Harga Ethereum Turun 6% ke US$2.350, Likuidasi Long Binance Tembus US$106 Juta

Harga Ethereum Turun 6% ke US$2.350, Likuidasi Long Binance Tembus US$106 Juta

Harga Ethereum (ETH) turun hampir 6% ke kisaran US$2.350 pada Kamis (15/10/2026). Pelemahan ini terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) melampaui ekspektasi pasar, memicu aksi jual besar-besaran dan likuidasi posisi long ETH senilai lebih dari US$106 juta di Binance dalam satu jam.

Analis CryptoQuant, Darkfost, melaporkan bahwa likuidasi tersebut terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk September. Menurutnya, peristiwa ini menjadi likuidasi posisi long Ethereum terbesar dalam satu jam di Binance selama enam bulan terakhir.

Tekanan jual meningkat karena investor mengkhawatirkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut turut mendorong trader untuk mengurangi risiko, terutama mereka yang menggunakan leverage dalam perdagangan kripto.

Harga Ethereum Turun Setelah Inflasi AS Melampaui Ekspektasi

Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, harga Ethereum turun dari sekitar US$2.500 menjadi US$2.350 setelah pengumuman inflasi AS. Darkfost memperkirakan koreksi harga mencapai sekitar 7% selama periode yang dianalisisnya.

Sementara itu, data CoinGecko menunjukkan ETH melemah 5,99% dalam 24 jam dan turun 8,31% dalam tujuh hari. Kapitalisasi pasar Ethereum tercatat sekitar US$286,9 miliar, dengan volume perdagangan harian mencapai US$18,37 miliar.

Ethereum juga sempat diperdagangkan di sekitar US$2.315, yang disebut sebagai level terendah sejak pemulihan harga pada Agustus.

Penurunan ini memicu likuidasi posisi long, yaitu perdagangan yang bertaruh bahwa harga aset akan naik. Ketika harga bergerak berlawanan dengan prediksi trader, nilai jaminan dapat menyusut hingga bursa menutup posisi secara otomatis.

Perlu dipahami bahwa angka likuidasi US$106 juta menunjukkan nilai posisi perdagangan yang ditutup, bukan berarti setiap trader kehilangan uang tunai sebesar nilai tersebut.

Darkfost juga mencatat bahwa volume perdagangan derivatif Ethereum mencapai sekitar sembilan kali volume perdagangan spot dalam periode yang diamatinya. Besarnya aktivitas derivatif dapat membuat pasar lebih sensitif terhadap perubahan harga, terutama ketika banyak trader menggunakan leverage.

Inflasi AS Meningkat, Ekspektasi Suku Bunga The Fed Berubah

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS) melaporkan bahwa CPI meningkat 0,6% secara bulanan pada September, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.

Angka tersebut juga melampaui perkiraan ekonom yang berada di sekitar 0,5%. Secara tahunan, inflasi AS mencapai 3,7%, naik dari 3,4% pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, inflasi inti atau core CPI, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, meningkat 2,6% secara tahunan, dibandingkan 2,4% pada periode sebelumnya.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi. Harga bensin meningkat 9,1% pada September dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI bulanan. Dalam setahun, harga bensin naik 34,2%, sedangkan harga minyak pemanas meningkat 74,2%.

Data tersebut membuat investor kembali mempertimbangkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS. Darkfost memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga yang tercermin dalam ekspektasi pasar meningkat dari sekitar 17% menjadi hampir 30% dalam sepekan.

Namun, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan penilaian pasar, bukan keputusan resmi The Fed.

Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan mengurangi minat terhadap aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Dampaknya dapat semakin besar ketika pasar dipenuhi posisi perdagangan dengan leverage.

Arus Keluar ETF Ethereum Menambah Tekanan Pasar

Pelemahan harga Ethereum juga terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap arus dana produk investasi kripto.

Setelah ETF Ethereum spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk sekitar US$24,8 juta pada 13 Oktober, data yang tersedia menunjukkan perubahan menjadi arus keluar pada sesi perdagangan berikutnya.

Berdasarkan data SoSoValue, ETF Ethereum spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$130 juta pada 14 Oktober. Produk iShares Ethereum Trust (ETHA) milik BlackRock menyumbang sekitar US$110 juta dari penarikan tersebut.

