Tom Lee: FOMO Emas dan Perak Bisa Picu Rotasi ke Kripto

Tom Lee: FOMO Emas dan Perak Bisa Picu Rotasi ke Kripto

Tom Lee Peringatkan FOMO Emas dan Perak Menguras Leverage Kripto Sebelum Lonjakan Bitcoin Berikutnya

Rotasi modal antar kelas aset dapat mengganggu sinyal harga jangka pendek tanpa mengubah tren jangka panjang. Managing Partner dan Head of Research Fundstrat Global Advisors, Tom Lee, membahas dinamika ini di CNBC pada 26 Januari, menjelaskan bagaimana kuatnya permintaan terhadap emas dan perak dapat sementara menekan kinerja pasar kripto.

“Saya pikir sebagian ini bersifat mekanis — ketika emas dan perak naik, dan investor menggunakan margin atau opsi, maka kapasitas leverage mereka digunakan di sana. Padahal leverage itu bisa digunakan untuk membeli aset berisiko lain seperti saham Magnificent 7 atau kripto,” jelas Lee.
“Namun karena kripto secara inheren sudah mengalami deleveraging, dampaknya akan lebih terasa di pasar kripto.”

Ia menjelaskan bahwa neraca keuangan investor menjadi terbatas ketika leverage dialihkan ke logam mulia, sehingga mengurangi eksposur ke aset lain. Kepala riset Fundstrat itu menambahkan:

“Selama emas dan perak terus naik, akan ada FOMO untuk membeli aset tersebut dibanding kripto.”

Lee juga menjelaskan bahwa kripto biasanya diuntungkan oleh pelemahan dolar AS dan kebijakan Federal Reserve yang lebih longgar. Namun, sektor ini saat ini tidak mendapat dorongan tambahan dari leverage karena industri kripto sudah lebih dulu melakukan deleveraging, sehingga potensi kenaikan jangka pendek menjadi lebih terbatas meskipun kondisi makro sebenarnya mendukung.

Menanggapi rotasi dana ke logam mulia, Lee menilai kinerja kuat emas dan perak sebagai sinyal awal (leading indicator), bukan sebagai tanda negatif bagi pasar kripto. Ia menunjuk pola yang berulang dalam siklus pasar sebelumnya, dengan mengatakan:

“Ketika emas dan perak mulai beristirahat atau melemah, di masa lalu hal itu sering diikuti oleh lonjakan bitcoin dan ethereum.”

Ia menjelaskan bahwa bitcoin dan ethereum secara historis cenderung tertinggal selama periode ketika modal terkonsentrasi di logam mulia, namun akan melesat setelah tren tersebut kehilangan momentum. Menurutnya, perbedaan pergerakan saat ini masih konsisten dengan siklus sebelumnya, di mana likuiditas, leverage, dan sentimen investor secara bertahap kembali selaras.

Seiring perdagangan logam mulia menjadi semakin padat, Lee menilai situasi ini sebagai kondisi yang secara historis sering mendahului penguatan baru di pasar kripto — bukan sebagai tanda melemahnya permintaan fundamental terhadap aset digital.