Harga Minyak Venezuela Naik 30% setelah Penjualan oleh AS

Harga Minyak Venezuela Naik 30% setelah Penjualan oleh AS

Amerika Serikat (AS) mengklaim berhasil meningkatkan nilai jual minyak mentah Venezuela hingga sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya, setelah menyelesaikan penjualan perdana minyak senilai USD 500 juta atau setara Rp 8,45 triliun (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 16.910). Klaim tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Energi AS Chris Wright dalam acara Asosiasi Energi Amerika Serikat yang digelar pada Kamis waktu setempat.

Menurut Wright, minyak yang dijual berasal dari Venezuela dan berhasil dilepas ke pasar internasional dengan harga yang jauh lebih baik dibandingkan harga yang diperoleh Venezuela hanya tiga minggu sebelumnya. Ia menegaskan bahwa peningkatan harga tersebut menunjukkan bagaimana pengelolaan distribusi, akses pasar global, serta dukungan politik dapat memengaruhi nilai jual minyak mentah secara signifikan. Pernyataan Wright ini dikutip oleh CNBC pada Sabtu (17/1/2026).

“Kami mendapatkan harga jual sekitar 30 persen lebih tinggi ketika menjual barel minyak yang sama dibandingkan dengan harga jual barel minyak yang sama tiga minggu lalu,” ujar Wright. Meski tidak merinci harga per barel secara spesifik, ia menekankan bahwa selisih tersebut mencerminkan peningkatan nilai yang sangat signifikan bagi minyak mentah Venezuela.

Penjualan Minyak Akan Berlanjut Tanpa Batas Waktu

Penjualan perdana senilai USD 500 juta ini disebut baru tahap awal dari rencana yang lebih besar. Departemen Energi AS memastikan bahwa penjualan minyak Venezuela akan berlanjut tanpa batas waktu, seiring rencana Washington untuk melepas puluhan juta barel minyak ke pasar internasional secara bertahap.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang selama ini berada di bawah rezim sanksi AS. Minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar, sementara hasil penjualannya akan dikendalikan oleh pemerintah AS, sebuah mekanisme yang diklaim bertujuan memastikan dana tidak disalahgunakan.

Trump menegaskan langkah ini diambil untuk memastikan bahwa dana dari penjualan minyak dapat memberikan manfaat ekonomi, baik bagi rakyat Venezuela maupun bagi kepentingan strategis Amerika Serikat. Ia juga menambahkan bahwa gelombang pengiriman minyak ini baru permulaan, dengan potensi penjualan lanjutan dalam beberapa pekan dan bulan ke depan, tergantung kondisi pasar dan kesiapan logistik.

Rencana Investasi Jumbo di Sektor Energi Venezuela

Seiring penjualan minyak tersebut, Trump juga mengumumkan rencana investasi besar-besaran di sektor energi Venezuela. Sejumlah perusahaan minyak global disebut siap menggelontorkan dana sedikitnya USD 100 miliar atau sekitar Rp 1.688 triliun untuk membangun kembali industri energi negara Amerika Latin tersebut.

Trump bahkan menggelar pertemuan tertutup di Gedung Putih dengan pimpinan perusahaan energi raksasa dunia, seperti ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips, Halliburton, Valero, dan Marathon Petroleum. Pemerintah AS disebut akan memberikan jaminan tertentu agar investor memperoleh perlindungan hukum dan peluang keuntungan yang optimal.

Meski demikian, sejumlah pelaku industri menilai rencana tersebut masih menghadapi tantangan besar. Ketidakpastian politik, risiko perubahan kebijakan, serta sengketa aset masa lalu menjadi faktor utama yang membuat investor global tetap berhati-hati dalam menanamkan modal di Venezuela.

Cadangan Minyak Terbesar Dunia, Tapi Produksi Tertekan

Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mencapai sekitar 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi dan Kanada. Namun, kurangnya investasi selama bertahun-tahun, ditambah sanksi internasional, kerusakan infrastruktur, serta eksodus tenaga ahli, membuat produksi minyak negara tersebut merosot tajam.

Saat ini, produksi minyak Venezuela diperkirakan hanya sekitar 800 ribu barel per hari, jauh di bawah puncaknya pada era 1990-an yang pernah mencapai 3,5 juta barel per hari. Banyak fasilitas produksi dan kilang minyak dilaporkan beroperasi di bawah kapasitas optimal, bahkan sebagian mengalami kerusakan serius.

Di sisi lain, pasar minyak global saat ini tengah menghadapi kondisi kelebihan pasokan, yang dalam setahun terakhir menekan harga minyak dunia. Meski demikian, klaim AS terkait keberhasilan menaikkan harga jual minyak Venezuela menunjukkan bahwa faktor geopolitik, akses pasar, dan pengelolaan distribusi tetap memainkan peran krusial dalam menentukan nilai minyak di pasar internasional.

Analis: Risiko Politik Masih Jadi Tantangan Utama

Pengamat energi menilai kebangkitan sektor minyak Venezuela tidak hanya bergantung pada aspek teknis atau komersial semata. Baron Lamarre, mantan kepala perdagangan Petronas dan salah satu pendiri Index, menilai masalah utama Venezuela justru terletak pada faktor kemanusiaan dan politik.

“Masalah minyak Venezuela bukanlah masalah teknis, dan bukan pula masalah komersial, melainkan masalah kemanusiaan dan politik,” ujar Lamarre.

Menurut dia, investor global masih akan bersikap sangat hati-hati hingga ada kepastian mengenai stabilitas politik jangka panjang dan konsistensi kebijakan pemerintah. Tanpa kepercayaan tersebut, arus modal diperkirakan hanya akan masuk secara bertahap dan bersyarat, meskipun potensi keuntungan dari cadangan minyak Venezuela sangat besar.

“Sampai investor memiliki kepercayaan pada kesinambungan politik jangka panjang, modal akan tetap berhati-hati, bertahap, dan bersyarat,” tegasnya.

Jalan Panjang Pemulihan Energi Venezuela

Langkah AS menjual minyak Venezuela dan mendorong investasi besar-besaran dinilai sebagai upaya strategis untuk menghidupkan kembali sektor energi negara tersebut. Namun, banyak analis sepakat bahwa pemulihan penuh industri minyak Venezuela akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, reformasi kebijakan yang konsisten, serta stabilitas politik yang berkelanjutan.

Meski demikian, keberhasilan penjualan awal dengan harga lebih tinggi memberi sinyal bahwa Venezuela masih memiliki posisi strategis di pasar energi global. Jika hambatan politik dan struktural dapat diatasi, negara tersebut berpotensi kembali menjadi salah satu pemain utama dalam industri minyak dunia.