El Nino Berpotensi Tekan Inflasi dan Ekspor Indonesia, Ekonom Ungkap Risikonya

El Nino Berpotensi Tekan Inflasi dan Ekspor Indonesia, Ekonom Ungkap Risikonya

Fenomena El Nino yang masih berlangsung berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Gangguan produksi pangan hingga distribusi komoditas dapat mendorong kenaikan inflasi sekaligus memengaruhi kinerja ekspor dan neraca perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut memberikan tekanan terhadap inflasi pada periode tersebut.

El Nino Dorong Kenaikan Harga Pangan

Ekonom BCA David Sumual mengatakan kenaikan inflasi pada September 2026 terutama terkonsentrasi pada kelompok pangan. Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan produksi akibat fenomena El Nino yang masih berlangsung.

“Kenaikan laju inflasi pada September terkonsentrasi pada kelompok pangan, dipicu oleh penurunan produksi pangan karena El Nino yang berlangsung saat ini,” kata David kepada Liputan6.com, Jumat (2/10/2026).

Menurut David, El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi menunda masa tanam di sejumlah wilayah sehingga dapat memengaruhi waktu dan hasil panen.

Selain faktor pangan, depresiasi nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga barang impor dan turut memberikan tekanan terhadap inflasi.

David memperkirakan inflasi Indonesia pada akhir 2026 berada di kisaran 3%-3,5% secara tahunan.

“Laju inflasi diperkirakan berkisar 3-3,5% YoY pada akhir 2026, dipicu tekanan El Nino masih berlangsung,” ujarnya.

El Nino Berpotensi Ganggu Ekspor Indonesia

Dampak El Nino tidak hanya berpotensi dirasakan sektor pangan. Menurut David, kondisi cuaca tersebut juga dapat memengaruhi neraca perdagangan Indonesia, terutama jika distribusi komoditas ekspor mengalami gangguan.

Salah satu risikonya berasal dari menyusutnya debit air di sejumlah sungai yang menjadi jalur transportasi komoditas. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pengangkutan komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

“Yang saya khawatir itu sebenarnya banyak sekarang sungai-sungai, terutama di Kalimantan ya, Kapuas, Barito, lalu ada juga beberapa sungai lain di daerah-daerah lain itu yang susut begitu. Artinya untuk mengangkut batu bara, CPO itu bisa terkendala, jadi ekspor kita bisa berkurang,” jelas David.

Gangguan distribusi tersebut juga dapat berdampak pada pasokan batu bara menuju pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Pasokan batu bara ke PLTU-PLTU itu bisa terganggu juga, itu yang kita khawatirkan,” kata dia.

Jika pasokan energi terganggu, aktivitas industri dan manufaktur juga berpotensi terdampak. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap produksi dan ekspor Indonesia.

Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus

Meski menghadapi sejumlah risiko, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus.

BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 surplus US$3,55 miliar. Nilai ekspor tercatat sebesar US$26,61 miliar, sementara impor mencapai US$23,06 miliar.

David menilai masih terdapat ruang bagi pemerintah untuk meningkatkan impor, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga ketersediaan pasokan di tengah potensi gangguan produksi akibat El Nino.

“Jadi sebenarnya masih bisa ditolerir lah kalau misalnya kita mau meningkatkan impor bahan pangan untuk buffer aja, untuk penyangga,” tuturnya.

Neraca Dagang Diproyeksi Tetap Surplus

David memperkirakan neraca perdagangan Indonesia masih berpeluang mencatat surplus sekitar US$18 miliar-US$20 miliar hingga akhir 2026.

Proyeksi tersebut salah satunya ditopang oleh kecenderungan kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia, termasuk batu bara dan mineral.

Meski demikian, tekanan El Nino tetap perlu diantisipasi karena dampaknya dapat meluas dari sektor pertanian ke distribusi, perdagangan, energi, hingga industri.

Pemerintah dinilai perlu memperkuat distribusi bahan pokok serta mempersiapkan opsi impor pangan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan meredam tekanan harga di tengah kondisi cuaca yang masih berlangsung.