Harga Minyak WTI Melonjak 3% ke US$97,97 per Barel, Ketegangan Selat Hormuz Memanas

Harga Minyak WTI Melonjak 3% ke US$97,97 per Barel, Ketegangan Selat Hormuz Memanas

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 3% ke US$97,97 per barel pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global setelah serangkaian serangan kapal di sekitar Selat Hormuz meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip CNBC pada Jumat (16/10/2026), kontrak minyak WTI untuk pengiriman November naik US$2,88 atau sekitar 3% menjadi US$97,97 per barel. Sebaliknya, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 14 sen menjadi US$105,92 per barel.

Perbedaan pergerakan kedua acuan minyak tersebut menunjukkan bahwa pasar masih merespons berbagai faktor, mulai dari risiko geopolitik hingga kondisi pasokan dan permintaan energi global.

Serangan di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak AS. Jalur perairan strategis tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia.

Kekhawatiran meningkat setelah sebuah kapal berbendera Singapura dilaporkan tenggelam di kawasan tersebut. Otoritas maritim Singapura mengecam serangan itu dan menyebutnya tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, serta melanggar hukum internasional.

Pejabat maritim juga melaporkan tenggelamnya sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut curah kering di dekat Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam.

Situasi tersebut menambah risiko terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi. Jika gangguan berlangsung lebih lama, biaya pengiriman dan asuransi kapal berpotensi meningkat, sehingga menambah tekanan terhadap harga minyak.

Iran juga meningkatkan ketegangan melalui pernyataan mengenai kemungkinan serangan terhadap kapal perang AS. Teheran menyebut peningkatan serangan di sekitar jalur perairan tersebut sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya dan pengetatan sanksi.

Di sisi lain, CNN melaporkan bahwa militer AS tengah menyusun opsi serangan baru terhadap Iran, termasuk penggunaan bom konvensional berkekuatan besar. Perkembangan ini menambah ketidakpastian mengenai kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

Stok Minyak Mentah AS Turun 8 Juta Barel

Selain faktor geopolitik, penurunan persediaan minyak mentah AS turut menopang harga WTI.

Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah nasional turun 8 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober 2026.

Sebelumnya, estimasi American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan persediaan yang lebih besar, yakni 11,1 juta barel. Data API juga mengindikasikan stok bahan bakar distilat turun, sementara persediaan bensin meningkat.

Penurunan stok minyak mentah dapat memperkuat harga karena menunjukkan berkurangnya persediaan yang tersedia di pasar. Namun, dampaknya tetap bergantung pada tingkat konsumsi, produksi, dan perkembangan pasokan global.

AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Kapal Armada Bayangan

Di tengah kenaikan harga minyak, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang tergolong shadow fleet atau armada bayangan.

Menurut laporan Reuters, kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan produk minyak bumi dari Rusia serta sejumlah negara lain. Washington mempertimbangkan kemungkinan mengizinkan pengiriman minyak yang dinilai legal melalui kapal yang sebelumnya terkena sanksi.

Langkah tersebut bertujuan membantu menambah pasokan di pasar dan meredam kenaikan harga energi. Namun, rencana itu masih dalam tahap pertimbangan sehingga dampaknya terhadap harga minyak belum dapat dipastikan.

Perang Iran juga mendorong biaya pengangkutan minyak meningkat tajam. Kondisi ini memperbesar tekanan terhadap rantai pasokan energi, terutama jika jalur pelayaran utama masih menghadapi risiko keamanan.

IEA Peringatkan Pasokan Solar Berpotensi Terbatas

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan bahwa keterbatasan pasokan solar berpotensi berlanjut hingga 2027.

Dalam laporan Oktober, IEA menyoroti risiko terhadap pemulihan pasokan minyak akibat serangan baru di Arab Saudi. Serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco yang dilaporkan oleh kelompok Houthi turut meningkatkan kekhawatiran pasar.

Sementara itu, produksi minyak mentah Rusia tercatat naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah 870.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut IEA.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa tambahan produksi dari sejumlah negara belum tentu cukup untuk sepenuhnya mengimbangi risiko gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.

Pelepasan Cadangan Darurat Menahan Kenaikan Harga

Di tengah ketegangan geopolitik, pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara anggota IEA menjadi salah satu faktor penyangga pasar.

Head of Business ICM, Firas Bechwaty, menilai minimnya kemajuan diplomatik antara AS dan Iran membuat peluang pembukaan kembali jalur perairan secara penuh dalam waktu dekat masih terbatas.

Namun, menurut Bechwaty, minyak mentah Arab Saudi masih dapat menjangkau pembeli internasional melalui jalur alternatif. Percepatan pelepasan cadangan darurat juga membantu menjaga ketersediaan pasokan.

Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai dapat menahan lonjakan harga yang lebih tajam, meskipun ketegangan geopolitik masih tinggi.

Prospek Harga Minyak Masih Dibayangi Risiko Geopolitik

Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, dan kemampuan produsen mempertahankan pasokan ke pasar internasional.

Jika serangan terhadap kapal terus berlanjut dan distribusi minyak terganggu, harga minyak berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, kemajuan diplomatik, tambahan pasokan, pelonggaran sanksi, dan pelepasan cadangan darurat dapat membantu meredakan tekanan.

Kenaikan harga WTI ke US$97,97 per barel memperlihatkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor penting bagi pasar energi global. Meski demikian, arah harga selanjutnya tetap akan ditentukan oleh keseimbangan antara risiko gangguan pasokan dan upaya menjaga ketersediaan minyak dunia.