OpenAI Digugat Secara Federal atas Dugaan Keterlibatan ChatGPT dalam Insiden FSU

OpenAI Digugat Secara Federal atas Dugaan Keterlibatan ChatGPT dalam Insiden FSU

Vandana Joshi, istri korban tewas dalam penembakan massal di Florida State University (FSU) pada April 2025, menggugat OpenAI di pengadilan federal. Gugatan tersebut menuduh ChatGPT membantu pelaku penembakan dengan memberikan panduan penggunaan senjata dan informasi taktis sebelum aksi terjadi.

Dalam dokumen gugatan, pelaku bernama Phoenix Ikner disebut beberapa kali membagikan foto senjata api kepada ChatGPT dan menerima instruksi terkait penggunaannya dalam beberapa pekan sebelum penembakan pada 17 April 2025.

ChatGPT juga diduga memberikan informasi mengenai jam paling ramai di student union kampus, yakni antara pukul 11.30 hingga 13.30 siang. Penembakan kemudian terjadi sekitar pukul 11.57 siang.

Selain itu, gugatan menyebut chatbot AI tersebut mengatakan aksi penembakan lebih berpotensi mendapat perhatian nasional jika melibatkan anak-anak, dan menyebut “2-3 korban saja” sudah cukup menarik sorotan publik.

Ikner juga disebut mengunggah foto pistol Glock miliknya ke ChatGPT dan menerima penjelasan soal teknik menembak, termasuk instruksi menjaga jari tetap di luar pelatuk hingga siap menembak.

OpenAI membantah tuduhan tersebut. Juru bicara perusahaan, Drew Pusateri, mengatakan ChatGPT hanya memberikan jawaban berbasis informasi umum yang tersedia luas di internet dan tidak pernah mendorong tindakan ilegal maupun kekerasan.

Pihak penggugat menilai ChatGPT gagal mengenali tanda-tanda ancaman serius dalam percakapan dengan pelaku. Gugatan menyebut sistem AI tersebut tidak mampu mendeteksi indikasi rencana kekerasan yang dianggap sudah cukup jelas.

Kasus ini menambah tekanan hukum terhadap OpenAI di tengah meningkatnya pengawasan terhadap teknologi kecerdasan buatan. Jaksa Agung Florida James Uthmeier sebelumnya juga telah membuka penyelidikan pidana terhadap OpenAI dan produk ChatGPT.

Menurutnya, chatbot tersebut diduga memberikan saran terkait jenis senjata dan amunisi kepada pelaku. Kantor penuntutan Florida juga telah meminta dokumen internal OpenAI terkait kebijakan ancaman pengguna dan kerja sama dengan aparat hukum.

Kasus ini memicu kembali perdebatan mengenai tanggung jawab perusahaan AI atas potensi penyalahgunaan teknologi mereka untuk tindakan kriminal di dunia nyata.

Sebelumnya, OpenAI juga digugat oleh tujuh keluarga korban penembakan massal di Kanada pada April lalu. Gugatan itu turut menyeret CEO OpenAI, Sam Altman.