Perang Dagang AS–Eropa: Ujian Berat bagi Ketahanan Ekonomi Global

Perang Dagang AS–Eropa: Ujian Berat bagi Ketahanan Ekonomi Global

Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) kembali berada di titik rawan. Ketegangan meningkat tajam setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman pengenaan tarif tambahan hingga 35% terhadap negara-negara Eropa yang dinilai menghambat ambisinya untuk mengambil alih Greenland. Pernyataan tersebut sempat memicu gejolak pasar global dan kekhawatiran akan pecahnya perang dagang besar-besaran antara dua kekuatan ekonomi dunia.

Namun, hanya beberapa jam setelah ancaman itu mengguncang pasar keuangan, Trump secara mengejutkan melunakkan sikapnya. Gedung Putih menyebut telah terjadi kemajuan diplomatik yang signifikan terkait isu Greenland dan kawasan Arktik, sehingga rencana penerapan tarif tambahan sementara dibatalkan.

Gertakan Tarif dan Ambisi Strategis Greenland

Ketegangan bermula ketika sekelompok anggota kunci Parlemen Eropa memblokir pemungutan suara ratifikasi kesepakatan dagang AS–UE pada Rabu waktu setempat. Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap tekanan politik dan ekonomi yang dilakukan Trump terkait Greenland, wilayah otonom Denmark yang memiliki posisi strategis di kawasan Arktik.

Trump sebelumnya menyebut Greenland sebagai aset penting bagi kepentingan keamanan nasional AS, terutama di tengah meningkatnya persaingan geopolitik di Arktik, yang kaya sumber daya mineral langka dan menjadi jalur strategis baru akibat mencairnya es kutub. Bahkan, Trump sempat mengisyaratkan opsi militer sebelum kemudian menarik pernyataan tersebut saat tampil di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Sebagai gantinya, Trump mempertegas pendekatan ekonomi dengan ancaman tarif yang dampaknya berpotensi meluas ke seluruh dunia, mengingat besarnya perekonomian negara-negara Eropa yang terlibat. CNN melaporkan, ancaman tersebut langsung meningkatkan volatilitas di pasar saham dan valuta asing global, Jumat (23/1/2026).

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan telah terjadi kemajuan diplomatik.
“Berdasarkan pertemuan produktif dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan Wilayah Arktik,” tulis Trump pada Rabu.

Dengan adanya “konsep kesepakatan” tersebut, Trump mengumumkan pembatalan sementara tarif tambahan yang sebelumnya dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026. Meski demikian, Gedung Putih menegaskan bahwa opsi tarif masih dapat diaktifkan kembali jika perundingan menemui jalan buntu.

Uni Eropa Siapkan “Bazooka Perdagangan”

Sebelum Trump menarik ancamannya, para pemimpin Eropa telah menyiapkan langkah balasan yang tidak kalah keras. Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan mendorong Uni Eropa untuk mengaktifkan apa yang dikenal sebagai “instrumen anti-paksaan” atau yang dijuluki “Bazooka Perdagangan”.

Instrumen ini dirancang sebagai senjata ekonomi terakhir UE untuk menghadapi tekanan negara mitra dagang besar. Jika diaktifkan, Uni Eropa dapat menangguhkan izin operasional perusahaan-perusahaan AS di wilayah Eropa, mengenakan pajak tambahan pada layanan digital raksasa teknologi AS, hingga membatasi akses perusahaan Amerika ke proyek-proyek strategis Eropa.

Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange, menuduh Washington telah melanggar kesepakatan dagang yang diteken pada musim panas lalu. Dalam perjanjian tersebut, tarif barang-barang UE yang masuk ke AS seharusnya dipatok maksimal 15%.

“Ancaman tarif sepihak bertentangan dengan semangat dan substansi perjanjian yang telah disepakati bersama,” ujar Lange dalam pernyataan resminya.

Saling Tuding Pelanggaran Komitmen

Di sisi lain, pemerintah AS juga merasa Uni Eropa tidak konsisten. Duta Perdagangan AS, Jamieson Greer, menuding Brussel gagal memenuhi janji untuk meningkatkan pembelian produk pertanian dan energi dari Amerika Serikat, termasuk gas alam cair (LNG).

“Uni Eropa gagal melaksanakan komitmennya, meskipun AS telah bergerak cepat menurunkan tarif pada tahun lalu,” tegas Greer. Ia menyebut kekecewaan Washington menjadi salah satu faktor utama di balik meningkatnya tekanan dagang.

Ketegangan ini menegaskan rapuhnya kepercayaan antara kedua belah pihak, meskipun secara resmi masih terikat dalam kerangka kemitraan strategis transatlantik.

Pertaruhan Perdagangan Hampir USD 1 Triliun

Konflik ini jauh dari sekadar perang kata-kata. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan nilai perdagangan barang dan jasa antara AS dan Uni Eropa hampir mencapai USD 1 triliun pada 2024, menjadikannya hubungan dagang bilateral terbesar di dunia.

Ekonom memperingatkan, jika konflik ini berubah menjadi perang dagang terbuka, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor, mulai dari industri otomotif, energi, teknologi, hingga rantai pasok global. Negara-negara berkembang juga berpotensi terkena imbas akibat terganggunya arus perdagangan dan investasi internasional.

Hingga kini, belum ada kepastian apakah Parlemen Eropa akan melanjutkan proses ratifikasi kesepakatan dagang yang sempat tertunda, meski nada diplomatik dari Washington mulai melunak.

Pasar Global Masih Rentan Bergejolak

Sebelumnya, pasar global telah mengalami tekanan setelah Trump berjanji mengenakan tarif impor terhadap delapan negara Eropa hingga AS “diizinkan” membeli Greenland. Sentimen tersebut mendorong euro ke level terendah dalam tujuh minggu pada akhir perdagangan 18 Januari 2026.

Pada awal perdagangan Asia-Pasifik, euro tercatat melemah 0,2% ke kisaran USD 1,1572, terendah sejak November. Poundsterling ikut tertekan, sementara yen menguat seiring meningkatnya permintaan aset aman.

Trump sempat menyatakan akan mengenakan tarif impor tambahan 10% mulai 1 Februari terhadap barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut bahkan direncanakan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan, seperti dilaporkan The Straits Times, Senin (19/1/2026).

Negara-negara utama Uni Eropa mengecam keras ancaman tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pemerasan ekonomi. Prancis secara terbuka mengusulkan berbagai langkah balasan ekonomi yang belum pernah diuji sebelumnya.

Kepala ekonom Berenberg, Holger Schmieding, menilai situasi ini mengingatkan pasar pada ketegangan tahun lalu.
“Harapan bahwa isu tarif telah mereda untuk tahun ini pupus. Kita kembali berada dalam situasi yang mirip dengan musim semi lalu,” ujarnya.

Tarif besar-besaran yang diberlakukan Trump pada April 2025, yang dijuluki sebagai tarif “Hari Pembebasan”, sebelumnya sempat mengguncang pasar global. Meski investor kemudian cenderung mengabaikan ancaman lanjutan pada paruh kedua 2025, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa risiko geopolitik dan perdagangan kembali membayangi pasar di awal 2026.

Meski demikian, sebagian analis menilai respons pasar kali ini relatif lebih terkendali, mencerminkan ketahanan sentimen investor serta keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi global masih berada di jalur yang diharapkan—setidaknya untuk sementara waktu.