Bitcoin Turun di Bawah USD 89.000, Pasar Saham AS dan Gejolak Obligasi Jepang Tekan Pasar

Bitcoin Turun di Bawah USD 89.000, Pasar Saham AS dan Gejolak Obligasi Jepang Tekan Pasar

Bitcoin dan mata uang kripto utama lainnya mengalami penurunan tajam pada Selasa malam seiring pasar global masuk ke mode risk-off. Investor melepas aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi serta tekanan di pasar saham dan obligasi.

Bitcoin turun 4,2% dalam 24 jam terakhir ke level sekitar US$88.746, dari sebelumnya sempat berada di US$92.500. Sementara itu, Ethereum terkoreksi lebih dalam, turun 7,3% ke US$2.953.

Penurunan kripto ini sejalan dengan pelemahan tajam pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq sama-sama ditutup melemah lebih dari 2%, sedangkan Dow Jones turun 1,76%. Ini menjadi sesi terburuk sejak Oktober bagi ketiga indeks utama AS.

Saham-saham terkait kripto juga ikut tertekan. Saham bursa kripto Coinbase turun 5,6%, penerbit stablecoin Circle melemah 7,5%, Strategy—perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia—turun 7,8%, sementara BitMine Immersion, pemegang treasury Ethereum terbesar, anjlok 9,4%.

Analis menilai tekanan pasar dipicu oleh kombinasi faktor makro global dan aksi likuidasi besar-besaran akibat posisi leverage. Data Coinglass mencatat sekitar US$1,07 miliar posisi kripto dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, mayoritas berasal dari posisi long.

Tekanan juga datang dari meningkatnya ketegangan dagang AS–Eropa, melemahnya pasar obligasi Jepang, serta berkurangnya minat dana pensiun terhadap obligasi pemerintah AS. Kondisi ini mendorong fenomena yang disebut pelaku pasar sebagai “Sell America”, di mana saham, obligasi, dolar AS, dan Bitcoin turun, sementara emas justru menguat.

Sumber kepanikan utama berasal dari Jepang. Penjualan besar-besaran obligasi pemerintah Jepang mendorong imbal hasil (yield) jangka panjang ke level tertinggi dalam beberapa dekade, memicu gejolak di pasar global. Situasi ini bahkan dijuluki sebagian trader sebagai “Japanic”.

Arah pasar selanjutnya dinilai akan sangat bergantung pada hasil pemilu cepat Jepang yang dijadwalkan pada 8 Februari. Hasil pemilu tersebut bisa memperburuk ketidakpastian pasar, atau sebaliknya mendorong bank sentral Jepang kembali menerapkan kebijakan pelonggaran moneter agresif.

Ke depan, pelaku pasar kripto mencermati area support penting Bitcoin di kisaran US$87.000–US$88.000. Jika level ini jebol, Bitcoin berpotensi turun lebih lanjut menuju US$85.000. Investor juga memantau perkembangan kebijakan tarif, sinyal bank sentral AS (The Fed), kondisi leverage di pasar derivatif, serta arus dana ETF dan institusi untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda.