Transaksi QRIS Tumbuh 67,2% pada Agustus 2026, Pengguna Capai 67 Juta
Transaksi QRIS terus mengalami pertumbuhan pesat seiring semakin luasnya penggunaan pembayaran digital di Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi QRIS tumbuh 67,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2026.
Pertumbuhan tersebut juga diikuti dengan peningkatan jumlah pengguna QRIS. Hingga Agustus 2026, pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai 67 juta orang.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total populasi Indonesia. Kondisi ini menunjukkan pembayaran menggunakan QRIS semakin menjadi bagian dari aktivitas transaksi masyarakat sehari-hari.
“QRIS, kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya, sudah satu per empat dari penduduk Indonesia menggunakan QRIS,” kata Destry dalam konferensi pers FEKDI X IFSE 2026 di Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Penggunaan QRIS Makin Meluas
Menurut Destry, meningkatnya penggunaan sistem pembayaran digital turut mengubah kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Penggunaan uang tunai mulai berkurang karena masyarakat memiliki pilihan pembayaran yang lebih praktis melalui QRIS.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat di pusat perbelanjaan atau sektor usaha modern. Penggunaan QRIS juga semakin mudah ditemukan di pasar tradisional.
“Jadi tentu saja kalau kita lihat, karena banyak yang menggunakan sistem digital, penggunaan cash kan jadi terbatas. Kita bisa lihat di beberapa acara, kalau kita sekarang belanja di pasar, mereka lebih suka pakai QRIS ketimbang uang cash,” ujar Destry.
Transaksi Pembayaran Digital Capai 6,11 Miliar
Pertumbuhan QRIS menjadi salah satu bagian dari meningkatnya aktivitas pembayaran digital di Indonesia.
BI mencatat volume transaksi pembayaran digital secara keseluruhan mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 40,36% secara tahunan.
“Volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi atau tumbuh 40,36% year-on-year pada Agustus 2026, didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital,” kata Destry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Gedung Pusat BI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Selain QRIS, transaksi melalui internet banking juga mencatat pertumbuhan sebesar 15,12% yoy. Sementara itu, transaksi mobile banking tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 47,08% yoy.
BI Tetap Menjaga Ketersediaan Uang Tunai
Meski penggunaan pembayaran digital semakin meningkat, BI memastikan uang kartal berupa uang kertas dan logam tetap tersedia bagi masyarakat.
Destry menjelaskan, pertumbuhan uang kartal memang mulai melambat seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital. Namun, uang tunai masih dibutuhkan karena kondisi geografis Indonesia yang luas dan belum meratanya akses jaringan di sejumlah wilayah.
“Kalau kita lihat memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat. Kenapa? Karena Indonesia ini kan sangat luas. Sehingga kami tetap menyediakan untuk uang kertas,” jelas Destry.
Dengan demikian, perkembangan pembayaran digital tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap uang tunai. BI tetap menyediakan uang kartal untuk memastikan masyarakat di berbagai wilayah dapat melakukan transaksi.
QRIS Terus Diperluas ke Negara Lain
Selain memperluas penggunaan QRIS di dalam negeri, BI juga terus mengembangkan layanan pembayaran QRIS lintas negara.
Saat ini, QRIS antarnegara telah terhubung dan dapat digunakan di sejumlah negara, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan China.
BI juga berencana memperluas konektivitas QRIS lintas negara ke sejumlah negara lainnya. Ekspansi tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem pembayaran digital Indonesia di tingkat internasional.
Pertumbuhan pengguna dan transaksi QRIS menunjukkan semakin luasnya adopsi pembayaran digital di Indonesia. Di tengah perubahan kebiasaan masyarakat, BI tetap menjaga keseimbangan antara pengembangan sistem pembayaran digital dan ketersediaan uang tunai.
0 Comments