Harga Perak Antam Naik Lagi Rp350 pada Jumat 28 Agustus 2026

Harga Perak Antam Naik Lagi Rp350 pada Jumat 28 Agustus 2026

Harga Perak Antam Hari Ini Naik Rp350, Pasar Menanti Arah Suku Bunga The Fed

Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026. Harga perak Antam bergerak berlawanan dengan harga emas Antam yang justru mengalami penurunan pada hari yang sama.

Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga perak Antam naik Rp350 menjadi Rp45.700 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (27/8/2026), harga perak berada di level Rp45.350 per gram. Data Logam Mulia menunjukkan perubahan harga tersebut tercatat pada pembaruan 28 Agustus 2026. 

Kenaikan tersebut membuat harga perak Antam kembali mendekati level Rp46.000 per gram. Pergerakan harga perak fisik Antam tidak selalu mengikuti harga perak dunia secara langsung karena turut dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah, biaya produksi, distribusi, serta kondisi permintaan dan penawaran di pasar domestik.

Daftar Harga Perak Antam

Antam menawarkan produk perak murni dengan kadar 99,95%. Produk yang tersedia antara lain perak batangan dan perak murni dalam berbagai ukuran.

Untuk perak batangan 250 gram, harganya mencapai Rp11.950.000. Sementara itu, perak batangan dengan berat 500 gram dibanderol Rp22.975.000.

Dengan harga Rp45.700 per gram, investor perlu memperhatikan bahwa harga perak fisik Antam berbeda dengan harga perak spot di pasar internasional. Harga produk fisik biasanya mencakup berbagai komponen biaya yang membuat harganya tidak bergerak satu banding satu dengan harga komoditas di pasar global.

Logam Mulia sendiri masih mencantumkan produk perak murni 99,95% sebagai salah satu kategori produknya. 

Harga Perak Dunia Melemah

Di pasar internasional, harga perak bergerak melemah. Harga perak dunia turun sekitar 0,63% ke level US$68,81 per troy ounce berdasarkan data yang menjadi acuan perdagangan.

Pergerakan tersebut membuat harga perak kembali berada di bawah level US$69 per ounce. Pasar global saat ini berada dalam posisi menunggu karena investor menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole.

Pidato tersebut menjadi perhatian besar karena merupakan salah satu kesempatan penting bagi Warsh untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Simposium Jackson Hole berlangsung pada 27-29 Agustus 2026 di Wyoming. Warsh dijadwalkan menyampaikan pidatonya pada Jumat, 28 Agustus waktu Amerika Serikat. Investor terutama akan memperhatikan pandangannya mengenai inflasi, suku bunga, kondisi pasar obligasi, serta prospek ekonomi AS. 

Inflasi AS Jadi Perhatian Utama

Salah satu faktor yang membuat pasar logam mulia bergerak hati-hati adalah perkembangan inflasi Amerika Serikat.

Data terbaru menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi utama bagi The Fed, berada di level 3,7% secara tahunan hingga Juli 2026. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Kondisi tersebut membuat tugas Warsh menjadi lebih sulit. Di satu sisi, pasar menginginkan kebijakan moneter yang lebih longgar untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, inflasi yang masih tinggi membuat ruang untuk memangkas suku bunga menjadi lebih terbatas.

Reuters melaporkan bahwa inflasi AS telah berada di atas target The Fed selama 65 bulan berturut-turut. Sejumlah komponen seperti harga kendaraan, perumahan, utilitas dan barang rekreasi masih menunjukkan tekanan harga. 

Karena itu, investor akan mencermati apakah Warsh memberikan sinyal bahwa The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga atau justru mempertahankan kebijakan saat ini.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Jadi Sorotan

Pasar juga memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada periode mendatang. Data pasar menunjukkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada September dan Desember masih cukup signifikan.

Dalam perdagangan Jumat pagi, sejumlah laporan pasar menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 35%, sementara peluang kenaikan hingga Desember berada di atas 70%. Angka tersebut dapat berubah dengan cepat setelah investor mencerna pidato Warsh.

Kondisi ini penting bagi perak karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Ketika suku bunga naik, aset yang memberikan imbal hasil biasanya menjadi relatif lebih menarik dibandingkan aset non-yielding seperti emas dan perak.

Sebaliknya, apabila pasar mendapatkan sinyal bahwa The Fed akan lebih longgar, harga logam mulia berpotensi mendapatkan dukungan.

Emas Juga Berada di Bawah Tekanan

Tidak hanya perak, pasar emas juga bergerak hati-hati menjelang pidato Warsh.

Pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026 atau Jumat pagi waktu Indonesia, harga emas spot sempat naik 0,4% menjadi US$4.609,97 per ounce. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$4.664,40.

Namun, pada perdagangan Jumat pagi, harga emas kembali bergerak lebih rendah. Data pasar menunjukkan emas spot berada sekitar US$4.589,85 per ounce pada awal perdagangan Asia. 

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor belum mengambil posisi agresif sebelum mengetahui arah komunikasi The Fed.

Emas sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Kenaikan tersebut antara lain didorong kekhawatiran mengenai pelemahan dolar AS dan meningkatnya perhatian terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat.

Permintaan ETF dan Bank Sentral Masih Menopang Emas

Meskipun menghadapi tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga, logam mulia masih mendapatkan dukungan dari permintaan investasi.

