Poolin Mengajukan Kebangkrutan di New Jersey, Masa Depan Mining Pool Kripto Jadi Sorotan
Poolin Ajukan Pailit di AS, Aset Akan Dijual untuk Bayar Kreditur
Operator mining pool Bitcoin, Poolin Technology, bersama dua perusahaan afiliasinya mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di New Jersey, Amerika Serikat. Berdasarkan dokumen pengadilan, total kewajiban ketiga perusahaan tersebut diperkirakan mencapai US$100 juta hingga US$500 juta.
Poolin Technology PTE. LTD., Lonestar Taproot LLC, dan Lonestar Dream, Inc. mengajukan permohonan kebangkrutan secara sukarela pada 22 Juli di U.S. Bankruptcy Court for the District of New Jersey.
Ketiga perkara tersebut kemudian digabungkan dalam satu proses hukum dengan Poolin sebagai perkara utama. Kasus ini ditangani oleh Hakim Eamonn J. O’Hagan.
Dalam dokumen pengajuan, Poolin memperkirakan memiliki aset senilai US$1 juta hingga US$10 juta. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan total kewajibannya yang mencapai US$100 juta hingga US$500 juta.
Poolin juga memperkirakan memiliki sekitar 10.001 hingga 25.000 kreditur. Dokumen pengadilan menyebutkan masih terdapat kemungkinan dana yang dapat dibagikan kepada kreditur tanpa jaminan.
Poolin Siapkan Penjualan Aset
Poolin menggunakan proses Chapter 11 untuk melakukan restrukturisasi sekaligus menjual aset perusahaan secara teratur. Langkah ini diharapkan dapat menjaga nilai aset dan memberikan hasil yang lebih baik bagi para kreditur.
Chief Restructuring Officer Poolin, Michael DuFrayne, mengatakan proses kebangkrutan akan digunakan untuk mencari pembeli bagi sebagian besar aset perusahaan.
Pada 17 Agustus, pengadilan menyetujui aturan penawaran untuk sebagian besar aset Poolin dan dua perusahaan afiliasinya. Pengadilan juga memberikan izin kepada Poolin untuk menunjuk calon pembeli awal atau stalking horse bidder.
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, calon pembeli harus mengajukan penawaran paling lambat 8 September. Jika ada lebih dari satu penawaran yang memenuhi syarat, proses lelang akan digelar pada 10 September.
Selanjutnya, sidang untuk membahas rencana penjualan aset dijadwalkan pada 18 September pukul 11.00 waktu AS.
Aset yang masuk dalam proses penjualan berasal dari Poolin, Lonestar Taproot, dan Lonestar Dream.
Lonestar Dream sebelumnya telah hampir sepenuhnya menghentikan operasional di sejumlah fasilitas mining. Perusahaan juga menghentikan layanan untuk Elektron Energy dan mulai memindahkan peralatan milik perusahaan tersebut dari fasilitas mining.
Meski sebagian besar operasional telah dihentikan, sejumlah kecil pekerja masih dipertahankan. Mereka bertugas menjaga fasilitas dan peralatan mining, membantu proses penjualan aset, serta mendukung proses kebangkrutan.
Sementara itu, Lonestar Taproot memiliki sejumlah peralatan dan properti yang berkaitan dengan fasilitas mining. Aset tersebut mencakup bangunan, infrastruktur listrik, gardu listrik, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Pernah Bekerja Sama dengan Bitmain
Lonestar Taproot sebelumnya merupakan perusahaan patungan antara Lonestar Dream dan Bitmain, salah satu produsen perangkat keras mining Bitcoin terbesar.
Kemitraan tersebut berlangsung dari Maret 2022 hingga Desember 2023.
Berdasarkan dokumen pengadilan, Bitmain menyuntikkan sekitar US$34,4 juta ke dalam kerja sama tersebut. Namun, setelah bisnis mengalami kerugian besar, Bitmain keluar dari kemitraan dan menerima sekitar US$24,1 juta.
