Ethereum Catat Likuidasi Kripto Terbesar, Posisi Long Merugi di Tengah Pelemahan Pasar

Ethereum Catat Likuidasi Kripto Terbesar, Posisi Long Merugi di Tengah Pelemahan Pasar

Pasar kripto mengalami tekanan jual dalam 24 jam terakhir, dengan Ethereum (ETH) mencatat nilai likuidasi terbesar dibandingkan aset kripto utama lainnya. Penurunan harga memukul para trader yang bertaruh bahwa pasar akan bergerak naik, terutama mereka yang menggunakan leverage.

Berdasarkan data BeInCrypto Markets, kapitalisasi pasar kripto global turun 4,40% menjadi US$2,77 triliun dalam 24 jam. Bitcoin (BTC) melemah 2,67% ke US$81.594, sedangkan Ethereum turun 4,46% ke US$2.429,16.

Tekanan lebih besar terjadi pada sejumlah altcoin. Solana (SOL) merosot 7,11% menjadi US$103,62, sementara Zcash (ZEC) turun 9,54%.

Likuidasi Ethereum Capai US$169,23 Juta

Data CoinGlass menunjukkan sebanyak 172.662 trader mengalami likuidasi selama periode tersebut. Posisi long, yaitu taruhan bahwa harga aset akan naik, menyumbang 88,9% dari total likuidasi.

Ethereum mencatat nilai likuidasi terbesar, mencapai US$169,23 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 86,3% berasal dari posisi long. Angka ini menunjukkan bahwa trader yang mengantisipasi kenaikan harga ETH menanggung sebagian besar kerugian akibat pergerakan pasar.

Bitcoin menyusul dengan total likuidasi US$160,48 juta. Posisi long menyumbang 90,2% dari nilai tersebut.

Sementara itu, Solana mencatat likuidasi sebesar US$60,41 juta, dengan 94,2% berasal dari posisi long.

Likuidasi terjadi ketika posisi perdagangan ditutup secara otomatis karena margin trader tidak lagi mencukupi untuk mempertahankan posisi. Kondisi ini kerap terjadi pada perdagangan berleverage saat harga bergerak berlawanan dengan prediksi trader.

Trader Long Bitcoin Kehilangan Jutaan Dolar

Salah satu likuidasi individual terbesar terjadi pada pasangan BTCUSDT di Binance. Posisi long senilai US$9,65 juta dilaporkan terlikuidasi pada harga US$81.772,75.

Binance menyumbang 51,9% dari total likuidasi di pasar kripto selama periode tersebut.

Di tengah kerugian para trader yang bertaruh pada kenaikan harga, sejumlah pelaku pasar yang mengambil posisi short berpotensi memperoleh keuntungan dari penurunan harga.

Akun analitik blockchain Lookonchain menyoroti aktivitas trader bernama AguilaTrades. Trader tersebut, yang dilaporkan memiliki akumulasi kerugian sebesar US$38 juta, membuka posisi short dengan leverage 40 kali untuk 124,24 BTC.

Namun, pembukaan posisi short tidak secara otomatis berarti trader tersebut memperoleh keuntungan. Hasil akhirnya bergantung pada pergerakan harga, harga masuk, biaya perdagangan, serta apakah posisi ditutup dengan laba atau rugi.

Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Kripto

Penurunan pasar kripto terjadi ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. Menurut laporan CBS yang dikutip dalam pemberitaan tersebut, serangan Houthi terhadap bandara-bandara di Arab Saudi telah menewaskan sedikitnya 20 orang dalam sepekan, termasuk seorang warga negara Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut menyatakan kemungkinan AS bergabung dalam operasi militer Arab Saudi terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Ketidakpastian geopolitik dapat membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Meski demikian, konflik geopolitik bukan satu-satunya faktor yang dapat menjelaskan penurunan harga.

Kekhawatiran inflasi turut membebani sentimen pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS dilaporkan berada di dekat level tertinggi dalam 24 tahun, sehingga instrumen berbunga berpotensi menjadi lebih menarik dibandingkan aset yang tidak memberikan imbal hasil langsung, seperti Bitcoin dan Ethereum.

Tekanan juga terlihat di pasar saham Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan turun hampir 5% pada Selasa, seiring pelemahan saham Samsung Electronics dan SK Hynix.

Tom Lee, Chairman BitMine, perusahaan yang memiliki strategi treasury Ethereum, mengaitkan pelemahan pasar saham Korea Selatan dengan kerugian di pasar kripto.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar Berikutnya

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk September yang dijadwalkan rilis pada Rabu.

Ekonom memperkirakan inflasi tahunan AS meningkat menjadi 3,7%, dari 3,4% pada periode sebelumnya.

Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat menguat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan jual pada aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum.

Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan kekhawatiran investor dan membuka peluang pemulihan pasar. Namun, respons harga tetap bergantung pada keseluruhan data ekonomi dan ekspektasi kebijakan suku bunga.

Dengan hampir 89% likuidasi berasal dari posisi long, data inflasi tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi arah perdagangan berikutnya. Trader perlu memperhatikan volatilitas pasar dan risiko penggunaan leverage sebelum mengambil keputusan.

Kesimpulan

Ethereum mencatat nilai likuidasi terbesar sebesar US$169,23 juta ketika pasar kripto mengalami penurunan tajam. Posisi long menjadi pihak yang paling terdampak, di tengah kombinasi ketegangan geopolitik, kekhawatiran inflasi, dan tekanan pada pasar saham Asia.

Laporan CPI AS menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor untuk menilai arah pasar selanjutnya. Meski begitu, satu laporan ekonomi tidak menjamin pemulihan atau kelanjutan penurunan harga kripto.