Crypto Bears Waspada: Siklus Likuiditas Global Berpotensi Jadi yang Terpanjang Sepanjang Sejarah
Analis kripto Matt Hughes menilai siklus likuiditas global saat ini berlangsung jauh lebih lama dari biasanya. Menurutnya, inilah alasan mengapa bersikap bearish terhadap kripto secara konsisten sejak 2020 justru merugikan. Hughes, yang dikenal dengan nama akun “The Great Mattsby”, mengatakan bahwa siklus ini tidak lagi mengikuti pola normal 4–6 tahun, melainkan telah berubah menjadi super-cycle yang sudah berjalan sekitar enam tahun dan belum menunjukkan tanda puncak yang jelas hingga awal 2026.
Apa Artinya bagi Pasar Kripto
Menurut Hughes, mekanisme klasik yang biasanya mengakhiri siklus likuiditas — yaitu pengetatan kebijakan bank sentral — kini tidak lagi bekerja secara efektif. Tingginya utang global, sumber penciptaan uang yang semakin beragam, serta kebutuhan investasi yang sangat besar membuat likuiditas terus mengalir ke aset berisiko seperti kripto.
Pertama, Hughes menyoroti besarnya utang global yang telah melampaui 350% dari PDB dunia. Kondisi ini membuat pemerintah dan institusi keuangan kesulitan melakukan pembiayaan ulang tanpa dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Jika pengetatan dilakukan terlalu agresif, risiko tekanan finansial besar — terutama di negara berkembang — akan meningkat. Akibatnya, pembuat kebijakan cenderung mempertahankan stimulus dan menunda kontraksi ekonomi yang biasanya menandai akhir siklus likuiditas.
Kedua, Hughes menilai likuiditas global tidak lagi didominasi oleh satu bank sentral, khususnya The Fed AS. Sistem keuangan global kini semakin terfragmentasi, dengan negara seperti China dan kelompok BRICS menciptakan likuiditas di luar sistem dolar AS. Artinya, saat The Fed mengetatkan kebijakan, likuiditas dari wilayah lain masih bisa menopang pasar. Selain itu, aset alternatif seperti emas, yuan, dan kripto semakin berperan sebagai penyimpan nilai dalam sistem moneter yang multipolar.
Ketiga, Hughes menekankan besarnya kebutuhan modal di berbagai sektor. Industri seperti kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, pusat data, pabrik chip, dan blockchain membutuhkan pendanaan dalam skala besar. Permintaan modal yang terus-menerus ini menyerap likuiditas dan menjaga arus dana ke aset berisiko. Ia menilai pergerakan aset seperti saham small-cap, saham inovasi, dan Bitcoin yang mendekati rekor tertinggi selaras dengan kondisi siklus yang masih relatif awal, bukan menjelang akhir.
Terakhir, Hughes menyoroti kecenderungan kebijakan yang semakin pro-pertumbuhan. Bank sentral kini lebih aktif mencegah perlambatan ekonomi dengan berbagai instrumen, mulai dari forward guidance, pengendalian kurva imbal hasil, hingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Faktor geopolitik seperti relokasi industri (reshoring), pembangunan infrastruktur, dan transisi energi juga mendorong sikap kebijakan yang tetap longgar. Indikator resesi tradisional, seperti inversi yield curve jangka panjang, sejauh ini belum memicu krisis besar.
Meski demikian, tidak semua pihak sepakat bahwa likuiditas masih sepenuhnya mendukung pasar. Seorang pengguna menyoroti bahwa momentum likuiditas mulai melambat dan berpotensi mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Hughes menanggapi bahwa selama ekonomi masih kuat, likuiditas bisa berputar ke kelas aset lain tanpa harus menyebabkan kejatuhan pasar secara menyeluruh.
Bagi pasar kripto, perdebatan ini menegaskan dilema utama: apakah panjangnya siklus likuiditas tetap menjadi faktor pendukung utama, atau perlambatan likuiditas hanya akan mengubah arah rotasi aset. Hughes menyiratkan bahwa koreksi besar di kripto kemungkinan baru terjadi jika ada pembalikan likuiditas global yang jelas dan menyeluruh, bukan sekadar perlambatan. Dengan demikian, puncak siklus kripto masih terbuka dan bisa terjadi pada akhir 2026 atau bahkan lebih lama.
0 Comments