Harga Perak Antam Turun, Kini Dibanderol Rp45.800
Harga Perak Antam Turun Jadi Rp45.800, Pasar Global Tertekan di Bawah US$68 per Ons
Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 25 Agustus 2026. Koreksi harga tersebut terjadi di tengah pelemahan harga perak dunia, meskipun pergerakan perak berlawanan dengan harga emas Antam yang masih mendapat dukungan dari sentimen pasar global.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga perak Antam hari ini turun Rp100 menjadi Rp45.800 per gram, dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp45.900 per gram.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa harga perak domestik masih mengikuti perkembangan harga komoditas di pasar internasional. Selain harga perak dunia, pergerakan harga perak Antam juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta kondisi permintaan dan penawaran di pasar logam mulia.
Harga Perak Antam
Antam menyediakan sejumlah produk perak dengan kadar kemurnian tinggi. Produk tersebut antara lain perak batangan dengan ukuran 250 gram dan 500 gram, serta perak butiran murni dengan kadar kemurnian 99,95%.
Untuk perdagangan hari ini, harga perak batangan Antam 250 gram berada di level Rp11.975.000. Sementara itu, perak batangan 500 gram dibanderol sebesar Rp23.025.000.
Dengan demikian, harga per gram pada produk batangan berukuran besar tidak selalu sama dengan harga acuan per gram yang tercantum dalam daftar harga, karena terdapat perbedaan harga produk berdasarkan ukuran, biaya produksi, dan karakteristik masing-masing produk.
Perak sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan emas. Selain digunakan sebagai aset logam mulia, perak juga merupakan komoditas industri yang banyak digunakan dalam berbagai sektor manufaktur dan teknologi.
Harga Perak Dunia Turun
Di pasar global, harga perak juga mengalami koreksi.
Mengutip Trading Economics, harga perak dunia turun sekitar 1,64% menjadi US$67,82 per ons pada perdagangan Selasa.
Harga tersebut membuat perak kembali berada di bawah level psikologis US$68 per ons. Kendati mengalami penurunan harian, harga perak masih berada relatif dekat dengan level tertingginya dalam sekitar dua bulan terakhir.
Pergerakan perak saat ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika pasar emas, dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.
Perak umumnya mendapat keuntungan ketika dolar AS melemah karena komoditas tersebut dihargai dalam dolar. Ketika dolar turun, harga komoditas yang dibeli menggunakan mata uang lain menjadi relatif lebih murah sehingga dapat meningkatkan daya tarik permintaan.
Sebaliknya, penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi biasanya memberikan tekanan terhadap logam mulia karena aset tanpa imbal hasil seperti emas dan perak menjadi relatif kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga.
Kebijakan Utang AS Jadi Perhatian Pasar
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar saat ini adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat terkait pasar obligasi dan pengelolaan utang.
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan perluasan program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah berjangka panjang. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu memperbaiki kondisi pasar Treasury dan mengelola struktur utang pemerintah.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan kesiapan untuk meningkatkan volume pembelian kembali tersebut, sekaligus memberikan sinyal mengenai kemungkinan penyusunan kebijakan fiskal jangka panjang.
Langkah tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar komoditas.
Di satu sisi, intervensi pemerintah dapat membantu menstabilkan pasar obligasi dan mengurangi tekanan tertentu pada imbal hasil. Namun, di sisi lain, investor tetap mencermati persoalan fundamental seperti besarnya utang pemerintah AS, kebutuhan pembiayaan, inflasi, serta prospek nilai dolar.
Kondisi tersebut kembali menghidupkan apa yang disebut sebagai debasement trade, yaitu strategi investor untuk mencari aset yang dianggap mampu mempertahankan nilai ketika muncul kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli mata uang atau meningkatnya risiko fiskal.
Emas selama ini menjadi aset utama dalam tema tersebut. Namun, perak juga dapat memperoleh manfaat karena memiliki karakteristik sebagai logam mulia sekaligus komoditas industri.
Permintaan Industri Menjadi Penopang Perak
Berbeda dengan emas yang sebagian besar permintaannya berkaitan dengan investasi, perhiasan, dan cadangan bank sentral, perak mempunyai basis permintaan industri yang jauh lebih besar.
Perak digunakan karena memiliki sejumlah karakteristik penting, termasuk konduktivitas listrik dan termal yang sangat tinggi. Karakteristik tersebut membuatnya dibutuhkan dalam berbagai produk elektronik dan teknologi.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah panel surya fotovoltaik.
Perak digunakan dalam proses pembuatan sel surya untuk membantu menghantarkan listrik. Pertumbuhan energi terbarukan secara global kemudian menjadi salah satu faktor struktural yang mendukung permintaan perak dalam jangka panjang.
Selain energi surya, perak juga digunakan dalam berbagai komponen kendaraan listrik, elektronik, sistem kelistrikan, perangkat medis, hingga sejumlah teknologi yang berkaitan dengan infrastruktur digital.
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga secara tidak langsung menjadi faktor yang diperhatikan pasar perak. Pertumbuhan pusat data membutuhkan berbagai perangkat elektronik, sistem kelistrikan, dan infrastruktur pendukung yang menggunakan material konduktif, termasuk perak dalam sejumlah aplikasi.
