Studi Terbaru: Sinyal Likuidasi Bitcoin yang Berulang Belum Mampu Memprediksi Crash Secara Akurat
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di arXiv menemukan bahwa sinyal peringatan likuidasi besar Bitcoin tidak selalu sama pada setiap peristiwa. Indikator yang muncul sebelum pasar jatuh dapat berpindah-pindah antara pergerakan harga, tingkat leverage, hingga aktivitas order beli dan jual, sehingga tidak ada satu sinyal yang dapat diandalkan untuk memprediksi setiap crash.
Penelitian ini dilakukan oleh Ramon Marc Garcia Seuma dan diunggah pada 29 Juli 2026. Studi tersebut masih berstatus preprint, sehingga belum melalui proses peer review. Peneliti menganalisis tujuh peristiwa crash besar di pasar kontrak berjangka perpetual BTCUSDT Binance yang terjadi antara Mei 2022 hingga Oktober 2025. Data yang digunakan meliputi harga per menit, open interest, posisi trader, serta rasio order beli dan jual selama sekitar dua bulan sebelum masing-masing crash.
Dalam penelitian tersebut, peneliti menguji apakah pasar menunjukkan tanda-tanda kehilangan stabilitas sebelum terjadi gelombang likuidasi. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan pola harga menjadi sinyal utama pada lima dari tujuh crash yang dianalisis. Namun, pada crash Februari dan Oktober 2025 yang dipicu kabar tarif impor secara tiba-tiba, indikator harga tidak memberikan sinyal yang jelas.
Peneliti menduga crash yang terjadi akibat tekanan pasar yang berkembang secara bertahap lebih mungkin meninggalkan sinyal pada pergerakan harga. Sebaliknya, crash yang dipicu oleh berita atau guncangan eksternal yang mendadak kemungkinan tidak menunjukkan pola tersebut. Meski demikian, karena hanya ada dua contoh dalam kategori ini, temuan tersebut masih berupa hipotesis dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Pengujian terhadap data di luar sampel juga menunjukkan bahwa pola yang muncul pada satu crash tidak selalu berlaku pada crash lainnya. Misalnya, pada crash Oktober 2025 sinyal lebih banyak muncul pada data leverage dan aktivitas order. Namun, ketika metode yang sama diterapkan pada crash Agustus 2024, justru harga yang menunjukkan sinyal, sementara sebagian besar indikator leverage dan aktivitas order tidak.
Dengan kata lain, tidak ada satu pun indikator yang secara konsisten memberikan sinyal peringatan dini pada seluruh tujuh crash yang diteliti.
Meski demikian, penelitian menemukan satu pola yang berulang pada enam peristiwa yang memiliki data lengkap. Variasi rasio order beli dan jual (taker buy/sell ratio) cenderung menyempit sebelum terjadi gelombang likuidasi besar. Namun, pola tersebut dinilai hanya menjadi kecenderungan umum yang terlihat pada banyak peristiwa, bukan sinyal yang cukup akurat untuk memprediksi crash tertentu.
Peneliti juga menyoroti sejumlah keterbatasan dalam studi ini. Analisis hanya mencakup tujuh peristiwa di satu bursa, yaitu Binance. Sebagian data pada 2022 tidak lengkap, sementara data likuidasi intraday tidak tersedia sehingga beberapa indikator leverage dan arus order menggunakan data proksi. Selain itu, penelitian ini belum menguji indikator lain yang sering diperhatikan investor kripto, seperti basis futures, arus dana ETF Bitcoin (ETF flows), maupun pengaturan jaminan (collateral settings).
Sebagai gambaran bahwa risiko pasar terus berkembang, setelah periode penelitian berakhir terjadi lagi aksi jual besar pada 25 Juni 2026 yang memicu likuidasi posisi derivatif sekitar US$1 miliar, menunjukkan masih banyak faktor yang dapat memengaruhi terjadinya crash di pasar Bitcoin.
0 Comments