Harga Emas Dunia Turun 1,5% ke US$ 4.093 per Ons, Pasar Waspadai Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga Emas Dunia Turun 1,5% ke US$ 4.093 per Ons, Pasar Waspadai Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga emas dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (14/10/2026), memperpanjang pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan harga emas dipicu data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC pada Kamis (15/10/2026), harga emas di pasar spot turun 1,5% menjadi US$ 4.093,03 per ons. Harga tersebut sekaligus menyentuh level terendah sejak 7 Oktober 2026.

Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember melemah 1,5% menjadi US$ 4.115,50 per ons.

Tekanan terhadap harga emas juga datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Indeks dolar AS naik 0,4%, membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Inflasi AS Meningkat, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik

Data inflasi terbaru AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas dunia. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,6% pada bulan sebelumnya, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.

Data tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih bertahan di atas target The Fed. Kondisi ini membuat pasar memperhitungkan kemungkinan bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga.

“Pada titik ini, hal tersebut mengindikasikan bahwa The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga,” kata Meger.

Ia juga menyoroti penguatan dolar AS yang menambah tekanan terhadap pasar emas.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober diperkirakan mencapai sekitar 35%, naik dari 22% sebelum data inflasi dirilis. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sekitar 90%.

Meski demikian, angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar dan bukan keputusan resmi The Fed.

Mengapa Kenaikan Suku Bunga Menekan Harga Emas?

Emas selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, harga emas juga sensitif terhadap perubahan suku bunga dan pergerakan dolar AS.

Ketika suku bunga meningkat, aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi pemerintah, dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Hal ini karena emas tidak menghasilkan bunga atau pendapatan rutin.

Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat mengurangi permintaan dan menekan harga emas dunia.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turut memperkuat tekanan terhadap logam mulia tersebut.

Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, mengatakan bank sentral AS masih memiliki waktu untuk mengamati perkembangan pasar keuangan dan perekonomian setelah menaikkan suku bunga pada September sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.

Prospek Harga Emas Jangka Panjang Masih Diperhatikan

Di tengah tekanan jangka pendek, prospek harga emas dalam jangka panjang dinilai masih memiliki sejumlah faktor pendukung.

Analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai pembelian emas oleh bank sentral serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dapat kembali mendukung harga emas.

“Dalam jangka panjang, emas seharusnya kembali diuntungkan oleh pembelian bank sentral yang tetap kuat serta kekhawatiran baru terhadap utang AS dan beban pembayaran bunganya yang terus meningkat,” kata Menke.

Meski demikian, pergerakan harga emas selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar, serta permintaan dari bank sentral dan investor global.

Harga Perak Turun 6,5%, Platinum dan Paladium Ikut Melemah

Tekanan pasar tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami penurunan harga pada perdagangan Rabu.

Harga perak di pasar spot anjlok 6,5% menjadi US$ 55,60 per ons. Sementara itu, harga platinum turun 3,5% menjadi US$ 1.604,20 per ons.

Harga paladium juga melemah 2,7% menjadi US$ 1.095,41 per ons.

Di sisi lain, harga minyak dunia naik setelah terjadi serangan terhadap kantor pusat perusahaan minyak milik negara Arab Saudi. Pernyataan pejabat Iran mengenai taktik baru untuk menargetkan kapal turut menambah perhatian pasar terhadap risiko geopolitik dan pasokan energi.

Pelemahan serentak pada emas, perak, platinum, dan paladium menunjukkan tekanan yang meluas di pasar logam mulia. Dalam jangka pendek, investor akan mencermati data ekonomi AS dan sinyal kebijakan The Fed untuk memperkirakan arah pergerakan harga berikutnya.

Kesimpulan: Harga emas dunia tertekan oleh inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, penguatan dolar, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, pembelian bank sentral dan kekhawatiran terhadap utang AS masih menjadi faktor yang berpotensi menopang harga emas dalam jangka panjang.