Harga Bitcoin Turun 3% ke US$78.900, Data Tenaga Kerja AS Jadi Tekanan
Harga Bitcoin (BTC) turun hampir 3% dalam waktu sekitar dua jam pada Jumat, 4 September 2026. Pelemahan terjadi setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga meningkatkan ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Bitcoin turun dari sekitar US$81.340 menjadi US$78.915, atau melemah 2,98%. Pergerakan tersebut terjadi setelah rilis data tenaga kerja AS yang membuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed menjadi lebih kecil.
Pasar kini juga mulai mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.
Meski demikian, penurunan Bitcoin belum menghapus tren positif yang telah terbentuk selama sekitar tiga pekan terakhir.
Keputusan The Fed Jadi Perhatian Pasar Bitcoin
Pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan kemungkinan sangat dipengaruhi keputusan The Fed pada September.
Investor akan mencermati apakah bank sentral AS akan memangkas suku bunga, mempertahankan suku bunga, atau memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat.
Selain kebijakan The Fed, pasar kripto juga menantikan perkembangan Clarity Act. Pemungutan suara yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada pertengahan September berpotensi mundur hingga November setelah pimpinan DPR AS membatalkan agenda pada dua pekan terakhir September.
Ketidakpastian tersebut dapat membuat pergerakan harga Bitcoin menjadi lebih volatil.
Bitcoin Menghadapi Risiko Profit Taking
Di tengah ketidakpastian pasar, Bitcoin juga mulai mendekati zona suplai jangka panjang yang penting di sekitar US$82.000.
Level tersebut terakhir kali disentuh pada Mei dan saat itu memicu aksi jual yang cukup kuat. Karena itu, area US$82.000 menjadi salah satu resistance penting yang perlu diperhatikan investor.
Data on-chain juga menunjukkan adanya potensi aksi ambil untung dari pemegang Bitcoin dalam jangka menengah.
Indikator 6-month holder MVRV berada di level 13,10%. MVRV yang tinggi menunjukkan bahwa pemegang Bitcoin selama sekitar 180 hari secara rata-rata masih berada dalam posisi keuntungan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan sebagian investor menjual Bitcoin untuk merealisasikan keuntungan.
Pemegang Bitcoin Jangka Menengah Mulai Distribusi
Indikator 180-day mean coin age juga terus mengalami penurunan sejak Mei. Pergerakan ini dapat menjadi tanda adanya distribusi dari pemegang Bitcoin jangka menengah.
Dengan kata lain, sebagian investor yang telah memegang Bitcoin selama beberapa bulan mulai berpotensi mengurangi kepemilikannya.
Namun, tekanan jual belum terlihat berasal dari seluruh kelompok investor.
Sirkulasi Bitcoin yang tidak aktif selama sekitar dua tahun masih relatif tenang. Hal ini menunjukkan bahwa pemegang jangka panjang belum melakukan aksi jual dalam jumlah besar.
Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menahan tekanan jual Bitcoin dalam jangka panjang.
Likuiditas Pasar Bitcoin Mulai Menjadi Risiko
Selain aksi profit taking, kondisi likuiditas juga menjadi perhatian.
Dalam analisis yang dipublikasikan melalui CryptoQuant Insights, XWIN Japan menunjukkan bahwa rasio stablecoin terhadap Bitcoin di bursa Binance telah mencapai level tertinggi sepanjang 2026.
Indikator tersebut membandingkan cadangan Bitcoin dengan cadangan stablecoin di bursa. Kenaikan rasio menunjukkan bahwa pasokan Bitcoin relatif lebih dominan dibandingkan stablecoin yang tersedia.
Kondisi ini penting karena stablecoin sering digunakan sebagai likuiditas untuk membeli aset kripto.
Jika jumlah dana yang siap digunakan untuk membeli Bitcoin berkurang, kemampuan pasar untuk mendorong harga melewati resistance utama juga dapat ikut melemah.
Bitcoin Perlu Tembus US$82.000
Bitcoin saat ini berada dalam posisi yang cukup penting. Di satu sisi, tren harga dalam tiga pekan terakhir masih menunjukkan momentum positif.
Namun, di sisi lain, Bitcoin menghadapi resistance kuat di sekitar US$82.000, potensi aksi profit taking, serta kondisi likuiditas yang perlu diperhatikan.
Indikator on-chain juga belum memberikan konfirmasi kuat bahwa Bitcoin telah memasuki fase bullish baru.
Agar momentum kenaikan berlanjut, pasar membutuhkan akumulasi dan permintaan baru yang berkelanjutan. Jika tekanan jual meningkat sementara permintaan melemah, Bitcoin berisiko kembali mengalami koreksi setelah gagal menembus US$82.000.
Dengan demikian, level US$82.000 menjadi area penting yang perlu dipantau investor Bitcoin dalam waktu dekat, bersamaan dengan perkembangan kebijakan The Fed dan regulasi kripto di Amerika Serikat.
0 Comments