Bitcoin Tertekan Data Tenaga Kerja AS, CPI Jadi Penentu Arah Suku Bunga The Fed

Bitcoin Tertekan Data Tenaga Kerja AS, CPI Jadi Penentu Arah Suku Bunga The Fed

Harga Bitcoin kembali menghadapi tekanan setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan kondisi pasar kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Bitcoin sempat turun ke level US$78.660 pada 4 September, meski kemudian pulih dan kembali bergerak di sekitar US$80.000.

Data pekerjaan AS tersebut mengurangi alasan bagi Federal Reserve (The Fed) untuk segera menurunkan atau mempertahankan suku bunga hanya karena kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi AS dan nilai dolar Amerika Serikat menguat. Kondisi ini membuat lingkungan pasar keuangan menjadi lebih ketat bagi Bitcoin yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.

Data Tenaga Kerja AS Tunjukkan Pasar Kerja Masih Kuat

Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan nonfarm payrolls bertambah 162.000 pekerjaan pada Agustus.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan pekerjaan bulanan dalam 12 bulan sebelumnya yang hanya mencapai sekitar 31.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran secara terpisah tercatat tetap berada di 4,1%.

BLS juga merevisi data sebelumnya. Pertumbuhan pekerjaan pada Juni dinaikkan menjadi 31.000, sedangkan pertumbuhan Juli menjadi 21.000. Secara keseluruhan, revisi tersebut menambah 55.000 pekerjaan dibandingkan estimasi sebelumnya.

Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup solid, meskipun beberapa sektor mulai menunjukkan perlambatan.

Upah AS Naik 3,1% Secara Tahunan

Selain jumlah pekerjaan, pertumbuhan upah juga menjadi perhatian The Fed.

Rata-rata pendapatan per jam pekerja sektor swasta nonpertanian meningkat 0,3% pada Agustus menjadi US$37,75. Secara tahunan, upah naik 3,1%.

Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan tambahan sekitar 59.000 pekerjaan. Sementara itu, sektor pendidikan pemerintah daerah menambah 42.000 pekerjaan.

Di sisi lain, lapangan kerja sektor informasi berkurang 23.000. Pertumbuhan pekerjaan di sektor kesehatan juga melambat menjadi 13.000, jauh di bawah rata-rata bulanan 32.000 dalam setahun terakhir.

Artinya, kondisi pasar kerja AS belum menunjukkan tanda-tanda ekonomi mengalami overheating secara menyeluruh. Namun, data tersebut cukup untuk mengurangi tekanan kepada The Fed agar segera melonggarkan kebijakan moneter.

Imbal Hasil Treasury dan Dolar AS Menguat

Setelah laporan pekerjaan dirilis, pasar obligasi AS turut merespons.

Imbal hasil Treasury AS bertenor dua tahun berada di sekitar 4,40%, naik dari sedikit di atas 4,33%. Sementara imbal hasil Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,80%, meningkat dari kurang dari 4,75%.

Indeks dolar AS juga menguat. Wall Street Journal melaporkan indeks dolar sempat menyentuh 99,932, dibandingkan sekitar 99,035 sebelum data tenaga kerja dirilis.

Kenaikan imbal hasil obligasi dan dolar AS menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor Bitcoin. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, aset berisiko seperti cryptocurrency dapat menghadapi tekanan karena investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.

The Fed Kini Lebih Fokus pada Inflasi

Data tenaga kerja yang lebih kuat membuat keputusan The Fed mengenai suku bunga September semakin bergantung pada perkembangan inflasi.

Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya mengatakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja saat ini relatif memuaskan dan stabil. Menurutnya, data inflasi Agustus akan menjadi faktor penting dalam menentukan sikapnya terhadap kebijakan suku bunga pada September.

Waller menyebut kemajuan berkelanjutan menuju target inflasi The Fed sebesar 2% dapat membuatnya mendukung mempertahankan suku bunga.

Sebaliknya, jika inflasi kembali meningkat atau proses penurunan inflasi terhenti, kemungkinan kebijakan yang lebih ketat dapat kembali dipertimbangkan.

Meski pandangan Waller tidak mewakili seluruh anggota Federal Open Market Committee (FOMC), pernyataannya memberikan gambaran mengenai bagaimana sebagian pejabat The Fed melihat keseimbangan antara inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Data CPI AS Jadi Fokus Bitcoin Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus.

BLS dijadwalkan merilis data CPI pada 11 September pukul 08.30 waktu AS. Setelah itu, The Fed akan menggelar pertemuan FOMC pada 15-16 September, dengan keputusan suku bunga dijadwalkan pada 16 September.

Dengan jarak hanya beberapa hari, data CPI akan menjadi salah satu indikator ekonomi penting terakhir sebelum keputusan The Fed.

Bagi investor Bitcoin, rilis CPI tersebut berpotensi menjadi pemicu volatilitas berikutnya.

Jika inflasi AS menunjukkan penurunan yang lebih kuat, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga dapat kembali mendapat dukungan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan dari kenaikan imbal hasil Treasury dan dolar AS.

Sebaliknya, jika inflasi kembali panas, pasar dapat memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Situasi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga Bitcoin.

Bitcoin Masih Menunggu Sinyal dari The Fed

Bitcoin sebelumnya berhasil menembus level US$80.000, tetapi kembali turun setelah data tenaga kerja AS dirilis.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kondisi makroekonomi masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah Bitcoin dalam jangka pendek.

Data pekerjaan AS yang kuat telah mengurangi alasan bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan berdasarkan kekhawatiran pasar tenaga kerja. Karena itu, perhatian investor kini semakin tertuju pada inflasi.

Bagi pasar crypto, 11 September dapat menjadi tanggal penting sebelum keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.

Jika data CPI lebih rendah dari perkiraan, Bitcoin berpeluang mendapatkan ruang untuk kembali menguat. Namun, apabila inflasi menunjukkan tekanan yang lebih tinggi, Bitcoin dapat menghadapi tekanan dari kombinasi pasar tenaga kerja yang kuat, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan dolar AS yang menguat.

Dengan demikian, arah Bitcoin pada September tidak hanya ditentukan oleh level US$80.000, tetapi juga oleh bagaimana pasar membaca data inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed.