Defisit Neraca Pembayaran RI Menyusut pada Kuartal II 2026

Defisit Neraca Pembayaran RI Menyusut pada Kuartal II 2026

Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Menyusut Jadi US$900 Juta di Kuartal II 2026

Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2026 mengalami perbaikan signifikan. Defisit NPI tercatat sekitar US$900 juta, jauh lebih kecil dibandingkan defisit pada kuartal I 2026 yang mencapai US$9,1 miliar.

Perbaikan tersebut terutama berasal dari membaiknya transaksi modal dan finansial yang kembali mencatatkan surplus besar. Kondisi ini membantu menahan tekanan dari transaksi berjalan yang justru mengalami pelebaran defisit selama periode April-Juni 2026.

BI menilai perkembangan NPI secara keseluruhan masih perlu terus diperkuat, terutama karena ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global masih tinggi. Meski demikian, besarnya cadangan devisa serta kembali masuknya modal asing menjadi faktor penting yang menjaga ketahanan eksternal Indonesia.

Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026, BI mencatat investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 membukukan net inflows sebesar US$8,5 miliar, terutama masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Aliran modal tersebut menjadi salah satu penopang utama transaksi modal dan finansial Indonesia. 

Transaksi Berjalan Jadi Sumber Tekanan

Berbeda dengan transaksi modal dan finansial, transaksi berjalan justru menunjukkan tekanan yang lebih besar. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai US$12,5 miliar atau sekitar 3,3% terhadap PDB, meningkat tajam dibandingkan defisit pada kuartal I 2026 yang sebesar US$3,6 miliar atau 1,0% terhadap PDB.

Pelebaran defisit tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, terutama meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. Kenaikan impor minyak menjadi salah satu penyebabnya, sejalan dengan tingginya harga minyak dunia.

Selain migas, surplus perdagangan nonmigas juga mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi domestik.

Dengan kata lain, meningkatnya aktivitas ekonomi di dalam negeri turut mendorong kebutuhan impor. Kondisi ini memang dapat menjadi cerminan permintaan domestik yang tetap kuat, tetapi pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan dan kebutuhan valuta asing.

Tekanan lainnya berasal dari neraca pendapatan primer. Defisit komponen ini meningkat seiring dengan pembayaran pendapatan primer yang lebih besar. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Transaksi Modal dan Finansial Berbalik Surplus

Di tengah pelebaran defisit transaksi berjalan, transaksi modal dan finansial memberikan penopang yang cukup kuat.

Pada kuartal II 2026, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sekitar US$12,0 miliar. Angka tersebut berbalik positif dibandingkan kuartal I 2026 yang mengalami defisit sekitar US$4,8 miliar.

Peningkatan ini terutama didorong oleh aliran investasi langsung dan investasi portofolio.

Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. BI menyebut kondisi tersebut menunjukkan persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik masih relatif positif.

Sementara itu, investasi portofolio mengalami peningkatan seiring semakin menariknya imbal hasil instrumen keuangan domestik. Investor asing kembali meningkatkan kepemilikan terhadap sejumlah instrumen keuangan Indonesia, terutama SBN dan SRBI.

BI mencatat hingga kuartal II 2026, aliran masuk bersih investasi portofolio mencapai US$8,5 miliar. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membantu memperbaiki NPI setelah tekanan besar pada kuartal pertama. 

Investasi lainnya juga menunjukkan perbaikan karena defisitnya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Cadangan Devisa Tetap Kuat

Ketahanan eksternal Indonesia juga ditopang oleh posisi cadangan devisa yang masih tinggi.

Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat US$145,6 miliar, naik tipis dari posisi akhir Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar. BI menyebut peningkatan tersebut terutama berasal dari penerimaan pajak dan jasa, meskipun terdapat pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah. 

Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor, atau sekitar 5,4 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Cadangan devisa yang besar memberikan ruang bagi BI untuk menghadapi gejolak eksternal, termasuk volatilitas pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Cadangan Devisa Juli Masih Terjaga

Perkembangan terbaru juga menunjukkan posisi cadangan devisa masih relatif stabil setelah berakhirnya kuartal II.

