IHSG Hari Ini Berbalik Anjlok 1%, Turun ke Level 6.433

IHSG Hari Ini Berbalik Anjlok 1%, Turun ke Level 6.433

Sempat Dibuka Menguat, IHSG Hari Ini Anjlok 1% ke 6.433

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil pada awal perdagangan saham, Rabu (26/8/2026). IHSG yang sempat dibuka menguat justru berbalik melemah tajam dan meninggalkan level psikologis 6.500.

Berdasarkan data perdagangan yang dikutip dari RTI, IHSG dibuka naik tipis 0,08% ke level 6.507,14. Namun, tekanan jual meningkat pada awal sesi sehingga pada pukul 09.05 WIB IHSG telah merosot 1,05% ke posisi 6.433.

Pada awal perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.427,67 hingga 6.509,37. Pelemahan terjadi ketika mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah.

Sebanyak 421 saham melemah, sementara hanya 113 saham menguat dan 171 saham lainnya bergerak stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual cukup luas dan tidak hanya terjadi pada beberapa saham berkapitalisasi besar.

Indeks LQ45 juga ikut terkoreksi 1,09% ke level 635. Pelemahan indeks saham unggulan tersebut menjadi indikasi bahwa tekanan pasar turut menyasar saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.

Nilai Transaksi Tembus Rp1,7 Triliun

Aktivitas perdagangan pada awal sesi Rabu cukup ramai. Hingga pukul 09.05 WIB, frekuensi transaksi saham tercatat mencapai 264.754 kali.

Volume perdagangan mencapai sekitar 3,7 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,7 triliun. Sementara itu, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp17.678.

Pergerakan rupiah menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan investor. Sebelumnya, pelemahan rupiah menjadi salah satu sentimen yang membebani IHSG pada perdagangan awal pekan.

Pada perdagangan Senin (24/8/2026), IHSG ditutup turun 0,37% atau 24,02 poin ke level 6.501,67. Pelemahan saat itu terjadi seiring tekanan di sejumlah bursa Asia dan aksi ambil untung investor.

Investor asing juga menjadi perhatian pasar. Dalam perdagangan 24 Agustus, tercatat aksi jual bersih investor asing, sementara sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, BUMI, dan TPIA termasuk yang mengalami tekanan jual cukup besar. 

Seluruh Sektor Saham Berada di Zona Merah

Tekanan IHSG pada awal perdagangan Rabu terjadi secara merata. Seluruh sektor saham tercatat melemah.

Sektor energi menjadi pemberat utama dengan penurunan 1,78%. Sektor transportasi menyusul dengan koreksi 1,72%, sedangkan sektor properti dan infrastruktur masing-masing melemah sekitar 1,20%.

Berikutnya, sektor consumer siklikal turun 1,05%, sektor basic materials terkoreksi 0,84%, sektor keuangan melemah 0,80%, dan sektor industri turun 0,76%.

Sementara itu, sektor consumer nonsiklikal turun 0,70%, kesehatan melemah 0,69%, dan teknologi terkoreksi 0,39%.

Tekanan serentak di seluruh sektor menunjukkan sentimen negatif pasar cukup luas pada awal perdagangan. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko setelah IHSG sebelumnya mengalami penguatan dan bergerak di sekitar level 6.500.

IHSG Sebelumnya Diproyeksikan Rebound

Menariknya, sebelum perdagangan dibuka, sejumlah analis justru melihat peluang IHSG untuk mengalami rebound.

Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak dalam kisaran 6.450-6.600. Secara teknikal, indeks masih dinilai memiliki peluang menguat karena bertahan di atas sejumlah level support penting. 

BRI Danareksa Sekuritas juga memperkirakan IHSG bergerak mixed to positive dengan support 6.455-6.400 dan resistance di 6.568. Secara teknikal, tren bullish dinilai masih terjaga selama IHSG mampu bertahan di atas 6.455. 

Namun, perkembangan pada awal sesi menunjukkan bahwa tekanan jual justru membawa IHSG turun hingga 6.427,67. Level tersebut menjadi penting karena beberapa analis sebelumnya menempatkan area 6.400-6.500 sebagai zona support.

BNI Sekuritas sebelumnya memperkirakan support IHSG berada di area 6.400-6.500, sedangkan resistance berada pada 6.550-6.600. Artinya, pelemahan hingga sekitar 6.427 membuat investor perlu mencermati apakah indeks mampu bertahan di area support tersebut. 

MNC Sekuritas juga memperkirakan adanya potensi koreksi jangka pendek di area 6.429-6.453. Dengan IHSG sempat menyentuh 6.427,67 pada awal perdagangan Rabu, area tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan pelaku pasar. 

Sentimen Global Masih Menjadi Perhatian

Dari pasar global, sentimen sebenarnya cukup positif menjelang perdagangan saham Indonesia. Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya.

Dow Jones Industrial Average naik 0,30% ke 53.577,40. S&P 500 menguat 0,32% ke 7.677,28, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,66% menjadi 26.151,30. 

Penguatan Wall Street tersebut sebelumnya menjadi salah satu alasan analis melihat peluang IHSG untuk rebound. Namun, sentimen positif global belum cukup kuat untuk menahan aksi jual di pasar saham Indonesia pada awal perdagangan Rabu.

Investor juga mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve.

