, 52% pada 2018, dan 27% pada 2022. Data tersebut menggambarkan penurunan harga di sekitar siklus pemilu, bukan imbal hasil tahunan Bitcoin.
Meski pola tersebut memicu kekhawatiran investor, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pemilu menjadi penyebab langsung penurunan harga Bitcoin. Pergerakan pasar pada setiap periode juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan berbagai peristiwa di industri kripto.
Binance Research mencatat Bitcoin mengalami penurunan tahunan sekitar 56% pada 2014, 73% pada 2018, dan 64% pada 2022. Sementara itu, data 2010 tidak dimasukkan karena likuiditas perdagangan Bitcoin saat itu masih sangat rendah.
Jika dilihat dari kinerja kuartal keempat, pergerakan Bitcoin juga menunjukkan hasil yang berbeda. Pada 2010, Bitcoin justru melonjak sekitar 391%. Sebaliknya, harga BTC turun 16,70% pada 2014, 42,16% pada 2018, dan 14,75% pada 2022.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pola penurunan Bitcoin tidak selalu sama menjelang maupun setelah pemilu Amerika Serikat.
Sejumlah peristiwa besar turut memengaruhi harga Bitcoin pada periode sebelumnya. Pada 2014, pasar kripto menghadapi krisis akibat runtuhnya bursa Mt. Gox. Pada 2018, perselisihan terkait pemisahan jaringan Bitcoin Cash memperburuk tekanan pasar.
Sementara itu, penurunan pada 2022 terjadi di tengah kenaikan suku bunga Federal Reserve yang menekan aset berisiko. Situasi semakin memburuk setelah bursa kripto FTX mengajukan kebangkrutan pada 11 November 2022, tiga hari setelah pemungutan suara pemilu paruh waktu AS.
Waktu terbentuknya titik terendah harga Bitcoin juga berbeda pada setiap siklus. Bitcoin mencapai titik terendah sekitar 71 hari setelah pemilu 2014, 38 hari setelah pemilu 2018, dan 13 hari setelah pemilu 2022. Hal ini menunjukkan tidak adanya pola waktu yang pasti terkait penurunan harga setelah pemilu.
Pada siklus 2026, kondisi Bitcoin menunjukkan perbedaan dibandingkan periode sebelumnya. Harga BTC naik sekitar 40% dari titik terendah pada 1 Juli di kisaran US$57.850 menjadi sekitar US$81.455 pada 22 Oktober.
Menurut Glassnode, area US$80.000 hingga US$81.500 menjadi zona permintaan penting bagi Bitcoin. Level tersebut berada dekat dengan harga akumulasi ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat dan kepemilikan perusahaan.
Glassnode juga mencatat level valuasi Bitcoin yang lebih luas berada di sekitar US$77.600. Sementara itu, Ali Martinez mengidentifikasi US$73.000 sebagai level referensi penurunan berdasarkan biaya kepemilikan investor jangka pendek.
Adapun harga realisasi pemegang Bitcoin jangka pendek menurut Glassnode berada di sekitar US$75.800. Meski demikian, level-level tersebut bukan target penurunan yang sudah dipastikan akan tercapai.
Tekanan pasar juga terlihat dari arus dana ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Pada 22 Oktober, produk investasi tersebut mencatat arus keluar bersih sekitar US$635,6 juta. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena arus dana ETF dapat memberikan gambaran mengenai perubahan minat institusi terhadap Bitcoin.
Selain arus dana ETF, pasar juga menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve pada 28 Oktober 2026, beberapa hari sebelum pemilu berlangsung. Kebijakan moneter AS berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Dengan demikian, kekhawatiran mengenai potensi penurunan Bitcoin menjelang pemilu AS 2026 masih perlu dilihat secara hati-hati. Pola historis memang menunjukkan sejumlah penurunan besar di sekitar siklus pemilu, tetapi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan kondisi industri kripto tetap menjadi bagian penting dalam menentukan arah harga BTC.
0 Comments