Permintaan melalui exchange-traded fund (ETF) serta pembelian oleh bank sentral menjadi salah satu faktor yang membantu menopang harga emas.

Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn mengatakan permintaan dari ETF dan bank sentral menjadi salah satu alasan dirinya masih optimistis terhadap emas.

Tren tersebut juga penting bagi perak karena keduanya sama-sama menjadi bagian dari kelompok logam mulia. Ketika investor meningkatkan alokasi ke aset lindung nilai, perak dapat ikut mendapatkan manfaat, meskipun karakteristik pasarnya berbeda dengan emas.

Risiko Pelemahan Dolar dan “Debasement Trade”

Selain prospek suku bunga, pasar juga memperhatikan risiko pelemahan nilai dolar atau yang sering disebut sebagai “debasement trade”.

Istilah tersebut mengacu pada strategi investor yang mencari perlindungan dari risiko penurunan nilai mata uang akibat kebijakan fiskal, peningkatan utang, atau ekspansi likuiditas.

Departemen Keuangan AS juga meningkatkan aktivitas pembelian kembali obligasi jangka panjang. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar karena terjadi ketika pemerintah AS menghadapi kebutuhan pembiayaan yang besar dan tingkat utang yang tinggi.

Kekhawatiran mengenai kondisi fiskal AS dapat menjadi faktor pendukung bagi aset seperti emas dan perak apabila investor menilai risiko terhadap dolar meningkat.

Namun, sentimen ini dapat bergerak berlawanan dengan ekspektasi suku bunga. Jika inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga, dolar dan imbal hasil obligasi dapat kembali mendapatkan dukungan.

Geopolitik Ikut Menentukan Harga Logam Mulia

Faktor geopolitik juga masih menjadi perhatian investor.

Perkembangan perang Rusia-Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah terus memengaruhi pasar komoditas. Harga minyak yang tetap tinggi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi.

Di Timur Tengah, upaya diplomatik untuk mengurangi ketegangan masih menjadi perhatian. Namun, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa risiko geopolitik akan segera berakhir.

Kondisi tersebut membuat investor tetap mempertahankan sebagian dana pada aset yang dianggap sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian pasar.

Bagaimana Prospek Harga Perak?

Dalam jangka pendek, arah harga perak akan sangat dipengaruhi oleh hasil pidato Kevin Warsh.

Jika Warsh memberikan sinyal bahwa The Fed masih fokus memerangi inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga, dolar AS serta imbal hasil obligasi berpotensi menguat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga emas dan perak.

Sebaliknya, apabila Warsh memberikan sinyal yang lebih dovish atau menunjukkan bahwa The Fed tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, logam mulia berpotensi mendapatkan sentimen positif.

Selain kebijakan moneter, investor perak juga perlu memperhatikan permintaan industri. Berbeda dengan emas yang lebih dominan sebagai aset investasi dan lindung nilai, perak memiliki penggunaan industri yang cukup besar.

Perak digunakan dalam berbagai sektor, termasuk elektronik, energi surya, kendaraan listrik, dan sejumlah teknologi industri. Karena itu, prospek ekonomi global juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi permintaan perak.

Harga Perak Antam dan Perak Dunia Bisa Bergerak Berbeda

Kenaikan harga perak Antam ketika harga perak dunia melemah menunjukkan bahwa harga produk fisik di dalam negeri tidak hanya ditentukan oleh harga spot global.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor penting. Ketika rupiah melemah, harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS dapat mengalami penyesuaian lebih tinggi dalam rupiah, meskipun harga globalnya relatif stabil atau bahkan turun.

Selain kurs, harga perak fisik juga dipengaruhi biaya produksi, pencetakan, distribusi, margin perdagangan dan kondisi permintaan domestik.

Dengan demikian, investor yang membeli perak Antam sebaiknya tidak hanya melihat pergerakan harga perak dunia, tetapi juga memperhatikan kurs rupiah dan selisih antara harga beli dengan harga jual kembali.

Investor Menunggu Sinyal The Fed

Untuk saat ini, perhatian pasar masih tertuju pada Jackson Hole. Pidato Warsh menjadi penting karena investor membutuhkan kejelasan mengenai bagaimana bank sentral akan menghadapi inflasi yang masih berada di atas target.

Warsh juga menghadapi tantangan komunikasi. Sejak menjabat sebagai Ketua The Fed, ia cenderung memberikan lebih sedikit panduan mengenai arah kebijakan dibandingkan sejumlah pendahulunya. Hal tersebut membuat investor semakin bergantung pada setiap pernyataan resmi untuk membaca arah kebijakan berikutnya. 

Reuters menyebut pidato Warsh akan menjadi ujian penting pada awal masa jabatannya, terutama di tengah volatilitas pasar obligasi dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi serta fiskal AS. 

Dengan harga perak Antam yang kini berada di Rp45.700 per gram, investor domestik akan mencermati apakah sentimen global setelah Jackson Hole dapat mendorong harga perak kembali naik atau justru memicu koreksi lebih lanjut.

Untuk jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih tinggi. Investor perlu mencermati arah suku bunga AS, inflasi, dolar, imbal hasil obligasi, kondisi geopolitik, serta permintaan industri sebelum mengambil keputusan investasi pada perak.