Harga Bitcoin dan Emas Melemah, Investor Menanti Data Inflasi AS

Harga Bitcoin dan Emas Melemah, Investor Menanti Data Inflasi AS

Pasar keuangan global mengawali pekan dengan pergerakan beragam pada sejumlah aset investasi. Harga Bitcoin dan emas tercatat melemah, sementara dolar Amerika Serikat (AS) tetap kuat dan harga minyak mentah terus meningkat.

Bitcoin diperdagangkan sedikit di atas US$83.000, turun sekitar 0,5%. Pada saat yang sama, harga emas berada di kisaran US$4.180 per troy ounce atau melemah sekitar 0,5%.

Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang tengah menunggu rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Laporan inflasi AS yang dijadwalkan pada Rabu menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral.

Dolar AS Menguat, Imbal Hasil Obligasi Naik

Indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) bertahan di atas level 102,4. Kondisi tersebut menunjukkan dolar masih mendapat dukungan dari permintaan investor terhadap aset yang dinilai relatif aman di tengah ketidakpastian pasar.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan tipis. Kenaikan imbal hasil umumnya berbanding terbalik dengan harga obligasi, sehingga peningkatan tersebut menandakan harga obligasi sedang melemah.

Sebelumnya, pasar obligasi sempat mencatatkan pemulihan pada akhir pekan lalu. Hal ini terlihat dari kinerja ETF iShares 20+ Year Treasury Bond (TLT), yang naik lebih dari 2% selama periode pemulihan tersebut.

Di pasar saham, kontrak berjangka sektor teknologi bergerak melemah. Pergerakan ini menunjukkan investor masih berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi yang dapat memengaruhi sentimen pasar.

Harga Minyak WTI Bertahan di Atas US$92 per Barel

Berbeda dengan Bitcoin dan emas, harga minyak mentah justru melanjutkan penguatan.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$92 per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika sejumlah aset keuangan lainnya bergerak terbatas atau mengalami pelemahan.

Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena perubahan harga energi dapat memengaruhi biaya produksi, harga barang, dan tekanan inflasi.

Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat memengaruhi keputusan bank sentral dalam menentukan arah suku bunga.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar

Perhatian investor kini tertuju pada laporan inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Rabu.

Ekonom memperkirakan inflasi inti tahunan AS mencapai 2,5%, sedangkan inflasi utama diproyeksikan berada di level 3,7%.

Jika sesuai dengan perkiraan tersebut, angka inflasi utama akan menunjukkan percepatan dibandingkan bulan sebelumnya. Perkembangan ini berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Data inflasi menjadi indikator penting karena membantu investor menilai apakah tekanan harga mulai mereda atau justru kembali meningkat.

Apabila inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar dapat mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu lebih lama. Situasi tersebut berpotensi menekan aset berisiko, termasuk saham teknologi dan mata uang kripto.

Sebaliknya, apabila inflasi lebih rendah dari perkiraan, sentimen pasar berpotensi membaik karena investor dapat memperkirakan ruang pelonggaran kebijakan moneter yang lebih besar.

Meski demikian, reaksi pasar juga akan bergantung pada komponen inflasi lainnya dan penilaian The Fed terhadap kondisi ekonomi AS secara keseluruhan.

Saham IREN Naik Setelah Kerja Sama dengan Anthropic

Di tengah kehati-hatian pasar global, perusahaan teknologi IREN mencatatkan perkembangan positif setelah mengumumkan kerja sama baru dengan perusahaan kecerdasan buatan (AI), Anthropic.

IREN, yang sebelumnya dikenal melalui bisnis penambangan Bitcoin, kini mengembangkan bisnis infrastruktur untuk mendukung kebutuhan komputasi AI.

Perusahaan tersebut mengumumkan perjanjian layanan cloud multiyear dengan Anthropic. Kesepakatan ini menjadi bagian dari perkembangan bisnis IREN di sektor infrastruktur kecerdasan buatan.

Setelah pengumuman tersebut, saham IREN naik sekitar 4% dalam perdagangan sebelum pembukaan pasar atau premarket.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa ekspansi perusahaan yang sebelumnya bergerak di industri penambangan Bitcoin menuju infrastruktur AI menjadi salah satu perhatian investor.

Permintaan terhadap kapasitas komputasi untuk pengembangan dan pengoperasian model AI turut mendorong perhatian pasar terhadap perusahaan yang menyediakan infrastruktur pendukung teknologi tersebut.

Namun, dampak jangka panjang kerja sama terhadap pendapatan dan kinerja keuangan IREN masih bergantung pada pelaksanaan perjanjian serta realisasi bisnis perusahaan.

Prospek Bitcoin dan Pasar Global Pekan Ini

Pergerakan Bitcoin, emas, dolar AS, obligasi, dan minyak menunjukkan bahwa investor masih mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi sebelum menentukan strategi investasi.

Bitcoin yang berada di atas US$83.000 dan emas di kisaran US$4.180 per troy ounce sama-sama mengalami penurunan sekitar 0,5%. Sementara itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi faktor yang turut diperhatikan pasar.

Dalam waktu dekat, laporan inflasi AS diperkirakan menjadi katalis penting bagi pergerakan berbagai aset keuangan.

Investor juga akan mencermati perkembangan harga minyak dan prospek industri kecerdasan buatan, termasuk dampak kerja sama IREN dengan Anthropic.

Dengan demikian, arah pasar pada pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS dan bagaimana investor menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap kebijakan moneter serta prospek pertumbuhan ekonomi global.