Harga Ayam Melonjak hingga Rp50.000 per Kg, Ukuran Daging Makin Kecil
Harga Ayam Tembus Rp50.000 per Kg, Ukuran Daging Makin Kecil di Pasar
Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional Jakarta terus mengalami kenaikan. Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, harga daging ayam kini berada di kisaran Rp50.000 per kilogram (kg). Kenaikan ini disebut pedagang telah berlangsung hampir sebulan terakhir.
Tidak hanya harga yang meningkat, pedagang juga mengungkapkan adanya perubahan pada ukuran ayam yang dijual. Konsumen mengeluhkan ukuran potongan maupun ayam yang dinilai semakin kecil meskipun harga per kilogram justru semakin mahal.
Sainah (56), salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Kebayoran Lama, mengatakan kenaikan harga sudah terasa cukup lama. Menurut dia, harga ayam yang sebelumnya lebih rendah kini secara bertahap naik hingga mencapai sekitar Rp50.000 per kg.
“Naiknya banyak. Udah kena bulanan,” ujar Sainah saat ditemui pada Jumat (21/8/2026).
Kenaikan tersebut mulai dirasakan langsung oleh konsumen. Sainah mengatakan sejumlah pembeli bahkan mempertanyakan ukuran ayam yang mereka dapatkan.
“Ada yang komplain, ‘Ibu, kok ayamnya kecil-kecil banget?’,” ujar dia.
Harga Ayam Naik Bertahap
Pedagang lainnya, Priyanto (56), mengatakan kenaikan harga ayam di tingkat pasar dapat berlangsung cukup cepat. Ia menyebut harga bahkan bisa meningkat sekitar Rp2.000 dalam satu kali kenaikan.
“Jadi naiknya itu enggak Rp500. Sekali naik Rp2.000 per hari. Sejak MBG mulai lagi sudah naik Rp8.000,” kata Priyanto.
Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual kepada konsumen. Di sisi lain, pedagang juga menghadapi dilema karena kenaikan harga terlalu tinggi berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Kenaikan harga ayam di Pasar Kebayoran Lama juga bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Pada 10 Agustus 2026, harga ayam di pasar yang sama sudah berada di kisaran Rp50.000 per kg untuk paha, sedangkan dada ayam mencapai sekitar Rp55.000 per kg.
Artinya, dalam beberapa pekan terakhir, harga ayam memang berada pada level relatif tinggi di pasar eceran Jakarta.
Pedagang Kaitkan Kenaikan dengan MBG
Salah satu dugaan pedagang mengenai kenaikan harga ayam adalah meningkatnya kebutuhan pasokan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pedagang menilai sebagian pasokan ayam kini terserap untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga persaingan mendapatkan pasokan ayam di pasar menjadi lebih besar.
Sainah mengatakan pengadaan dalam jumlah besar berpotensi membuat pedagang atau pembeli skala kecil harus bersaing dengan pembeli yang memiliki kebutuhan dalam jumlah besar.
“Dia kan belinya enggak dari orang kecil-kecil. Belinya langsung minta yang murah. Bisa-bisa orang yang kecil-kecil jadi sasaran. Kalau nggak kuat mentalnya, nggak kuat,” ujarnya.
Namun, pengaruh MBG terhadap harga ayam perlu dilihat dalam konteks rantai pasok secara keseluruhan. Pemerintah sendiri sejak beberapa bulan terakhir memang mendorong program tersebut menjadi salah satu penyerap hasil produksi peternak ayam dan telur.
Badan Pangan Nasional pada Juli 2026 menyebut harga ayam broiler di tingkat peternak mulai meningkat setelah sebelumnya mengalami tekanan. Dalam satu pekan saat itu, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak tercatat tumbuh sekitar 4,11%. Pemerintah juga menyatakan MBG ikut meningkatkan penyerapan ayam dan telur dari peternak.
Pada Juni 2026, pemerintah bahkan mendorong peningkatan konsumsi ayam dan telur dalam program MBG untuk membantu menyerap produksi peternak rakyat.
Pemerintah Tetapkan Harga Acuan Ayam
Pemerintah juga telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga keseimbangan antara harga di tingkat peternak dan harga di konsumen.
Pada Juli 2026, pemerintah dan pelaku industri perunggasan menyepakati harga acuan live bird atau ayam hidup di tingkat peternak sebesar Rp19.500 per kg. Harga acuan tersebut mulai berlaku sejak 15 Juli 2026.
Untuk telur ayam ras, harga acuan di tingkat peternak ditetapkan Rp24.000 per kg. (BBPMSOH)
Kebijakan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga di tingkat konsumen tidak bisa hanya dilihat dari sisi permintaan. Pemerintah juga harus memastikan peternak memperoleh harga yang cukup untuk menutup biaya produksi, sementara harga di pasar konsumen tetap terjangkau.
Dengan demikian, peningkatan permintaan dari MBG idealnya tidak hanya mendorong harga jual, tetapi juga memperkuat produksi peternak rakyat.
Harga Telur Justru Berfluktuasi
Berbeda dengan ayam, pedagang di Pasar Kebayoran Lama mengatakan harga telur mulai kembali turun.
Pedagang telur bernama Jo (46) menyebut harga telur berada di kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kg. Menurutnya, harga telur memang cenderung berfluktuasi dan perubahan harga biasanya tidak terlalu besar.
