Bukan Arus Dana ETF, Ancaman Terbesar Bitcoin Justru Datang dari Tembok Likuidasi di Level US$39.900
Bukan Cuma ETF, Risiko Bitcoin Kini Juga Datang dari Pasar Kredit Kripto
Selama tujuh hari berturut-turut, dari 14 hingga 22 Juli, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat membukukan arus dana masuk (inflow) sekitar US$999 juta, berdasarkan data Farside Investors. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama. Dalam empat hari berikutnya hingga 28 Juli, investor menarik dana sekitar US$526 juta dari produk tersebut.
Secara keseluruhan, sepanjang periode 29 Mei hingga 28 Juli, ETF spot Bitcoin di AS masih mencatat arus dana keluar bersih sekitar US$4,46 miliar. Meski begitu, sejak pertama kali diluncurkan, total arus dana masuk kumulatif ke ETF spot Bitcoin masih mencapai sekitar US$51,4 miliar per 29 Juli.
Selama ini, arus dana ETF kerap dijadikan acuan untuk mengukur minat investor institusi terhadap Bitcoin. Ketika inflow meningkat, pasar biasanya menilai permintaan institusi sedang menguat. Sebaliknya, outflow sering dianggap sebagai sinyal bahwa minat investor besar mulai melemah.
Namun, kondisi pasar Bitcoin kini telah berkembang.
Investor institusi tidak lagi hanya mengakses Bitcoin melalui ETF spot. Mereka juga mulai memanfaatkan berbagai instrumen lain, seperti produk berbasis opsi yang menghasilkan pendapatan (options income), pinjaman dengan jaminan Bitcoin (Bitcoin-backed lending), hingga instrumen kredit terstruktur. Artinya, dana yang keluar dari ETF belum tentu benar-benar meninggalkan pasar Bitcoin, tetapi bisa saja berpindah ke instrumen investasi lainnya.
Akses Investor Institusi ke Bitcoin Semakin Beragam
ETF spot Bitcoin milik BlackRock, IBIT, masih menjadi produk terbesar dengan total arus dana masuk sekitar US$60,3 miliar hingga 28 Juli.
Sementara itu, BlackRock juga meluncurkan ETF baru bernama BITA pada Juni lalu. Produk ini dirancang untuk menghasilkan pendapatan rutin bagi investor melalui strategi covered call, yaitu menjual opsi atas sebagian portofolio Bitcoin yang dimiliki. Hingga 28 Juli, aset kelolaan BITA telah mencapai sekitar US$59,9 juta.
Di sisi lain, pasar pinjaman berbasis aset kripto juga terus bertumbuh. Menurut Galaxy Research, nilai pasar kredit kripto mencapai sekitar US$67 miliar pada kuartal pertama 2026, naik hampir 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu contohnya adalah Ledn yang menerbitkan sekuritas berbasis pinjaman dengan jaminan Bitcoin senilai US$188 juta. Produk tersebut menjadi salah satu sekuritas pinjaman aset digital pertama yang memperoleh peringkat investment grade dari lembaga pemeringkat global.
CEO Ledn, Adam Reeds, menilai bahwa mengukur adopsi institusi terhadap Bitcoin kini tidak lagi cukup hanya melihat data ETF. Menurutnya, semakin banyak investor yang memanfaatkan Bitcoin sebagai aset jaminan untuk memperoleh pembiayaan tanpa harus berspekulasi terhadap pergerakan harga dalam jangka pendek.
Zona Likuidasi Bisa Menjadi Risiko Baru
Meski pasar kredit kripto membuka peluang baru bagi investor institusi, instrumen ini juga menghadirkan risiko tambahan, terutama jika harga Bitcoin mengalami penurunan tajam.
Sebagai ilustrasi, apabila sebuah pinjaman memiliki rasio loan-to-value (LTV) awal sebesar 50 persen dan akan dilikuidasi ketika LTV mencapai 80 persen, maka harga Bitcoin dapat turun sekitar 37,5 persen sebelum jaminan tersebut dipaksa dijual.
Dengan asumsi harga Bitcoin berada di kisaran US$63.889, maka zona likuidasi diperkirakan berada di sekitar US$39.900.
Sementara itu, jika pinjaman dimulai dengan rasio LTV sebesar 40 persen, harga Bitcoin harus turun sekitar 50 persen untuk mencapai ambang likuidasi yang sama. Dalam skenario tersebut, zona likuidasinya berada di kisaran US$31.900.
Karena itu, level-level harga tersebut kini mulai dipantau pelaku pasar sebagai potensi area yang dapat memicu gelombang likuidasi apabila tekanan jual terhadap Bitcoin semakin besar.
Arus Dana ETF Kini Hanya Sebagian dari Gambaran Pasar
Pada 29 Juli, Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50–3,75 persen. Suku bunga yang tetap tinggi berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin sekaligus meningkatkan biaya pendanaan di pasar kredit.
Sementara itu, VanEck melaporkan bahwa sepanjang Juni, ETF spot Bitcoin di AS mengalami arus dana keluar sekitar US$5 miliar dalam 19 dari 22 hari perdagangan. Kondisi tersebut disertai melemahnya momentum harga Bitcoin serta meningkatnya aktivitas lindung nilai (hedging) di pasar opsi.
Ke depan, apabila semakin banyak institusi menggunakan Bitcoin sebagai aset jaminan, pasar Bitcoin berpotensi menjadi lebih matang karena permintaan tidak lagi hanya berasal dari investor yang mengejar kenaikan harga.
Namun, jika arus dana keluar dari ETF terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan di pasar kredit—seperti melonjaknya margin call, kenaikan imbal hasil sekuritas berbasis Bitcoin, dan bertambahnya likuidasi jaminan—maka tekanan terhadap harga Bitcoin dapat menjadi jauh lebih besar.
Dengan demikian, arus dana ETF masih menjadi indikator penting untuk dipantau, tetapi tidak lagi mencerminkan keseluruhan kondisi pasar. Investor juga perlu memperhatikan perkembangan pasar kredit kripto, rasio LTV, zona likuidasi, serta kondisi instrumen utang berbasis Bitcoin untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai arah pergerakan pasar Bitcoin.
0 Comments