Kreditur Akan Bertemu pada 28 Agustus
Para kreditur Poolin dijadwalkan mengikuti pertemuan pada 28 Agustus pukul 09.00 waktu AS. Pertemuan tersebut akan dilakukan secara online melalui mekanisme Section 341.
Pertemuan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam proses Chapter 11. Para kreditur dapat memperoleh informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan dan perkembangan proses restrukturisasi.
Kreditur yang ingin mengajukan klaim dapat mengirimkan dokumen proof of claim kepada Poolin Claims Processing Center yang dikelola KCC atau Verita Global.
Hingga pemberitahuan kebangkrutan terbaru, pengadilan belum menetapkan batas waktu umum untuk pengajuan proof of claim.
Poolin menggunakan jasa Archer & Greiner, P.C. sebagai penasihat hukum. Sementara itu, Michael DuFrayne ditunjuk sebagai Chief Restructuring Officer untuk membantu perusahaan menjalankan proses restrukturisasi.
Masalah Keuangan Poolin Sudah Terjadi Sejak 2022
Masalah keuangan Poolin sebenarnya bukan hal baru. Pada September 2022, perusahaan pernah menghentikan penarikan dana dari PoolinWallet setelah menghadapi masalah likuiditas.
Saat itu, meningkatnya permintaan penarikan dana membuat Poolin kesulitan memenuhi kebutuhan likuiditas.
Poolin kemudian mengatakan akan menerbitkan token IOU yang mewakili saldo pengguna dalam sejumlah aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Tether (USDT), Litecoin (LTC), Zcash (ZEC), dan Dogecoin (DOGE).
Token tersebut direncanakan memiliki nilai 1:1 dengan saldo pengguna.
Poolin juga mempertimbangkan beberapa cara untuk mengatasi masalah keuangan, seperti mencari investor baru, mengubah utang menjadi ekuitas, serta menjual sebagian aset perusahaan.
Pada periode tersebut, Poolin juga menghentikan sejumlah layanan di PoolinWallet, termasuk penarikan dana, flash trade, dan transfer internal. Namun, aktivitas mining dan pembayaran langsung dari mining pool tetap berjalan.
Industri Bitcoin Mining Masih Menghadapi Tekanan
Kasus Poolin muncul ketika industri Bitcoin mining masih menghadapi tekanan yang cukup besar.
Pada 2026, sejumlah perusahaan mining Bitcoin harus menjual lebih banyak BTC untuk menjaga arus kas. Kondisi tersebut terjadi ketika pendapatan mining atau hashprice mengalami tekanan setelah Bitcoin halving.
Hashprice sempat berada di kisaran US$20-an per petahash per hari. Angka tersebut berada di bawah sekitar US$35 per petahash per hari yang disebut sebagai titik impas bagi mesin mining generasi lama.
Artinya, perusahaan yang menggunakan perangkat mining lama dan memiliki biaya listrik serta operasional tinggi semakin sulit mendapatkan keuntungan.
Tekanan juga terjadi pada perusahaan lain di sektor infrastruktur kripto. Pada Mei 2026, Bitcoin Depot mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 setelah menghentikan operasional jaringan ATM kriptonya. Perusahaan menghadapi tekanan regulasi dan kerugian finansial.
Bagi Poolin, tahap berikutnya adalah menyelesaikan proses penawaran aset pada September. Jika terdapat beberapa calon pembeli yang memenuhi syarat, lelang akan digelar sebelum pengadilan memutuskan apakah penjualan aset dapat disetujui.
Hasil penjualan aset tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan berapa banyak dana yang nantinya dapat dikembalikan kepada para kreditur.
Kasus Poolin juga menunjukkan bahwa tekanan dalam industri Bitcoin mining tidak hanya berdampak pada penambang, tetapi juga dapat menjalar ke perusahaan yang menyediakan infrastruktur dan layanan pendukung ekosistem kripto.
0 Comments