Rupiah Melemah ke Rp17.915 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Neraca Dagang

Rupiah Melemah ke Rp17.915 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Neraca Dagang

Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (1/10/2026) seiring penguatan dolar AS setelah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan peningkatan. Pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (1/10/2026). Rupiah dibuka melemah 21 poin atau sekitar 0,12% ke level Rp17.915 per dolar AS, dari penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.894 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Data Tenaga Kerja AS Dorong Dolar Menguat

Josua menjelaskan, data Automatic Data Processing (ADP) Employment Change Amerika Serikat untuk September 2026 meningkat menjadi 90 ribu, dari 38 ribu pada bulan sebelumnya.

Menurutnya, kenaikan tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Kondisi ini kemudian ikut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

“Data tersebut menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sehingga turut mendukung permintaan terhadap dolar AS,” ujar Josua seperti dikutip Antara, Kamis (1/10/2026).

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada awal perdagangan.

Data PCE AS Berada di Bawah Ekspektasi

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit tertahan oleh data inflasi acuan yang menjadi perhatian Federal Reserve atau The Fed.

PCE Price Index tercatat sebesar 3,4% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Agustus 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan konsensus pasar sebesar 3,7%.

Sementara itu, Core PCE Price Index berada di level 3,0% yoy, juga di bawah perkiraan pasar sebesar 3,3%.

Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi AS berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar dalam melihat arah kebijakan moneter The Fed.

Kebijakan BI Jadi Penopang Rupiah

Dari dalam negeri, rupiah mendapatkan dukungan dari komitmen Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Josua menilai langkah dan pernyataan BI memberikan kepastian bagi investor mengenai prospek stabilitas rupiah.

“Pernyataan tersebut memberikan reassurance kepada investor terkait prospek stabilitas rupiah,” ujarnya.

Komitmen BI menjadi salah satu faktor domestik yang dapat membantu menjaga pergerakan rupiah di tengah tekanan dari pasar global.

Pasar Menanti Data BPS

Selain perkembangan pasar global, perhatian investor pada perdagangan Kamis juga tertuju pada sejumlah data ekonomi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Data tersebut mencakup neraca perdagangan Agustus 2026 dan inflasi September 2026.

Josua memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat dari US$0,12 miliar pada Juli 2026 menjadi sekitar US$0,93 miliar pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut diperkirakan didukung oleh peningkatan harga komoditas.

Di sisi lain, inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 3,35% pada September 2026, dari 3,19% pada bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi tersebut diperkirakan berasal dari peningkatan harga komponen volatile food dan administered prices.

Proyeksi Rupiah Hari Ini

Dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global dan sentimen dari dalam negeri, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.825-Rp17.925 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis (1/10/2026).

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, serta hasil rilis data ekonomi Indonesia.