Kesepakatan Besar: AS Turunkan Pajak, Taiwan Tambah Investasi

Kesepakatan Besar: AS Turunkan Pajak, Taiwan Tambah Investasi

Aliansi Chip Abad Ini: AS dan Taiwan Resmikan Kesepakatan Perdagangan Senilai USD 500 Miliar

Di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas, Amerika Serikat (AS) dan Taiwan resmi mengukuhkan aliansi ekonomi paling strategis di dekade ini. Kesepakatan perdagangan baru yang ditandatangani pada Januari 2026 ini menempatkan industri semikonduktor sebagai jantung kerja sama, menandai pergeseran besar dalam peta kekuatan teknologi dunia.

Ekspansi Masif dan Komitmen Finansial Fantastis

Berdasarkan laporan CNBC (17/1/2026), kesepakatan ini melibatkan angka yang sangat masif. Perusahaan-perusahaan teknologi dan chip asal Taiwan berkomitmen untuk mengucurkan investasi sedikitnya USD 250 miliar (sekitar Rp 4.220 triliun) guna memperluas kapasitas produksi mereka di tanah Amerika.

Tidak hanya dari sektor swasta, Pemerintah Taiwan memberikan dukungan penuh dengan menjamin kredit tambahan sebesar USD 250 miliar. Total suntikan dana sebesar USD 500 miliar ini diproyeksikan akan mengubah lanskap industri di negara bagian seperti Arizona dan Texas, sekaligus mewujudkan keinginan Washington untuk melakukan onshoring atau penarikan rantai pasok krusial ke dalam negeri.

Konsesi Tarif dan "Gencatan Senjata" Perdagangan

Sebagai timbal balik atas komitmen investasi raksasa tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump menyetujui pelonggaran kebijakan fiskal terhadap produk-produk asal Taiwan:

  1. Penurunan Tarif Umum: Tarif “timbal balik” atas produk Taiwan dipangkas menjadi 15 persen, turun dari angka sebelumnya sebesar 20 persen.

  2. Pembebasan Sektor Strategis: AS berkomitmen untuk tidak mengenakan tarif tambahan pada sektor-sektor sensitif yang memengaruhi hajat hidup orang banyak, seperti obat-obatan generik, bahan baku farmasi, komponen kedirgantaraan, serta sumber daya alam tertentu.

  3. Kepastian Hukum: Kesepakatan ini memberikan angin segar bagi para pelaku industri teknologi yang sempat diliputi ketidakpastian akibat kebijakan proteksionisme "America First".

Fokus pada TSMC dan Pengembangan Arizona

Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengungkapkan bahwa Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), produsen chip kontrak terbesar di dunia, telah mengambil langkah konkret dengan mengakuisisi ratusan hektare lahan tambahan di Arizona.

Lahan ini akan menjadi situs perluasan pabrik (fab) yang lebih canggih dari rencana semula. Meski TSMC masih menunggu persetujuan internal dewan direksi untuk detail teknisnya, Lutnick menegaskan bahwa pemerintah AS memberikan ruang bagi perusahaan untuk mematangkan rencana ekspansi besar-besaran ini. Pihak TSMC menyatakan bahwa ekspansi ini adalah respons logis terhadap permintaan global yang tak terpuaskan terhadap chip kecerdasan buatan (AI) dan komputasi tingkat tinggi.

Insentif Pasal 232: Karpet Merah bagi Produksi Lokal

Salah satu poin paling menarik dalam kesepakatan ini adalah penggunaan kerangka kerja Pasal 232 sebagai alat insentif:

  • Selama Masa Konstruksi: Perusahaan Taiwan yang sedang membangun pabrik di AS diberikan kuota impor hingga 2,5 kali kapasitas produksi masa depan mereka tanpa dikenakan tarif tambahan.

  • Setelah Operasional: Batas impor tanpa tarif ditetapkan sebesar 1,5 kali kapasitas produksi di AS.

  • Suku Cadang Otomotif & Kayu: Produk turunan ini mendapatkan jaminan perlindungan tarif maksimal 15 persen, yang diharapkan dapat menstabilkan harga komponen kendaraan di pasar domestik AS.

Strategi "Stick and Carrot": Ancaman Tarif 100%

Namun, kesepakatan ini juga membawa pesan keras bagi mereka yang enggan bekerja sama. Howard Lutnick menegaskan kebijakan "tongkat dan wortel" (stick and carrot):

  • Target Relokasi: AS menargetkan sedikitnya 40 persen rantai pasok semikonduktor Taiwan dipindahkan ke wilayah Amerika.

  • Pinalti Berat: Bagi perusahaan chip yang menolak membangun fasilitas manufaktur di AS, mereka akan menghadapi tarif impor hingga 100 persen. Langkah ini bertujuan agar AS tidak lagi bergantung sepenuhnya pada fasilitas produksi yang berada di zona konflik potensial.

Geopolitik: Kemandirian Semikonduktor sebagai Keamanan Nasional

Investasi awal TSMC sebesar USD 40 miliar di Arizona—yang memproduksi chip untuk raksasa seperti Apple dan Nvidia—kini hanyalah permulaan. Dengan dukungan hibah dari CHIPS Act, AS berupaya mengakhiri ketergantungan pada Selat Taiwan.

"Kami tidak hanya bicara tentang bisnis, ini adalah masalah ketahanan nasional," ujar seorang analis senior di Washington. Dengan memindahkan kapasitas produksi chip tercanggih (teknologi 2nm dan di bawahnya) ke wilayah Amerika, Washington berharap dapat memitigasi risiko ekonomi global jika terjadi gangguan di Asia Timur.

Kesepakatan ini menandai babak baru di mana chip bukan lagi sekadar komoditas dagang, melainkan instrumen kedaulatan sebuah negara di era digital.