“Paling beda ya Rp1.500 gitu,” tutur Jo.
Meski demikian, perkembangan harga telur secara nasional menunjukkan dinamika yang cukup berbeda dengan kondisi di Pasar Kebayoran Lama. Data PIHPS Nasional pada Jumat (21/8/2026) mencatat harga telur ayam ras rata-rata nasional sekitar Rp29.250 per kg.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga pangan di tingkat nasional maupun pasar tradisional tertentu dapat berbeda karena dipengaruhi oleh pasokan lokal, biaya distribusi, kondisi permintaan, serta karakteristik masing-masing pasar.
Sebelumnya, pada 10 Agustus, harga telur ayam ras secara nasional berdasarkan PIHPS tercatat sekitar Rp31.650 per kg.
Peternak Telur Juga Menghadapi Tekanan Biaya
Di tengah harga telur yang mulai turun di beberapa pasar, pemerintah justru menyoroti kondisi peternak ayam petelur.
Kementerian Pertanian pada awal Agustus menyatakan harga telur di tingkat peternak sempat berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kg.
Pemerintah kemudian menyepakati beberapa langkah, antara lain menunda kenaikan harga pakan, mempercepat distribusi jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta memperkuat penyerapan telur melalui MBG.
Kondisi biaya produksi juga menjadi perhatian. Sejumlah peternak mengeluhkan kenaikan biaya pakan yang dapat menggerus margin usaha. Karena itu, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak otomatis berarti keuntungan peternak meningkat dalam jumlah yang sama.
Rantai pasok ayam dan telur melibatkan peternak, perusahaan pembibitan, produsen pakan, pedagang pengumpul, distributor, hingga pedagang pasar. Perubahan harga di satu titik tidak selalu langsung tercermin pada titik lainnya.
Daging Sapi Masih Bertahan Tinggi
Sementara itu, harga daging sapi di Pasar Kebayoran Lama masih relatif tinggi.
Pedagang daging sapi, Rahmat (40), mengatakan harga daging sapi masih berada di sekitar Rp145.000 per kg. Harga tersebut tidak banyak berubah dibandingkan periode setelah Idul Adha, ketika harga berada di kisaran Rp145.000-Rp150.000 per kg.
Daging yang tersedia di pasar juga berasal dari berbagai sumber, baik lokal maupun impor. Menurut Rahmat, selisih harga antara daging sapi lokal dan impor tidak terlalu jauh.
“Lokal sama impor enggak jauh beda (harganya),” kata Rahmat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi pada komoditas ayam. Konsumen yang ingin mendapatkan sumber protein hewani kini menghadapi harga yang relatif tinggi untuk sejumlah produk, terutama daging sapi.
Konsumen Hadapi Pilihan Protein yang Semakin Mahal
Kenaikan harga ayam menjadi perhatian karena ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Ketika harga ayam naik, konsumen biasanya memiliki beberapa pilihan, mulai dari mengurangi pembelian, mengganti dengan telur, ikan, tahu, atau tempe, hingga membeli ayam dalam jumlah lebih sedikit.
Persoalannya, jika harga ayam naik bersamaan dengan kenaikan harga komoditas pangan lainnya, tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga bisa semakin besar.
Di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga agar harga di tingkat peternak tidak terlalu rendah. Harga yang terlalu rendah dapat membuat peternak mengurangi produksi atau bahkan mengalami kerugian. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, pasokan pada periode berikutnya justru berpotensi berkurang dan kembali mendorong kenaikan harga.
Karena itu, keseimbangan antara kebutuhan MBG, keberlangsungan peternak, ketersediaan pasokan, dan daya beli konsumen menjadi semakin penting.
Program MBG sendiri memiliki peran besar sebagai penyerap produk pangan domestik. Pemerintah sebelumnya menyebut program tersebut diarahkan menjadi off-taker bagi hasil produksi petani dan peternak.
Namun, peningkatan penyerapan harus dibarengi dengan perencanaan pasokan yang matang agar kebutuhan program pemerintah tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap pasar tradisional.
Daftar Harga Protein di Pasar Kebayoran Lama
Berdasarkan pantauan pedagang di Pasar Kebayoran Lama pada Jumat (21/8/2026), berikut kisaran harga sejumlah komoditas protein:
- Daging ayam: sekitar Rp50.000 per kg
- Telur ayam: sekitar Rp24.000-Rp25.000 per kg
- Daging sapi: sekitar Rp145.000 per kg
Harga tersebut merupakan harga di tingkat pasar yang dipantau dan dapat berbeda dengan rata-rata harga nasional maupun pasar lainnya.
Ke depan, perkembangan harga ayam akan sangat bergantung pada keseimbangan antara produksi peternak, biaya pakan, distribusi, permintaan masyarakat, serta penyerapan untuk program MBG. Jika pasokan mampu mengikuti peningkatan permintaan, kenaikan harga di tingkat konsumen berpeluang mereda. Namun, apabila permintaan meningkat lebih cepat dibandingkan produksi, harga ayam berpotensi tetap berada di level tinggi.
Bagi konsumen, kondisi tersebut membuat pemantauan harga pangan menjadi semakin penting karena perubahan beberapa ribu rupiah per kilogram dapat berdampak langsung pada anggaran belanja rumah tangga.
0 Comments