Data ekonomi AS yang menjadi perhatian pekan ini antara lain inflasi inti melalui Core PCE, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026, personal income, personal spending, serta durable goods orders. Selain itu, pasar global juga menunggu pidato pejabat The Fed dalam agenda Jackson Hole. 

Data-data tersebut penting karena dapat memengaruhi ekspektasi investor mengenai arah suku bunga AS dan pergerakan dolar AS. Perubahan ekspektasi suku bunga global pada akhirnya dapat berdampak terhadap arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Harga Minyak dan Risiko Geopolitik Ikut Dicermati

Selain data ekonomi AS, investor juga memperhatikan perkembangan geopolitik, khususnya hubungan AS dan Iran.

Sebelumnya, harga minyak dunia turun sekitar 3% ke kisaran US$82,5 per barel seiring meredanya ketegangan AS-Iran. Penurunan harga minyak berpotensi menjadi sentimen positif bagi inflasi global, tetapi sekaligus dapat memengaruhi saham-saham berbasis komoditas dan energi. 

Di sisi lain, pasar masih perlu mencermati risiko apabila tensi geopolitik kembali meningkat. Perubahan harga minyak dapat memberikan dampak berbeda terhadap masing-masing sektor saham, tergantung apakah emiten merupakan produsen, eksportir, atau konsumen energi.

BEI Juga Siapkan Evaluasi Sejumlah Indeks

Selain faktor global dan pergerakan rupiah, pelaku pasar domestik turut mencermati evaluasi berkala sejumlah indeks saham.

Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi terhadap 14 indeks saham, dengan perubahan komposisi yang mulai berlaku pada September 2026. Evaluasi tersebut mencakup sejumlah indeks, termasuk Investor33, ISSI, JII, dan IDXMESBUMN. 

Perubahan komposisi indeks dapat menjadi katalis bagi saham tertentu karena berpotensi memengaruhi strategi investasi dari pengelola dana yang menggunakan indeks sebagai acuan.

Investor juga mencermati perkembangan fundamental ekonomi Indonesia dan data makroekonomi terbaru sebagai dasar menentukan arah investasi.

Gerak Saham CDIA, TPIA dan BNBR

Di tengah tekanan IHSG, sejumlah saham yang menjadi perhatian investor turut bergerak melemah.

Saham CDIA terkoreksi 2,19% menjadi Rp670 per saham. Saham tersebut dibuka turun lima poin ke Rp680 dan sempat bergerak pada rentang Rp665-Rp685.

Frekuensi transaksi saham CDIA mencapai 1.994 kali dengan volume 165.535 saham. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp11,1 miliar.

Saham TPIA juga berada di zona merah. Harga saham TPIA turun 1,01% menjadi Rp1.970 per saham. Saham tersebut dibuka stagnan di Rp1.990 dan bergerak pada rentang Rp1.960-Rp1.995.

Frekuensi perdagangan TPIA mencapai 6.734 kali dengan volume 295.648 saham. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp58,2 miliar.

Sementara itu, saham BNBR melemah 0,99% menjadi Rp100 per saham. Saham BNBR dibuka turun satu poin ke Rp100 dan bergerak pada rentang Rp99-Rp101.

Frekuensi transaksi BNBR mencapai 4.844 kali dengan volume 2,16 juta saham. Nilai transaksi sekitar Rp21,6 miliar.

TMPO Justru Melonjak 25%

Berbeda dengan mayoritas saham yang tertekan, saham TMPO justru mencatat kenaikan tajam pada awal perdagangan.

Harga saham TMPO melesat 25,13% menjadi Rp234 per saham. Saham tersebut dibuka di Rp200, naik dari harga penutupan sebelumnya Rp187.

Dalam perdagangan awal, TMPO sempat menyentuh level tertinggi Rp236 dan terendah Rp196. Frekuensi transaksi mencapai 11.299 kali dengan volume 1,22 juta saham.

Nilai transaksi saham TMPO tercatat sekitar Rp26,7 miliar.

Lonjakan TMPO menunjukkan bahwa di tengah koreksi IHSG, tetap terdapat saham-saham tertentu yang menjadi sasaran aksi beli investor. Namun, kenaikan tajam pada saham individual tidak serta-merta mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.

Level 6.400 Menjadi Area Penting

Pergerakan IHSG pada awal perdagangan Rabu membuat level 6.400 menjadi area yang patut diperhatikan.

Sebelumnya, sejumlah analis menempatkan area 6.400-6.500 sebagai support penting. BRI Danareksa menempatkan support pada 6.455-6.400, sedangkan BNI Sekuritas melihat area 6.400-6.500 sebagai support IHSG. (brids⁠)

Apabila IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, indeks masih memiliki peluang melakukan technical rebound. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus support 6.400 secara meyakinkan, risiko koreksi lebih dalam dapat meningkat.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar akan mencermati perkembangan IHSG sepanjang sesi perdagangan, terutama arah saham-saham berkapitalisasi besar, pergerakan rupiah, transaksi investor asing, serta respons pasar terhadap sentimen global.

Untuk sementara, pelemahan lebih dari 1% pada awal sesi menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih menghadapi tekanan kuat. Pergerakan selanjutnya akan menentukan apakah penurunan tersebut hanya merupakan koreksi jangka pendek atau menjadi awal pelemahan yang lebih panjang.