BI melaporkan cadangan devisa pada akhir Juli 2026 berada di level US$145,3 miliar, hanya sedikit turun dibandingkan US$145,6 miliar pada akhir Juni.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi rupiah. Namun, penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah membantu menjaga posisi cadangan devisa tetap kuat. 

Dengan demikian, hingga akhir Juli, cadangan devisa Indonesia masih berada di atas standar kecukupan internasional. BI juga menilai posisi tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Perdagangan Indonesia Masih Menghadapi Tantangan

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan ke depan adalah perkembangan neraca perdagangan. BI mencatat secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Mei 2026 masih mencatat surplus sekitar US$4,03 miliar. Namun, pada Mei 2026 saja neraca perdagangan mengalami defisit sekitar US$1,61 miliar. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa surplus perdagangan belum sepenuhnya konsisten. Kinerja ekspor masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas dunia, sementara impor dapat meningkat ketika aktivitas ekonomi domestik menguat.

Karena itu, kemampuan Indonesia menjaga surplus perdagangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan transaksi berjalan.

Pertumbuhan Ekonomi Tetap Menjadi Penopang

Di sisi domestik, perekonomian Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai sekitar Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan mencapai sekitar Rp3.576,2 triliun. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73% dibandingkan kuartal I 2026. 

Pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat dapat menjadi sentimen positif bagi investor asing. Namun, pertumbuhan permintaan domestik juga perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi dan ekspor agar tidak terlalu meningkatkan kebutuhan impor.

Prospek NPI ke Depan

BI memperkirakan prospek NPI masih cukup baik meskipun lingkungan global belum sepenuhnya kondusif.

Dari sisi transaksi berjalan, defisit diperkirakan dapat lebih rendah ke depan. Salah satu faktor pendukungnya adalah membaiknya prospek ekspor seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas global yang menjadi unggulan Indonesia.

Kinerja ekspor juga diharapkan mendapatkan manfaat dari perkembangan kebijakan perdagangan internasional, termasuk dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

Namun, risiko tetap perlu diperhatikan. Perubahan harga minyak dunia, kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga negara maju, pergerakan dolar AS, serta volatilitas pasar keuangan dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.

Dari sisi transaksi modal dan finansial, BI memperkirakan surplus masih dapat dipertahankan. Daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik serta prospek perekonomian Indonesia menjadi faktor yang diharapkan terus menarik modal asing.

Sinergi Pemerintah dan BI Diperkuat

Untuk menjaga keseimbangan eksternal, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah. Kebijakan moneter dan fiskal diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Salah satu fokusnya adalah mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Perkembangan aliran modal pada kuartal II menjadi sinyal bahwa kebijakan tersebut mulai memberikan dukungan terhadap sektor eksternal. Namun, ketergantungan terhadap arus modal portofolio juga perlu dikelola karena jenis investasi ini relatif lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global.

NPI Masih Defisit, tetapi Tekanan Berkurang

Secara keseluruhan, defisit NPI sebesar US$900 juta pada kuartal II 2026 memang masih menunjukkan bahwa sektor eksternal Indonesia menghadapi tekanan. Namun, dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal I, kondisi tersebut menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan.

Surplus transaksi modal dan finansial sebesar US$12,0 miliar berhasil memberikan bantalan terhadap defisit transaksi berjalan yang mencapai US$12,5 miliar.

Posisi cadangan devisa yang tetap tinggi juga memberikan tambahan ketahanan bagi perekonomian Indonesia. Bahkan hingga akhir Juli 2026, cadangan devisa masih berada di sekitar US$145,3 miliar. 

Ke depan, tantangan utama Indonesia adalah menjaga agar defisit transaksi berjalan tidak melebar terlalu jauh sekaligus mempertahankan arus masuk modal asing. Peningkatan ekspor bernilai tambah, penguatan industri domestik, efisiensi impor, serta penciptaan iklim investasi yang kompetitif akan menjadi faktor penting.

Dengan fundamental ekonomi yang masih tumbuh sekitar 5%, cadangan devisa yang memadai, serta aliran modal asing yang kembali menguat, BI menilai ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga. Meski demikian, perkembangan ekonomi global dan pasar keuangan internasional tetap menjadi faktor risiko yang perlu terus diwaspadai.