Crypto Lending Tidak Hancur, Hanya Terjadi Kesalahan dalam Penilaian Risiko
Crypto lending kembali bangkit, tetapi industri masih memperdebatkan bagaimana risiko seharusnya dikelola dan dihargai.
Siklus kripto sebelumnya menunjukkan bahwa banyak platform pinjaman kripto ternyata tidak seaman yang terlihat. Perusahaan seperti Celsius dan BlockFi runtuh setelah mengandalkan struktur berisiko yang tersembunyi di balik imbal hasil tinggi. Beberapa protokol DeFi juga gagal bertahan saat pasar mengalami tekanan besar.
Kini, perusahaan crypto lending mencoba membangun kembali industri dengan pendekatan yang berbeda.
Lending yang Lebih Aman dan Sederhana
Beberapa perusahaan, seperti Arch Lending, percaya solusi terbaik adalah menyederhanakan sistem lending dan mengurangi risiko.
Menurut co-founder Arch Lending, Himanshu Sahay, banyak masalah pada siklus sebelumnya berasal dari praktik rehypothecation, yaitu penggunaan kembali aset nasabah berkali-kali, ditambah eksposur pihak ketiga yang tidak jelas serta pencampuran dana pengguna.
Untuk menghindari kesalahan yang sama, model lending terbaru kini fokus pada kontrol yang lebih ketat. Peminjam harus memberikan aset kripto sebagai jaminan, aset disimpan oleh kustodian resmi, dan syarat pinjaman ditetapkan sejak awal.
Tujuannya bukan hanya menawarkan yield tertinggi, tetapi juga membuat struktur pinjaman lebih transparan dan mudah dipahami pengguna.
Model seperti ini menarik bagi investor kripto jangka panjang yang ingin mendapatkan likuiditas tanpa harus menjual aset mereka atau terkena pajak saat pasar sedang volatil.
Risiko Tetap Ada
Di sisi lain, ada perusahaan yang percaya bahwa risiko tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dan justru harus dibuat lebih terbuka serta dihargai secara tepat.
CEO Fira, Pierre Person, mengatakan bahwa pertanyaan utamanya bukan apakah sebuah protokol aman secara umum, tetapi apakah pasar tertentu di dalam protokol tersebut aman.
Platform seperti Fira Money dan Usual membagi pasar lending menjadi beberapa bagian kecil. Setiap pasar memiliki aturan jaminan, rasio loan-to-value (LTV), dan parameter risiko masing-masing. Pengguna kemudian bisa memilih tingkat risiko dan imbal hasil sesuai preferensi mereka.
Pendekatan ini menganggap risiko akan selalu ada, tetapi investor harus memahami secara jelas risiko yang mereka ambil.
Pertumbuhan stablecoin juga ikut mendukung sistem ini. Saat ini, suplai stablecoin telah melampaui US$280 miliar, meningkatkan permintaan terhadap lending on-chain dan aset jaminan berbasis yield.
Suku Bunga Tetap vs Variabel
Salah satu perbedaan terbesar antar model lending adalah cara mereka mengelola suku bunga.
Banyak platform DeFi menggunakan bunga variabel yang terus berubah mengikuti kondisi pasar. Saat pasar mengalami tekanan, biaya pinjaman bisa melonjak tajam dalam waktu singkat.
Fira mencoba mengatasi masalah ini dengan mengunci bunga sejak awal pinjaman dibuat. Setelah posisi dibuka, suku bunga tetap sama hingga jatuh tempo meskipun kondisi pasar berubah.
Pendekatan ini memberi kepastian lebih bagi peminjam dan melindungi mereka dari lonjakan bunga mendadak.
Sementara itu, lender seperti Arch Lending lebih fokus mengurangi risiko melalui struktur pinjaman yang sederhana, pengelolaan jaminan yang ketat, dan lebih sedikit variabel yang berubah selama masa pinjaman.
Kedua pendekatan ini sama-sama bertujuan meningkatkan stabilitas, meski tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.
Pasar Mulai Pulih
Aktivitas crypto lending mulai tumbuh kembali setelah sempat anjlok בעקבות krisis pasar 2022.
Protokol DeFi besar seperti Morpho dan Aave kini mendukung pinjaman dan deposito bernilai miliaran dolar. Aave bahkan telah melampaui US$40 miliar dalam total net deposit.
Namun, pasar kini berubah. Investor tidak lagi hanya fokus pada besarnya yield, tetapi juga mulai memperhatikan bagaimana yield tersebut dihasilkan dan risiko apa yang ada di baliknya.
Lender terpusat masih menghadapi risiko terkait regulasi dan sistem kustodian, sementara platform DeFi menuntut pengguna memahami struktur pasar yang semakin kompleks.
Apa Selanjutnya?
Crypto lending tidak kembali dengan satu model yang sama. Industri kini terpecah antara dua pendekatan utama.
Satu pihak ingin meminimalkan risiko melalui struktur yang lebih ketat dan sederhana. Pihak lainnya percaya risiko harus tetap terbuka dan dihargai langsung oleh pasar.
Kejatuhan siklus sebelumnya menunjukkan bahaya ketika risiko diabaikan. Kali ini, industri mencoba membuat risiko tersebut lebih transparan.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah sistem baru ini benar-benar akan membuat crypto lending lebih kuat, atau hanya membuat kompromi risikonya menjadi lebih terlihat.
0 Comments