Artinya, prospek perak tidak hanya bergantung pada investor yang membeli logam mulia, tetapi juga pada perkembangan ekonomi dan teknologi dunia.
Emas Dunia Menguat
Sementara itu, harga emas dunia justru bergerak menguat pada awal pekan.
Harga emas melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga bulan pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Penguatan tersebut didorong oleh aksi beli teknikal, sentimen terhadap kebijakan Departemen Keuangan AS, serta pelemahan dolar AS menjelang sejumlah agenda ekonomi penting.
Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,7% menjadi US$4.635,39 per ons, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 14 Mei.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% dan ditutup pada level US$4.697,80 per ons.
Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai faktor fundamental dan teknikal masih mendukung tren bullish pada pasar emas.
Menurutnya, stabilnya imbal hasil obligasi, bahkan sedikit menurun, turut memberikan dukungan terhadap harga emas.
Dengan tren tersebut, Wyckoff memperkirakan harga emas berpotensi bergerak mendatar hingga menguat dalam beberapa pekan ke depan selama tidak muncul sinyal pembalikan arah secara teknikal.
Arus Dana ke ETF Emas Meningkat
Sentimen positif terhadap emas juga terlihat dari meningkatnya arus dana ke produk ETF berbasis emas.
Menurut World Gold Council, ETF yang didukung emas mencatat arus masuk sebesar 46,7 metrik ton pada pekan sebelumnya, dengan nilai sekitar US$6,4 miliar.
Arus masuk tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sekitar 10 bulan terakhir. Dana yang terdaftar di kawasan Amerika Utara dan Eropa menjadi salah satu sumber utama arus masuk.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap emas kembali meningkat setelah harga sebelumnya mengalami tekanan.
Kenaikan permintaan investasi juga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sentimen terhadap aset safe haven. Ketika investor menghadapi ketidakpastian mengenai inflasi, kebijakan moneter, nilai tukar, atau risiko fiskal, sebagian dana biasanya dialihkan ke aset yang dianggap dapat menjadi lindung nilai.
Perak Tidak Selalu Mengikuti Emas
Meski emas dan perak sama-sama masuk kelompok logam mulia, pergerakan keduanya tidak selalu sama.
Perak memiliki volatilitas yang cenderung lebih tinggi karena selain berfungsi sebagai aset investasi, komoditas tersebut juga sangat dipengaruhi oleh siklus ekonomi dan permintaan industri.
Ketika ekonomi global tumbuh kuat, kebutuhan industri terhadap perak dapat meningkat. Namun, apabila aktivitas manufaktur melemah, permintaan industri dapat ikut tertekan.
Sebaliknya, ketika pasar menghadapi ketidakpastian tinggi dan investor mencari aset lindung nilai, emas biasanya menjadi tujuan utama. Perak dapat ikut terdorong, tetapi responsnya tidak selalu sebesar emas.
Karena itu, investor perlu memperhatikan dua sisi pasar perak sekaligus, yakni permintaan investasi dan permintaan industri.
Pasar Menunggu Data Inflasi AS
Perhatian investor pada pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi dan agenda kebijakan di Amerika Serikat.
Salah satu data yang menjadi perhatian adalah Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan salah satu indikator inflasi utama yang diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Data inflasi memiliki pengaruh besar terhadap emas dan perak karena dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS.
Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, investor dapat meningkatkan ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi mendukung logam mulia melalui penurunan imbal hasil riil dan tekanan terhadap dolar.
Sebaliknya, inflasi yang kembali tinggi dapat membuat pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Skenario tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap logam mulia.
Selain data PCE, investor juga memperhatikan agenda Simposium Jackson Hole, termasuk pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Pernyataan dari pejabat bank sentral akan menjadi penting karena pasar berusaha memperkirakan arah kebijakan moneter AS ke depan.
Prospek Harga Perak
Dalam jangka pendek, harga perak masih berpotensi bergerak volatil. Level US$68 per ons menjadi salah satu area yang diperhatikan karena pergerakan di sekitar level psikologis tersebut dapat memengaruhi sentimen teknikal.
Jika tekanan jual berlanjut, investor akan mencermati apakah harga mampu mempertahankan area support setelah turun dari level US$68. Sebaliknya, apabila permintaan kembali meningkat dan harga mampu menembus kembali level tersebut, momentum positif dapat kembali terbentuk.
Dalam jangka lebih panjang, prospek perak masih mendapatkan dukungan dari pertumbuhan kebutuhan industri, khususnya energi terbarukan, elektronik, kendaraan listrik, dan teknologi.
Namun, prospek tersebut tetap menghadapi sejumlah risiko, termasuk perlambatan ekonomi global, perubahan permintaan industri, penguatan dolar AS, tingginya suku bunga, serta perubahan kebijakan perdagangan dan ekonomi negara-negara besar.
Bagi pasar domestik, pergerakan harga perak Antam juga akan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat membuat harga logam mulia dalam rupiah tetap tinggi meskipun harga komoditas global mengalami penurunan.
Dengan demikian, penurunan harga perak Antam menjadi Rp45.800 pada Selasa, 25 Agustus 2026 tidak serta-merta menunjukkan perubahan tren jangka panjang. Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada kombinasi harga perak dunia, dolar AS, kebijakan Federal Reserve, kondisi pasar obligasi AS, permintaan industri, serta nilai tukar rupiah.
0 Comments