Tren Baju Binor ala Inara Rusli Bikin Omzet Naik Jelang Lebaran

Tren Baju Binor ala Inara Rusli Bikin Omzet Naik Jelang Lebaran

Tren Busana “Baju Bini Orang” Dominasi Lebaran 2026, Dorong Perputaran Ekonomi Modest Fashion

Tren busana muslim perempuan bertajuk baju bini orang atau binor kian mencuri perhatian publik menjelang Lebaran 2026. Gaya berpakaian yang lekat dengan sosok publik figur Inara Rusli ini tidak hanya ramai diperbincangkan di media sosial, tetapi juga memberi dampak nyata terhadap pergerakan ekonomi di sektor modest fashion nasional.

Fenomena binor terlihat dari masifnya konten fesyen Lebaran di berbagai platform digital, mulai dari Instagram, TikTok, hingga marketplace. Banyak pengguna memamerkan look bernuansa feminin dan elegan yang identik dengan gaya Inara Rusli, sehingga secara tidak langsung membentuk preferensi pasar, khususnya di kalangan perempuan muda dan ibu rumah tangga.

Modest fashion specialist sekaligus co-founder Markamarie, Franka Soeria, menilai tren binor merupakan fenomena musiman yang sangat dipengaruhi oleh figur publik tertentu. Menurutnya, pola ini bukanlah hal baru dalam industri busana muslim.

“Untuk binor memang lagi tren karena sosok tertentu, ya, seperti Inara Rusli. Ini mirip Lebaran sebelumnya, saat ada tren mukena Syahrini dan lainnya,” ujar Franka kepada Liputan6.com, dikutip Selasa (24/2/2026).

Ciri Khas Feminin dan Romantis

Franka menjelaskan, tren binor menonjolkan karakter feminin yang lembut dan romantis. Beberapa ciri utama gaya ini antara lain detail lengan berkaret menyerupai gaun putri, siluet longgar namun jatuh, serta penggunaan bahan bertekstur ringan dengan sentuhan transparan seperti tulle atau kain menerawang. Warna-warna putih, krem, broken white, hingga pastel mendominasi, menciptakan kesan anggun dan bersih yang selaras dengan nuansa Idulfitri.

Tak hanya dari segi desain, tren ini juga menekankan kesan “rapi tapi effortless”, sehingga cocok dikenakan untuk salat Id, silaturahmi keluarga, hingga sesi foto Lebaran yang kini menjadi bagian dari budaya digital masyarakat.

Omzet Naik, Konsumen Tetap Rasional

Seperti tren Lebaran pada umumnya, kemunculan binor terbukti mendongkrak omzet pelaku usaha fesyen muslim. Banyak toko, baik online maupun offline, berlomba-lomba menghadirkan koleksi serupa demi menangkap lonjakan permintaan pasar.

“Tren Lebaran itu selalu bisa menaikkan omzet. Makanya hampir semua toko baju coba jual produk binor ini,” kata Franka.

Namun demikian, di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menuntut kehati-hatian, perilaku konsumen dinilai semakin rasional. Harga menjadi faktor utama dalam keputusan belanja. Tren fesyen yang sifatnya sementara membuat pembeli cenderung enggan mengeluarkan biaya besar.

“Kalau beli baju yang lagi tren, enggak harus mahal. Karena trennya cepat selesai dan dianggap enggak dipakai jangka panjang. Biasanya konsumen pilih yang murah,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagian konsumen bahkan membeli lebih dari satu potong pakaian selama periode tren berlangsung agar tetap terlihat up to date, namun tetap membatasi anggaran dengan memilih produk di segmen harga terjangkau.

Lebaran, Momentum Paling Agresif Industri Busana

Lebih lanjut, Franka mengungkapkan bahwa musim Lebaran merupakan periode paling agresif bagi industri busana muslim. Dalam satu musim Lebaran saja, ada brand yang mampu mencatat omzet hingga Rp4 miliar, meskipun harga jual per item hanya berada di kisaran Rp200 ribu.

“Itu contoh brand yang sukses. Untuk pedagang besar seperti di Tanah Abang, biasanya mereka punya rantai produksi sendiri, dari konveksi sampai toko bahan. Jadi harga modalnya sangat efisien dan harga retail bisa murah banget,” ujarnya.

Budaya seragaman keluarga saat Lebaran juga menjadi penggerak utama penjualan. Konsep sarimbit—yang mencakup busana untuk ibu, ayah, hingga anak—mendorong pembelian dalam paket lengkap dan secara langsung meningkatkan nilai transaksi per pelanggan.

Menariknya, bahkan di luar musim Lebaran, Franka menyebut ada brand busana muslim yang mampu meraih pendapatan lebih dari Rp1 miliar per pekan melalui penjualan online. Meski begitu, ia menekankan capaian tersebut tidak merata di seluruh pelaku usaha.

“Yang sukses memang besar, tapi banyak juga yang biasa saja. Meski begitu, Lebaran tetap jadi ajang jualan paling serius karena budaya seragaman itu benar-benar berdampak ke ekonomi,” katanya.

Strategi Jualan Dimulai Sejak Jauh Hari

Melihat potensi besar tersebut, promosi dan persiapan koleksi Lebaran dilakukan jauh hari sebelumnya. Untuk brand yang menggunakan sistem reseller, bocoran atau spill koleksi bahkan sudah dilakukan sejak akhir tahun sebelumnya guna membangun antusiasme pasar.

“Reseller biasanya sudah spill baju Lebaran dari akhir tahun lalu,” ujar Franka.

Dengan tren binor yang diprediksi masih bertahan hingga puncak arus mudik Lebaran 2026, pelaku industri modest fashion diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara mengikuti tren dan menciptakan desain yang lebih berkelanjutan, agar tidak hanya laku musiman, tetapi juga relevan untuk jangka panjang.