Bitcoin Tertekan, Harga Uji US$63.000 di Tengah Gelombang Outflow ETF
Harga Bitcoin Bertahan di Sekitar US$63.000 di Tengah Outflow ETF dan Ketidakpastian Regulasi
Harga Bitcoin (BTC) bergerak di kisaran US$63.000 pada 1 Agustus setelah tekanan jual kembali meningkat. Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, melemahnya momentum pasar, dan ketidakpastian regulasi membuat investor masih memilih menunggu sebelum kembali masuk ke pasar.
Bitcoin Kesulitan Mempertahankan Level US$63.000
Berdasarkan data crypto.news, harga Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$63.082 setelah sempat turun di bawah US$63.000. Kenaikan yang sempat membawa BTC mendekati US$66.900 pada 21 Juli kini hampir sepenuhnya terkoreksi.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini berada tepat di bawah level Fibonacci retracement 78,6% di US$63.150, yang dihitung dari penurunan harga antara puncak Mei di US$82.492 hingga titik terendah Juni di US$57.884.
Jika harga ditutup di bawah level tersebut, hal itu dapat menjadi sinyal bahwa pembeli gagal mempertahankan area support. Kondisi tersebut berpotensi mendorong Bitcoin menguji kembali US$62.000, bahkan turun ke level psikologis US$60.000 jika tekanan jual semakin besar.
Sebaliknya, jika BTC mampu bertahan di area saat ini, harga masih berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi. Namun, Bitcoin perlu kembali naik di atas US$64.000 agar tekanan bearish mulai mereda.
Indikator Teknikal Masih Mendukung Skenario Bearish
Sejumlah indikator teknikal menunjukkan bahwa momentum pasar masih berpihak kepada penjual.
Relative Strength Index (RSI) harian turun ke 45,12, berada di bawah rata-rata pergerakannya di 51,99. Meski belum memasuki wilayah oversold, kondisi ini menunjukkan ruang penurunan masih terbuka sebelum muncul minat beli yang lebih kuat.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga memberikan sinyal bearish. Garis MACD telah memotong ke bawah garis sinyal, sementara histogram bergerak ke area negatif di -218,84, yang menandakan momentum pelemahan semakin kuat.
Pada grafik 4 jam, Bitcoin diperdagangkan di bawah garis tengah Bollinger Bands di US$63.886 dan mendekati batas bawah di US$62.489. Sementara itu, batas atas Bollinger Bands di sekitar US$65.284 menjadi level resistance terdekat.
Indikator Chaikin Money Flow (CMF) juga turun ke -0,22, yang menunjukkan aliran modal keluar dari Bitcoin masih berlangsung. Hal ini membuat peluang pemulihan harga dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas.
Outflow ETF Bitcoin Spot Capai US$265 Juta
Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari pasar ETF. Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar dana bersih sebesar sekitar US$265 juta pada 31 Juli.
ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock menjadi penyumbang outflow terbesar dengan US$123 juta, disusul Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) yang mencatat arus keluar sekitar US$54,8 juta.
Outflow ini mengakhiri tren inflow selama dua hari sebelumnya dan menunjukkan bahwa minat investor institusi masih belum stabil memasuki awal Agustus. Saat ini, total aset yang dikelola ETF Bitcoin spot di AS mencapai sekitar US$76,29 miliar, atau setara dengan 6,04% dari kapitalisasi pasar Bitcoin.
Ketidakpastian CLARITY Act Masih Membayangi Pasar
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat. Pemerintah AS diperkirakan akan meninjau usulan etik bipartisan sebagai bagian dari upaya meloloskan RUU yang mengatur struktur pasar aset kripto sebelum masa reses Senat pada Agustus.
Sementara itu, pasar prediksi Polymarket memperkirakan peluang CLARITY Act disahkan pada 2026 hanya sekitar 27% per 1 Agustus. Meski bukan prediksi resmi, angka tersebut mencerminkan rendahnya keyakinan investor bahwa pembahasan regulasi dapat segera mencapai kesepakatan.
Area Likuidasi Menunjukkan Level Penting
Peta likuidasi selama satu pekan menunjukkan banyak posisi leverage yang terkumpul di atas maupun di bawah harga Bitcoin saat ini.
Zona likuidasi terbesar di sisi bawah berada di sekitar US$62.000. Jika Bitcoin turun menembus batas bawah Bollinger Bands di grafik 4 jam, posisi long berpotensi terlikuidasi sehingga dapat mempercepat penurunan harga.
Di sisi atas, terdapat konsentrasi likuidasi kecil di sekitar US$63.300 yang dapat menjadi target awal jika terjadi rebound. Sementara itu, area US$65.000 hingga US$66.000 menjadi zona likuidasi posisi short yang paling besar.
Meski area likuidasi sering menjadi tujuan pergerakan harga, level tersebut tidak menjamin arah pasar. Bitcoin masih berpotensi turun lebih dulu untuk menyerap likuiditas di bawah US$63.000 sebelum mencoba pulih, terutama selama aliran dana masih menunjukkan tren negatif.
Bisakah Bitcoin Kembali Naik ke US$65.000?
Untuk memulai pemulihan, Bitcoin perlu kembali naik di atas garis tengah Bollinger Bands pada grafik 4 jam di sekitar US$63.886. Jika berhasil menembus US$64.000, peluang kenaikan menuju US$65.000 hingga US$65.284 akan semakin terbuka.
Apabila resistance tersebut berhasil ditembus, likuidasi posisi short dapat mendorong Bitcoin menguji area US$65.800 hingga US$66.000. Namun, tren naik yang lebih kuat baru akan terkonfirmasi jika BTC mampu menembus puncak Juli di sekitar US$66.900 dan level Fibonacci 0,618 di US$67.284.
Analis kripto Ali Martinez juga menyoroti munculnya sinyal jual dari indikator TD Sequential pada grafik tiga harian Bitcoin.
Menurut Martinez, indikator tersebut menjadi peringatan bahwa momentum kenaikan mulai melemah menjelang awal Agustus. Meski begitu, sinyal TD Sequential tidak secara otomatis mengonfirmasi bahwa harga akan turun.
Dalam jangka pendek, arah Bitcoin masih akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan area US$63.150, perkembangan arus dana ETF Bitcoin spot, serta kemajuan pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat.
Jika Bitcoin turun secara konsisten di bawah US$62.000, tekanan bearish berpotensi membawa harga menuju US$60.000 hingga kembali menguji titik terendah Juni di US$57.884. Sebaliknya, jika berhasil menembus US$65.284, tekanan jual diperkirakan mulai mereda dan fokus pasar dapat kembali bergeser ke target US$67.284.
0 Comments