Harga Minyak Dunia Naik ke US$106 per Barel, Serangan di Riyadh Picu Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak dunia menguat pada Senin, 12 Oktober 2026, setelah serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Pada saat yang sama, Ukraina menuduh Rusia melanggar gencatan senjata energi dengan menyerang fasilitas produksi gas.
Mengutip CNBC pada Selasa (13/10/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik 1,8% dan ditutup pada US$106,65 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 2% menjadi US$93,74 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah pasar sebelumnya tertekan oleh harapan peningkatan pasokan energi menyusul pengumuman gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
Serangan di Arab Saudi Dorong Harga Minyak Dunia
Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Perkembangan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak, terutama jika konflik meluas ke wilayah strategis penghasil energi.
Pada Senin, koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi juga menyatakan sedang menghadapi gelombang serangan pesawat nirawak atau drone serta rudal yang mengarah ke wilayah Arab Saudi.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bin Abdullah. Pembicaraan itu membahas perkembangan situasi kawasan dan upaya penanganan eskalasi konflik.
Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena kawasan tersebut memiliki peran penting dalam produksi dan distribusi minyak dunia.
Ukraina Tuduh Rusia Langgar Gencatan Senjata Energi
Selain konflik di Timur Tengah, perkembangan perang Rusia-Ukraina turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Senin, 12 Oktober 2026, mengatakan Rusia melanggar gencatan senjata yang menargetkan fasilitas energi kedua negara. Ia menyebut Moskow menyerang fasilitas produksi gas di Ukraina.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko serangan terhadap infrastruktur energi dan membantu meredakan ketidakpastian pasokan.
Namun, tuduhan pelanggaran tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan gencatan senjata masih menghadapi tantangan. Jika serangan terhadap fasilitas energi berlanjut, ketidakpastian pasokan dapat kembali meningkat dan memengaruhi harga komoditas energi.
Potensi Tambahan Pasokan Rusia Jadi Perhatian Pasar
Di sisi lain, peluang bertambahnya pasokan energi dari Rusia turut menjadi perhatian investor.
Trump mengatakan pada Jumat bahwa Moskow akan memasok lebih dari 4 juta ton solar ke pasar global berdasarkan kesepakatan yang dicapainya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui sambungan telepon.
Jika pasokan tambahan tersebut benar-benar terealisasi, pasar berpotensi memperoleh tambahan produk energi yang dapat membantu meredakan tekanan harga. Namun, dampaknya akan bergantung pada realisasi pengiriman, tujuan distribusi, serta kondisi permintaan global.
Situasi ini membuat pasar minyak menghadapi dua faktor yang berlawanan. Risiko konflik dan gangguan produksi berpotensi mendorong harga naik, sedangkan peningkatan pasokan dapat menekan harga.
Badai Isaias Ganggu Produksi Minyak AS
Faktor lain yang memengaruhi pasar energi adalah Badai Isaias di kawasan Teluk Meksiko.
Menurut Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS atau Bureau of Safety and Environmental Enforcement (BSEE), produksi minyak sekitar 1,2 juta barel per hari di Teluk Meksiko masih dihentikan pada Minggu akibat badai tersebut.
Penghentian produksi ini menambah perhatian pasar terhadap ketersediaan pasokan minyak. Gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dapat memperketat pasokan dalam jangka pendek, terutama jika berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Prospek Harga Minyak Dunia Masih Dipengaruhi Konflik dan Pasokan
Pergerakan harga minyak dunia menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik, gangguan produksi, dan prospek pasokan global.
Kenaikan harga Brent dan WTI pada 12 Oktober 2026 terjadi ketika risiko konflik di Timur Tengah meningkat dan muncul laporan mengenai serangan terhadap fasilitas energi Ukraina. Di sisi lain, potensi tambahan pasokan dari Rusia dapat menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik Rusia-Ukraina, situasi keamanan di Timur Tengah, dampak Badai Isaias terhadap produksi minyak AS, serta realisasi pasokan energi Rusia.
Kombinasi faktor tersebut akan menentukan arah harga minyak dunia dalam jangka pendek dan berpotensi memengaruhi biaya energi serta inflasi di berbagai negara.
0 Comments