Dolar AS Melemah, Rupiah Menguat ke Level Ini Hari Ini
Rupiah Menguat Tipis terhadap Dolar AS
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 27 Januari 2026. Rupiah naik 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp16.780 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah masih terbatas. Investor cenderung menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar Rabu, 28 Januari 2026.
Menurutnya, dolar AS masih berada di bawah tekanan sehingga rupiah berpeluang menguat. Namun, pergerakan pasar masih bersifat wait and see menjelang keputusan The Fed.
Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen pada pertemuan pertama tahun 2026. Sebelumnya, The Fed telah memangkas suku bunga total 75 basis poin sepanjang September hingga Desember 2025.
Investor kini menantikan arah kebijakan The Fed, apakah akan bersikap hawkish (ketat) atau dovish (longgar). Jika The Fed memberi sinyal dovish, dolar AS diperkirakan melemah dan hal ini bisa meringankan tekanan terhadap rupiah.
Penguatan Rupiah Masih Terbatas
Lukman juga menilai penguatan rupiah tertahan oleh sentimen domestik, salah satunya terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Karena memiliki hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo Subianto, sebagian pelaku pasar khawatir hal ini dapat memengaruhi independensi bank sentral.
Thomas terpilih setelah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPR RI. Ia menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026. Keputusan tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR untuk disahkan.
Rupiah Menguat Sehari Sebelumnya
Pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, rupiah juga ditutup menguat. Nilainya naik 38 poin atau 0,23 persen ke level Rp16.782 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.820 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan ini dipicu oleh komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
BI melakukan intervensi besar melalui pasar NDF offshore, DNDF domestik, serta pasar spot. Langkah ini mendapat respons positif dari pasar.
Ke depan, BI optimistis rupiah tetap stabil dengan dukungan inflasi rendah, imbal hasil menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang masih baik. Cadangan devisa yang kuat juga menjadi penopang stabilitas rupiah.
Sentimen Global Masih Membayangi
Dari sisi global, ketegangan antara Amerika Serikat dan NATO meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginan mengakuisisi Greenland. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dampak diplomatik dan ekonomi global.
Trump juga mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap produk Kanada jika negara tersebut melanjutkan kerja sama dagang dengan China.
Menurutnya, Kanada berpotensi menjadi jalur masuk barang China ke AS, yang dapat memperburuk hubungan dagang antarnegara.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) pada Selasa ini turut menguat ke level Rp16.779 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.838 per dolar AS.
0 Comments