Sebelumnya, produk investasi kripto AS yang dipantau dalam laporan terkait juga mencatat arus keluar gabungan sekitar US$1,29 miliar selama periode 5–9 Oktober.

Arus keluar ETF dapat menjadi salah satu indikator perubahan permintaan investor terhadap produk investasi Ethereum. Meski demikian, data tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa seluruh penarikan dana menjadi penyebab penurunan harga ETH.

Di pasar derivatif, sejumlah trader juga dilaporkan meningkatkan posisi short, yaitu posisi yang berpotensi menghasilkan keuntungan ketika harga turun.

Analis kripto Daan Crypto Trades menyebut posisi short meningkat ketika Ethereum bergerak melemah setelah pengumuman inflasi. Sementara itu, akun pemantau blockchain Onchain Lens melaporkan posisi short senilai sekitar US$75 juta yang dikaitkan dengan market maker Wintermute di platform derivatif terdesentralisasi Hyperliquid.

Data tersebut merupakan gambaran posisi pada waktu tertentu dan dapat berubah ketika pelaku pasar menyesuaikan strategi perdagangan mereka.

Analisis Teknikal Ethereum: Level US$2.300 Jadi Support Penting

Secara teknikal, Ethereum masih menghadapi tekanan jual ketika mendekati area US$2.300.

Berdasarkan grafik harian yang digunakan dalam analisis tersebut, ETH diperdagangkan di sekitar US$2.354,50, sedikit di bawah lower Bollinger Band pada US$2.362,90.

Bollinger Bands merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur volatilitas harga berdasarkan pergerakan rata-rata dalam periode tertentu. Harga yang berada di bawah pita bawah menunjukkan tekanan harga yang kuat, tetapi tidak otomatis menandakan bahwa harga akan segera pulih.

Garis tengah Bollinger Bands berada di sekitar US$2.595,40, sedangkan garis atasnya berada di sekitar US$2.828. Jarak antarpita yang lebar menunjukkan volatilitas harga yang meningkat selama periode pengamatan.

Indikator Relative Strength Index (RSI) Ethereum tercatat sebesar 33,91, di bawah level netral 50 dan rata-rata RSI sebesar 47,42. Angka tersebut menunjukkan momentum harga yang masih lemah dan mendekati area jenuh jual atau oversold, yang secara umum berada di bawah level 30.

Meski demikian, RSI yang mendekati area oversold tidak menjamin harga akan segera berbalik naik. Ethereum masih berpotensi mengalami tekanan jual lanjutan jika sentimen pasar memburuk.

Dalam jangka pendek, area US$2.300 menjadi level support yang perlu diperhatikan. Jika ETH menembus level tersebut secara berkelanjutan, risiko penurunan lanjutan dapat meningkat.

Sebaliknya, jika harga mampu kembali melewati US$2.363, level tersebut dapat menjadi acuan awal pemulihan. Apabila momentum positif berlanjut, area US$2.595 menjadi level teknikal berikutnya yang perlu diamati.

Prospek Harga Ethereum Masih Bergantung pada Inflasi dan Kebijakan The Fed

Pergerakan Ethereum selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, arus dana ETF, serta kondisi pasar derivatif.

Inflasi yang tetap tinggi dapat memperkuat kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi menekan aset berisiko dan meningkatkan volatilitas pasar kripto.

Di sisi lain, berkurangnya tekanan likuidasi dan membaiknya sentimen investor dapat membantu menstabilkan harga Ethereum. Namun, pemulihan tetap membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga dan volume perdagangan.

Dengan harga yang mendekati US$2.300, trader perlu memperhatikan kemampuan ETH mempertahankan support tersebut. Untuk investor, penting untuk tidak hanya mengandalkan indikator teknikal atau satu laporan ekonomi ketika mengambil keputusan.

Kesimpulan: Harga Ethereum turun hampir 6% setelah inflasi AS melampaui ekspektasi dan memicu likuidasi posisi long senilai lebih dari US$106 juta di Binance dalam satu jam. Tekanan dari arus keluar ETF dan meningkatnya aktivitas posisi short turut menjadi perhatian pasar. Level US$2.300 kini menjadi area penting yang dapat menentukan arah pergerakan ETH berikutnya.