Ekonomi China Tumbuh 5% pada 2025, Sektor Properti Jadi Tantangan
China Capai Target Pertumbuhan 5% di 2025 dengan Surplus Perdagangan Rekor dan Tantangan Besar di Dalam Negeri
China mengumumkan bahwa ekonominya tumbuh sebesar 5,0% sepanjang tahun 2025, tepat sesuai dengan target pemerintah Beijing. Data resmi menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu meningkat di atas 140 triliun yuan (sekitar US$20 triliun) — rekor tertinggi sekaligus bukti ketangguhan ekonomi di tengah gejolak global.
Namun pertumbuhan itu tidak merata, dengan kontras tajam antara ekspor yang kuat dan permintaan domestik yang relatif lemah — sebuah dinamika yang mencerminkan “dua kecepatan” dalam perekonomian terbesar kedua di dunia.
1. Surplus Perdagangan Mencapai Rekor
Salah satu faktor terpenting yang mendorong pertumbuhan China adalah surplus perdagangan yang mencapai nilai tertinggi dalam sejarah — sekitar US$1,19 triliun pada 2025. Angka ini didorong oleh meningkatnya ekspor ke berbagai pasar selain Amerika Serikat, seperti Eropa, Asia, dan Amerika Latin, meski ada tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan AS.
Pakar ekonomi memperingatkan bahwa strategi pertumbuhan yang sangat bergantung pada ekspor dan surplus perdagangan ini tidak sepenuhnya berkelanjutan, karena dapat mengikis keuntungan perusahaan dan mengandalkan pemotongan harga untuk tetap kompetitif.
2. Lemahnya Permintaan Domestik dan Krisis Properti
Di sisi lain, kondisi ekonomi pada tingkat domestik menunjukkan masalah yang signifikan:
-
Permintaan konsumen tetap rendah, terlihat dari pertumbuhan penjualan ritel yang hanya sekitar 3,7% selama 2025, sebuah angka yang mencerminkan kehati‑hatian belanja di kalangan rumah tangga.
-
Sektor properti terus mengalami penurunan, dengan investasi di real estate turun sekitar 17,2% pada 2025, menunjukkan kepercayaan investor yang lesu di tengah utang pemerintah daerah dan developer yang tinggi.
Krisis properti China yang sudah berlangsung beberapa tahun ini terus membebani ekonomi secara luas, karena sektor ini merupakan salah satu penggerak utama investasi dan konsumsi domestik selama dekade terakhir.
3. Perlambatan Kuartal IV
Walaupun total pertumbuhan tahunannya kuat, pertumbuhan di kuartal IV 2025 melambat menjadi sekitar 4,5% — laju terendah dalam tiga tahun terakhir — yang mencerminkan pelemahan terus‑menerus pada konsumsi dan investasi domestik.
Ekonom menilai perlambatan itu menunjukkan struktur pertumbuhan yang semakin rapuh tanpa dorongan kuat dari belanja rumah tangga dan investasi lokal.
4. Keraguan atas Akurasi Angka Resmi
Beberapa analis internasional mempertanyakan angka 5% tersebut, menilai angka resmi mungkin melebih‑lebihkan performa ekonomi sebenarnya sebanyak sekitar 1,5 poin persentase, terutama karena indikator investasi dan konsumsi yang lemah.
5. Krisis Demografis Makin Dalam
Tahun 2025 juga menandai tahun keempat berturut‑turut penurunan jumlah penduduk China. Jumlah kelahiran turun drastis menjadi 7,9 juta — rekor terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949. Sementara itu, angka kematian meningkat hingga menyebabkan total populasi turun sekitar 3,39 juta menjadi 1,405 miliar orang.
Faktor yang berkontribusi pada tren demografis ini antara lain biaya hidup yang tinggi, penurunan jumlah perempuan usia reproduktif, serta warisan kebijakan satu anak yang berdampak panjang. Lonjakan populasi lansia yang kini mencapai sekitar 23% dari total penduduk pun menjadi tantangan baru bagi sistem pensiun dan pasar tenaga kerja.
6. Respons Kebijakan Pemerintah
Pemerintah China telah mencoba berbagai insentif untuk membalikkan tren demografis — mulai dari pembiayaan perawatan prenatal gratis hingga subsidi langsung kepada pasangan muda — serta dorongan kebijakan untuk memperkuat konsumsi domestik. Namun, sejauh ini upaya‑upaya tersebut menunjukkan hasil yang terbatas.
7. Outlook Global & Tantangan 2026
Melihat ke depan, para analis memperkirakan China akan tetap tumbuh namun dengan laju yang moderat di 2026, di tengah ketidakpastian global, deflasi berkepanjangan, dan kebutuhan akan reformasi struktural untuk meningkatkan konsumsi dan inovasi.
Beberapa langkah yang dibahas oleh para pakar ekonomi meliputi:
-
Penyesuaian kebijakan moneter untuk mendorong kredit bagi rumah tangga dan bisnis kecil.
-
Reformasi sistem pensiun nasional untuk meringankan beban demografi.
-
Diversifikasi pasar ekspor ke negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin sebagai mitigasi dari tekanan tarif di AS.
Kesimpulan
Secara garis besar, meskipun China berhasil memenuhi target pertumbuhan ekonomi 5% pada 2025 dengan bantuan surplus perdagangan terbesar dalam sejarah, tantangan struktural tetap besar — mulai dari lemahnya konsumsi domestik, krisis properti yang berkepanjangan, hingga tren demografis yang mengkhawatirkan. Kebijakan ke depan akan diuji untuk melihat apakah China dapat bertransisi dari ekonomi yang bergantung pada ekspor dan industri berat ke ekonomi yang lebih seimbang dengan basis konsumsi domestik yang kuat.
0 Comments