Bitcoin Turun di Bawah US$85.000 Akibat Arus Keluar Investor Institusi dan Kekhawatiran Perang

Bitcoin Turun di Bawah US$85.000 Akibat Arus Keluar Investor Institusi dan Kekhawatiran Perang

Pasar aset digital mengalami tekanan jual besar pada 29 Januari 2026, setelah Bitcoin (BTC) turun lebih dari 5% dan menguji level penting di sekitar USD 84.000. Penurunan tajam ini menandai perubahan besar dari awal bulan yang sebelumnya cukup positif. Sejak mencapai puncak di USD 126.000 pada Oktober, harga Bitcoin kini telah terkoreksi sekitar 30%.

Tekanan jual ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor negatif. Pelaku pasar menyoroti arus keluar dana ETF Bitcoin spot sebesar USD 160 juta dalam sepekan, serta meredanya sentimen “Trump trade” yang sebelumnya menopang harga. Saat Bitcoin menembus level psikologis USD 88.000 pada sesi perdagangan Eropa, likuidasi posisi meningkat tajam dan mendorong harga turun lebih dalam. Sejumlah analis teknikal memperingatkan bahwa Bitcoin masih berpotensi turun ke area USD 80.000 bahkan USD 75.000, terutama menjelang jatuh tempo opsi bulanan pertama tahun ini pada Jumat.

Bitcoin Gagal Berperan sebagai Aset Safe Haven

Salah satu kekhawatiran terbesar pasar adalah kegagalan Bitcoin berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Ketika risiko konflik di Timur Tengah dan ketegangan dagang terkait Greenland mendorong harga emas menembus USD 5.500 dan perak mendekati USD 120, Bitcoin justru melemah.

Alih-alih bertindak sebagai “emas digital”, arus modal global terlihat berpindah dari aset kripto yang volatil ke logam mulia. Harga emas dan perak bahkan hampir dua kali lipat sejak awal masa jabatan kedua Presiden Trump. Kondisi ini memicu perdebatan di kalangan investor institusi terkait apakah peran Bitcoin sebagai pelindung risiko negara telah melemah seiring semakin eratnya keterkaitan Bitcoin dengan sistem keuangan tradisional. Dengan Indeks Fear and Greed turun ke level 43, pasar semakin memandang Bitcoin sebagai aset berisiko tinggi, bukan penyimpan nilai yang aman saat terjadi konflik global.

Tekanan Jatuh Tempo Opsi dan Suku Bunga Tinggi The Fed

Tekanan tambahan datang dari jatuh tempo kontrak opsi Bitcoin pada 30 Januari, di mana lebih dari 25% total posisi terbuka akan diselesaikan. Sejumlah investor institusi dilaporkan memindahkan Bitcoin ke bursa kripto untuk mengelola likuidasi, sehingga menambah pasokan di pasar ketika minat beli masih terbatas.

Di sisi lain, keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi juga meredam harapan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Selama biaya pinjaman masih mahal dan dolar AS tetap kuat, investor cenderung memilih imbal hasil yang lebih aman dari obligasi pemerintah atau keuntungan besar di pasar komoditas dibandingkan masuk ke aset kripto.

Hingga muncul katalis yang jelas—seperti pernyataan penting dari Ketua The Fed atau tercapainya kesepakatan anggaran di Senat AS—Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak dalam fase konsolidasi bearish, di mana tekanan jual masih lebih dominan.